Friday, 17 June 2016

Kong Hu Cu – Kongfusianisme – Pendukung dan Pengeritik Pada Zaman Pra-Dinasti Qin 551 – 221 SM
Jilid III

( 3 )


Apakah Gagasan Daoisme ‘Tidak Berbuat’ serta Tekateki ‘Tidak berbuat’ itu? 无为& 无为之谜

Di tulisan lalu telah dibahas tentang pertentangan Konfusianis dan Daois, dimana dengan fokus utama pada tokoh Daoisme periode pertama Yangzhu. Dalam tulisan ini akan kita bahas Doaisme Periode kedua dan ketiga yang diwakili oleh Laozi老子 dan Zhuangzi庄子. Laozi dan Zhuangzi masa hidupnya terpaut ratusan tahun, namun gagasan dan pandangan kedua tokoh ini saling bersinambungan, sehingga kemudian orang menyebutnya ‘Filsafat Lao-Zhuang’ (老庄哲学Laozhuang zhexue). 

Mereka berdua dalam menghadapi kekacauan masyarakat kala itu, mengusulkan dengan resep ‘Tidak Berbuat/Acuh 无为wu wei’, dan ini menjadi inti pemikiran kaum Daois dalam mengatasi masalah masyarakat kala itu.  Kemudian apakah kiranya ‘Tidak Berbuat/Acuh’ itu ? Dan apa arti yang terkandung didalamnya? Marilah kita bahas dibawah ini.

Menurut penilaian Daois keadaan kala itu mengapa menjadi kacau balau, dikarenakan kaum penguasa bertindak berlebihan (membabi buta). ‘Banyak Peraturan Yang Sia-sia’ dan tidak tepat atau ‘Terlalu banyak mengatur, tapi tidak ada hasil” (瞎折腾xia zhe teng), rakyat juga bertindak berlebihan, sehingga keadaan masyarakat menjadi rusak’.

Masalah ini terjadi, menurut kaum Daois dikarenakan semua mengharapkan mendapatkan lebih (多欲望duo yu wang). Laozi mengatakan karena kemauan orang itu sudah terlalu banyak dan berlebihan, sehingga tidak dapat terpuaskan, karena tidak mendapatkan kepuasan maka timbulah kekacauan. Jadi semua mala-petaka dan kekacauan disebabkan karena terjadi ketidak puasan.  (罪莫大于多欲  祸莫大于不知足《老子  第四十六章》zui mo da yu duo yu, huo mo da yu bu zhi zu).

Zhunagzi juga mengatakan bahwa idealisme orang itu ada dua, yaitu ada yang cari nama dan cari keuntungan. Negara kecil selalu dianeksasi dan direbut karena sangat menguntungkan. Para pejabat yang baik  dibunuh karena sudah kesohor dan terkenal.

Maka dari itu Zhuangzi mengajurkan untuk melakukan empat larangan atau “Empat Jangan” : 
Pertama jangan ingin ternama, karena tidak ada faedahnya, dengan ternama maka akan hilang kebebasannya.
Kedua jangan sok pinter atau menunjukan kepintarannya, jika sudah menjadi pusat perhatian, ini akan tidak membawa kebaikan, karena jika pendapatnya bagus dipuji, jika pendapatnya tidak baik akan dibenci. 
Ketiga jangan menerima beban jabatan yang berat. Jabatan makin tinggi maka tanggung jawabnya juga makin besar, jika terlalu berat akhirnya tidak mampu menanggung beban tanggungjawabnya. 
Keempat jangan sok pintar atau coba memainkan kepintarannya, kepandaian tidak perlu dipamerkan, jika kemana-mana menyombongkan diri seolah-olah pintar, bisa-bisa akhirnya berakibat jiwanya terancam dan melayang.  (无为名尸  无为谋付  无为事任  无为知主  《庄子 应帝王》 Wu wei ming shi , wu wei mou fu , wu wei shi ren, wu wei zhi zhu).

Laozi mengatakan seseorang jika terpaksa harus menjadi pejabat atau pimpinan negara, harusnya bagaimana? Beliau memberi petunjuk dengan 9 kata dalam aksara Mandarin: (为无为   事无事   味无味  《老子 第六十三章》wei wu wei , shi wu shi, wei wu wei (wei= menuntut; mengharap; = gerakan ; = rasa keberhasilan).  

Ini berarti harus dengan ‘tidak mengharapkan untuk dijadikan suatu harapan’, dengan ‘tidak bergerak dijadikan suatu gerakan’, ‘dengan tanpa rasa akan berhasil untuk meraih suatu keberhasilan’.



jing = Statis atau tidak berubah-ubah
xu   = Wajar atau tidak melawan arus
dan = Hampa atau Murni, tidak tercampur dan terpengaruh dengan hal lain dari luar
(静、虚、淡来颐养,提出静是一而不变,虚是无所于忤,淡是不与物交的修为方式,将静、虚、淡有机地联系起来,这与其纯粹而不杂,静一而不变,淡而无为,动而以天行,此养神之道也是相一致的。Jin, xi, dan lai yi yang, di chu jing shi”yi er bu bian”, “xi shi”wu shuo yi wu, dan shi”bu yu wu jiao” de xiu wei fang shi, jiang jing, xi, dan you ji di lian xi qi lai, zhe yu qi “chun cui er bu za, jing yi er bu bian, dan er wuwei, dong er yi tian xing, zhe yang sheng zhi dao ye”shi xiang yi zhi de.)      

Maka kesimpulannya : xu à  jing à  dan =  Sirkulasi kejiwaan manusia, seorang yang mempunyai keinginan maka akan ada gerakan atau usaha untuk mencapai keinginannya, tapi dilakukan dengan kewajaran. Jika berhasil atau tercapai keinginannya maka timbul rasa kepuasan atas keberhasilan.

Yang dimaksud ‘Tidak Berbuat’ (无为) wu wei adalah menghilangkan semua rasa keinginan, rasa keberhasilan dan rasa kepuasan. Atau dapat disebut ‘Pati Rasa’(“Mematikan Rasa”) dan berlaku wajar, biarlah semua berkembang apa adanya sesuai hukum alam.    

Inilah salah satu usulan Laozi . Pada umumnya orang mengartikan ‘Pati Rasa’nya Laozi tidak berbuat apa-apa atau alias diam saja atau berdiam diri tidak berkerja. Beliau tidak saja mengusulkan tidak berbuat, tapi bahkan mengusulkan untuk menghilangkan pokok pangkal sumber rasa terakhirnya yaitu ‘Rasa Keberhasilan’ atau ‘Rasa Kepuasan’. Karena seperti diketahui seseorang yang berusaha atau ber-upaya untuk memiliki sesuatu atau mencapai sesuatu pasti banyak sebab dan tujuannya. Tidak mesti karena mencari nama atau keuntungan, ada banyak juga yang bekerja atau berusaha tidak untuk cari nama dan kepopuleran atau keuntungan.

Kemudian orang yang bekerja tanpa mengharapkan kepopuleran dan keuntungan tujuan untuk apa? Tidak lain adalah ‘Rasa Kepuasan’ atau ‘Rasa Keberhasilan’. Ini hanya untuk mewujudkan harga dirinya. Maka Laozi mengusulkan untuk mencabut akar-akar perasaan ini.  Inilah yang dimaksud Laozi dengan : ‘Pasif atau Acuh Tak Berbuat’(消极无为 xiao ji wu wei)

Kemudian timbul pertanyaan, apakah usulan ini benar atau salah? Ini akan tergantung dari sikonnya ( situasi dan kondisi). Tidak bisa dikatakan bahwa ‘Pasif atau Acuh Tak berbuat’ itu tidak baik, karena ‘Bersemangat dan Acuh’ seharusnya dibuat setara. Dalam konteks ini harus dilihat pada masalahnya dan orangnya, kadangkala ada orang yang harus bersemangat dan ada juga yang harus “acuh”.

Demikian juga dengan suatu permasalahan, ada yang harus diatasi dengan semangat, ada juga harus diacuhkan. Misalnya dalam masalah pembangunan “Tata Kota”, kadang harus ada yang “diacuhkan”, berarti ada situs-situs yang tidak boleh diutak-utik dan harus didiamkan. Contohnya, tata ruang saluran air yang sudah ada dan baik tidak boleh diutak-utik, daerah jalur hijau jangan disentuh, bangunan kuno dan antik serta bersejarah tidak boleh didemolis atau dibongkar, juga tempat tertentu sebagai lapangan terbuka yang harus dikosongkan, juga tidak boleh dibangun. Masalahnya bukannya semua harus dihancurkan dan dibangun yang baru dengan semangat yang berkobar-kobar...... Tidak semua yang dilakukan dengan semangat berkobar-kobar itu akan selalu baik, kadangkala dengan tidak dirubah justru indah dan baik, semuanya tergantung akan sikonnya.

Sikonnya itu apa? Tidak lain adalah analisa ilmiah.... Jelas pada zaman Laozi ilmiah belum berkembang seperti sekarang, maka untuk masa kini kita harus menganalisa di titik mana ‘Tidak Berbuat/Acuh’ harus ditentang, dan dimana harus disetujui. Demikian juga tidak bisa seperti mereka yang menekankan, bahwa harus total ‘Tidak berbuat/Acuh’ .    Masalahnya kenapa Laozi dan Zhuangzi sangat menekankan pada usulannya untuk ’Tidak Berbuat/Acuh’? Mengapa harus bersikap ‘tidak mengharapkan’ menjadikan suatu harapan, dengan ‘tidak bergerak’ dijadikan suatu gerakan, dengan tanpa ‘merasa akan keberhasilan’ dijadikan suatu keberhasilan. Seperti yang telah disebut diatas.

Alasannya ada dua masalah yang dikemukankan oleh Laozi secara dialektika dengan hukum logika: *5 “ Berlakulah wajar sesuai hukum alam ; Budi yang luhur terlihat kosong ; Yang Putih bersih terlihat seperti ternoda ; Berlakulah sesuai instuisi dan natural ; Yang besar ditanggapi seperti tiada ; Masalah besar ditanggapi seperti masalah kecil; Yang terasa pahit dianggap tiada rasa.
明道若昧  进道若退ming dao ruo mei, jing dao ruo tui.
(老子《道德经》四十一章 上士闻道)
上德若谷  大白若辱 shang de ruo gu, da bai ruo ru.
大为无为  大事无事 da wei wu wei, da shi wu shi, 
 大味无味da wei wu wei
(老子《道德经·63章》)

Yang berpengertian bahwa “ Hal yang mudah dimengerti kadang terlihat seperti sulit, malah membuat orang yang akan maju justru mundur. Petunjuk atau teori-teori yang detail justru sulit untuk dipraktekkan. Budi yang luhur justru terlihat tidak ada apa-apanya, karena yang bersangkutan berlaku wajar dan rendah hati, sekalipun terhadap orang yang menyakitinya tetap dihadapi secara sikap budiman. Warna yang benar-benar putih bisa terlihat seperti ternoda dengan warna lain. Karya agung biasanya akan terselesaikan dengan sangat lambat. Hukum alam itu tidak terlihat tapi terwujud disekeliling kita, semua yang ada dialam ini akan berkembang menurut hukum alam.   Melihat dan menghadapi hal yang besar haruslah jangan terkesimak, berlakulah wajar untuk menghadapinya, dan anggap saja biasa-biasa saja seperti tidak ada apa-apa, demikian juga dalam menghadapi permasalahan besar anggap saja seperti menghadapi masalah kecil, tapi tidak meremehkannya. Menyelesaikan masalah harus dimulai dari yang terkecil dan termudah, kemudian menapak terus kepada yang besar dan sulit, akhirnya terselesaikan secara wajar dan alamiah. Menghadapi hal-hal yang ter-rasa pahit anggap saja dengan tiada rasa”

Selain itu Laozi dan Zhuangzi mengangap bahwa ‘Proaktif’ (有为you wei) itu dilatar belakangi dengan “ingin mendapatkan lebih”. Orang kenapa proaktif karena ingin mendapatkan lebih, jika kaum yang diatas (penguasa) ingin mendapatkan lebih, maka kaum yang dibawah akan menjadi “maling”. Jika penguasa banyak yang berpengharapan untuk mendapatkan lebih, rakyat juga banyak yang berpengharapan untuk dapat lebih, akhirnya seluruh negara saling berebut, akibatnya keadaan jadi kacau.

Maka Laozi dan Zhuangzi mengusulkan untuk menghilangkan perasaan dan ambisi untuk ingin dapat lebih.  Laozi mengatakan : “Banyak pilihan membuat orang bermata gelap (berkeinginan untuk memiliki), musik yang terlalu nyaring dan berisik tidak enak didengar; makanan yang enak-enak disajikan terus menerus akan membuat kita hilang selera; pergi menunggang kuda berburu membuat hati berdebar-debar, semangat menjadi mengebuh-ngebuh, barang langka bisa memancing para garong untuk merampoknya.  
(五色令人目盲   五音令人耳聋   五味令人口爽   驰骋畋猎令人必发狂  难得之货令行妨《老子第12章》wu se ling ren mu mang, wu yin ling ren er long, chi cheng tian lie ling ren bi fa kuang, nan de zhi huo ling ren xing fang).

Menurutnya barang-barang seni yang langka dan indah; baju indah; lukisan indah, semua barang cantik, orang cantik, membuat orang menjadi buta, musik yang indah dan keras membuat orang menjadi tuli, musik rock n’roll, musik metal dan yang sejenisnya mebuat orang jadi bising.

Setiap hari makan makanan yang enak-enak akhirnya menjadi bosan tidak berselera, makan apapun jadi hambar tidak enak. Setiap hari berburu atau ngebut dengan mobil mewah akhirnya akan menjadi gila. Barang berharga dan langka yang dipamerkan memancing maling. Maka barang-barang semacam ini tidak perlu untuk dimaui, lebih-lebih para penguasa dan pimpinan negara tidak boleh punya rasa keinginan seperti ini.  

Laozi lebih lanjut mengatakan : ‘Para pimpinan dan penguasa harus menjadi tauladan untuk berhati bersih tidak berkeinginan atau berambisi untuk ingin mendapatkan lebih. Jika pimpinan dan penguasa berbuat demikian, untuk memberi contoh kepada rakyat dan masyarakat, maka rakyat dan masyarakat juga akan mengikutinya. Semua hidup sederhana dan bersahaja maka keadaan akan tenang, sehingga suasana jadi damai.....
(我无为  而民自化   我好静   而民自正   我无事   而民自富   我无欲  而民自朴《老子第57章》wo wu wei, er min zi hua, wo hou jing, er min zi zheng, wo wu shi, er min zi fu, wo wu yu, er min zi pu).

Laozi mengusul tiga prinsip dari ‘Tidak berbuat’无为 agar keadaan menjadi damai dan tenang:  Jangan terlalu menghargai orang pandai dan terbaik, tidak perlu ada seleksi-seleksian, orang pandai tidak perlu disanjung-sanjung, dan dipilih untuk diberi jabatan-jabatan. Karena jika dilakukan, akan terjadi sebaliknya maka semua orang akan berebut dan berlomba untuk penunjukan kepandaiannya, mengharapkan disanjung,  mendapatkan jabatan, akibatnya menjadi kacau.  Tidak perlu menjanjung orang pandai agar tidak ada yang berebut untuk ingin dipilih atau dipuji atau diberi jabatan. 
(不尚贤  使民不争  不贵难得之货  使民不为盗   不见可欲  使民必不乱《老子第3章》Bu shang xian, shi min bu zheng, bu gui nan de zhi huo, shi min bu wei dao, bu jian ke yu, shi min bi bu luan). 

Ini berlawanan dengan Konfusianis dan Motis yang menghargai orang pandai dan terbaik untuk mengurus negara, pimpinan harus pandai menyeleksi dan menemukan orang unggulan  untuk mengurus negara, menempatkan mereka pada posisi yang sesuai (the righman in the right place), barulah negara bisa menjadi damai dan sejahtera.

Jangan menghargai barang-barang langka, dan jangan menghargai barang-barang tersebut sebagai barang mahal, sehingga tidak menimbulkan orang untuk berhasrat merampoknya. Jangan pamer dan memamerkan diri agar masyarakat tidak menjadi iri atau sirik. Sehingga ada pemeo yang mengatakan “Tidak takut dicuri, yang takut di-incar oleh maling”. Kenapa di-incar, karena sering pamer hingga menjadi perhatian maling.    

Pendek kata sebagai pemimpin dan penguasa harus menjadi suri tauladan untuk tidak berambisi untuk memiliki rasa ingin berlebihan. Lebih lanjut Laozi berkata: “Tenangkan dirimu, hilangkan segala rasa berkeinginan”  (不欲以静  天下将自定  《老子第37章》bu yu yi jing, tian xia jiang zi ding).

Daois mengusulkan hal diatas ini, karena mereka juga menyadari bahwa kebanyakan orang tidak mudah untuk menahan perasaan dan menghilangkan hasrat yang demikian, maka untuk melenyapkan hasrat yang demikian perlu untuk tidak pamer. Gagasan diatas timbul dari reaksi diatas, dimana jika tidak pamer maka akan tidak menimbulkan hasrat untuk memiliki. Jika semua orang tidak mempunyai hasrat demikian maka dunia akan damai.

Gagasan kedua dari ‘Tidak Berbuat’ adalah “Pembodohan Rakyat”,  ini merupakan upaya terakhir dari “Tiga Prinsip” yang diusulkan dengan mengatakan.  Seorang pemimpin yang terpandai dan tercakap harus yang bagaimana? Dia harus membiarkan rakyat supaya tidak kritis dan pandai, karena jika rakyat pandai maka usulan dan permintaannya juga banyak. Menurut dia baiknya rakyat tidak usah pandai, tapi perutnya perlu dibikin kenyang. Tapi hatinya dibikin lemah agar tidak jadi pemberani, jika tidak, akan banyak gerakan perlawanan, tapi pisiknya harus dibikin kuat. Jadi keadaan rakyat yang ideal ialah perut kenyang, pisiknya gagah kuat, setiap orang tidak memikirkan apa-apa, akhirnya tidak punya pikiran untuk melawan atau makar. Akibatnya dunia ini menjadi damai dan mudah diatur. 
(是人圣人之治   虚其心  实其腹   弱其志  强其骨  常使民无知无欲  使夫知者不敢为也《老子第3章》shi ren sheng ren zhi zhi, xi qi xin, shi qi fu, ruo qi zhi, qiang qi gu, chang shi min wu zhi yu, shi fu zhi zhe bu gan wei ye).  Gagasan ini benar-benar menganggap rakyat seperti ternak, jika benar dilaksanakan maka rakyat akhirnya akan menjadi “ternak”?  Dunia manusia dijadikan dunia binatang ternak maka dunia akan damai.  Ini gagasan Laozi.     

Apakah Zhuangzi juga setuju dengan gagasan diatas? Ya, Zhuangzi juga setuju. Bahkan Zhuangzi mengatakan bahwa masyarakat yang paling ideal ialah penguasa seharusnya seperti daun dipohon yang tinggi diatas puncak gunung. Yang berarti tidak perlu berbuat apa-apa hanya melihat saja, sedang rakyat berada diatas rerumputan atau lapangan berlarian leluasa seperti kijang.  (上如标枝   民如野鹿  《庄子  天地》shang ru biao zhi, min ru yr lu).       

Laozi mengatakan bahwa para penguasa tidak boleh pintar, harus tidak smart, sehingga tidak mengusik-usik rakyat, maka setiap orang merasa tidak diusik-usik. Jika penguasa terlalu pandir bikin macam-macam peraturan yang ketat, maka rakyat akan berusaha mencari celah-celah dari peraturan ini atau membuat strategi untuk melawannya, maka lebih baik penguasa tidak perlu pintar.  
(其政闷闷   其民淳淳  其政察察  其民缺缺《老子第58章》  Qi zheng men men, qi min chun chun, qi zheng cha cha, qi min que que).

Lebih lanjut Laozi mengatakan bahwa pada dahulu kala orang yang mengerti kebenaran (dao) , mengerti filsafat, mengerti bagaimana mengurus dunia dengan benar, mereka ini justru tidak mendidik rakyat, dan mencerdikkan rakyat, tapi sebaliknya membodohkan rakyat.

Mereka membuat rakyat menjadi bodoh tidak mengerti apa-apa, sehingga mudah diperintah. Suatu negara mengapa susah diatur, karena rakyatnya terlalu pintar, karena pintar jadi kritis, akibatnya susah diatur. Tapi mengapa rakyat menjadi kritis karena penguasa yang mulai, banyak membuat peraturan dan larangan-larangan.
(古之善为道者  非以明民  将以愚之  民之难治   以其智多《老子第15章》  gu zhi shan wei dao zhe, fei yi ming min, jiang yi yu zhi, min zhi nan zhi, yi qi zhi duo).  

Jadi penguasa harus benar-benar tidak pintar dan smart, atau sebaliknya harus pura-pura bodoh dan ceroboh.  Karena jika dengan kepandaian mengatur negara, rakyat akan menjadi maling. Jadi tidak perlu dengan kepandaian mengatur negara, maka rakyat akan bahagia.
(以智治国  国之贼   不以智治国   国之福《老子第15章》Yi zhi zhi guo, guo zhi zei, bu yi zhi zhi guo, guo zhi fu).     

Gagasan membodohkan rakyat dan penguasa melopori untuk pura-pura bodoh ini, dikemudian hari menjadi salah satu kebijakan bagi penguasa untuk benar-benar membodohkan rakyat. Kebijakan yang membodohkan rakyat akhirnya benar-benar digunakan oleh ‘Legalis法家’. Justru politik membodohkan rakyat dari ‘Legalis’ ini benar-benar membodohkan rakyat, tapi penguasa dijadikan pintar. Sedang politik membodohkan rakyat dari Daois adalah yang pertama penguasa harus bodoh dulu, baru kemudian rakyatnya.

Gagasan politik membodohkan rakyat dan gagasan ‘Cinta/Benevolence’ dari Konfusianis serta ‘Cinta Universal’ dari Motis benar-benar berbeda.   Coba bayangkan jika benar-benar negara diatur menurut gagasan Daois, kiranya negara ini akan menjadi bagaimana? Jelas dengan membodohkan rakyat dan penguasa juga pura-pura jadi bodoh, akibatnya mendorong masyarakat dan penguasa benar-benar jadi bodoh. Daois tidak saja menentang kepandaian, tapi juga anti peradaban, termasuk anti perkembangan teknologi.

Dalam buku ‘Zhuangzi’ ada satu cerita seperti berikut. Suatu hari Zigong (子贡)  murid Kong Hu Cu sedang melewati kebun sayur, melihat seorang tani tua menyiram sayur, dengan cara menggali sumur, kemudian dia juga mengali jalan hingga kebawah sumur dari kejauhan sampai permukaan air, dan dia menggendong ember mengangkut air bolak balik untuk menyiram kebun sayurnya. 

Melihat ini Zigong(子贡) bertanya : “Tuan menyiram dengan cara demikian, apakah tidak terlalu memakan tenaga dan berat? Saya melihat anda memiliki kereta air disana, kenapa tidak digunakan? Dengan kereta akan lebih baik, cukup kuda yang menarik, maka dengan cepat dan tidak makan tenaga akan cepat selesai.... kenapa tidak dipakai?” .      
Petani tua ini mendadak mukanya berubah tidak senang sambil berkata :  “Apa maksud kamu, apa perdulinya bagi kamu, apa kamu kira saya tidak tahu bahwa saya mempunyai kereta air? Masalahnya saya tidak ingin memakai kereta air. Guru saya mengajarkan saya, justru dengan alat yang menghemat tenaga akan menjadikan saya malas mengeluarkan tenaga, jika sudah punya rasa malas mengeluar tenaga akan terjadi pikiran untuk berspekulasi, ingin dengan yang sedikit untuk mendapatkan yang banyak. Jadi untuk apa menciptakan alat-alat dan mesin-mesin, dengan maksud ingin berspekulasi dengan tidak mau mengeluarkan tenaga,  tapi ingin mendapatkan hasil banyak itu tidak baik akan membuat kita menjadi tidak jujur. Jadi semua alat dan mesin tidak diperlukan, karena dapat membuat pikiran orang menjadi rusak.”  (有机械者  必有机事  有机事者   必有机心《庄子  天地》 you ji xie zhe, bi you ji shi, you ji shi bi you ji xin). 
Pendapat ini ada benarnya tidak semuanya salah.

Melihat masa kini dengan adanya mesin modern terjadi eksplotasi buruh, dan terjadi penjajahan untuk mencari pasar dan bahan baku. Dengan adanya kamera murid-murid seni rupa jadi tidak bisa melukis, cukup mencetak gambar; dengan adanya recorder para mahasiswa dan pelajar malas mencatat, cukup merekam pelajaran, kemudian dicetak diprinter, akibatnya murid banyak tidak meresapi pelajaran.  Dengan adanya tilpon dan sms pemuda dan pemudi sekarang tidak bisa menulis surat cinta, dan orang malas menulis surat resmi.    Para seniman dan penulis zaman dulu mengembara dengan kuda, kereta api dan semacamnya, mobilitas sangat rendah, tapi meresapi pemandangan sekelilingnya, sehingga hasil karyanya juga menakjubkan dan indah. Tapi kini dengan alat transpor seperti pesawat terbang, perjalanan menjadi singkat, akhirnya semua karyanya juga seperti makanan cepat saji, nilai-nilai ekstetikanya sangat berlainan dengan karya zaman dulu.

Memang kemajuan teknologi seperti pisau bermata dua, disatu pihak membuat hidup lebih mudah, lebih aman, lebih cepat, tapi tidak menjamin bahwa kemajuan ini membawa kenikmatan dan kebahagiaan bagi kita.

Namun bagaimanapun juga kita tidak bisa mengutuk dan menyalahkan kemajuan teknologi. Jadi setiap masalah selalu ada baik dan buruknya, segala sesuatu tidak serba baik atau serba jelek. Kita tidak bisa tanpa kemajuan teknologi, tapi teknologi bukan multi guna dan serba baik, teknologi tidak selalu bisa memberi kebahagiaan. Kebahagiaan masih memerlukan ilmu-ilmu humaniora berupa karya sastra dan filsafat-filsafat.

Ini yang menyebabkan mengapa Laozi dan Zhuangzi anti kepandaian, karena menurut mereka masyarakat yang ideal dan bahagia adalah orang-orang harus hidup seperti anak bayi atau balita, jadi masyarakat keadaannya harus seperti bayi, tidak ada pikiran, tidak ada kepandaian, tidak kenal teknologi, semuanya sangat murni. Ingin ketawa ya ketawa, ingin nangis ya menangis, ingin berteriak ya berteriak, ingin tidur ya langsung tidur, ingin makan ya makan, semua berjalan wajar dan alami.

Rakyat harus seperti binatang-benatang di alam ini, hidup secara alami. Itulah kenapa Laozi mengatakan, kita harus hidup bebas dan masa bodoh, jika semua orang hidup secara demikian maka dunia jadi damai. Penguasa jangan sekali-kali mengeluarkan peraturan-peraturan dan sistim-sistim yang banyak dan rumit, demikian juga setiap individu tidak melakukan hal yang serupa.

Seorang yang paling bahagia pasti orang yang tidak mempunyai pikiran apa-apa, bisa makan kenyang dan bisa tidur nyenyak. Ini yang dinamakan “Anti Jadi Pintar” (反智fan zhi). Pendek kata, pemerintahan, jabatan, teknologi, ilmu pengetahuan, peradaban semua tidak diperlukan, termasuk juga budi dan tatakrama. Karena budi dan tatakrama juga bisa menyusahkan orang, dengan adanya budi dan tatakrama, maka diperlukan logika dan pemikiran. Merepotkan.  

Zhuangzi mengatakan kaum Konfusianis membicarakan Cinta-kasih, Tatakrama, apakah kiranya itu suatu hal yang baik? Apakah dikira hanya orang baik dan orang bijak saja yang tahu tatakrama dan budi? Mereka mengatakan bahwa: “Saya beri tahu justru maling dan rampok yang mengerti tatakrama dan budi”.      Jika tidak percaya dengarlah cerita ini dibawa ini.

Ada sekelompok maling akan mencuri barang disebuah rumah, yang satu menyelidiki dirumah ada barang berharga apa saja, yang satu menerobos masuk rumah, dia dinamakan ‘Peberani atau patriot’, yang pertama keluar dinamakan “Berbudi”, yang tahu apakah berhasil mencuri barang disebut ”Pintar”.

Pada akhirnya mereka berhasil mencuri banyak barang, mereka membagi dengan rata barang hasil curiannya. Ini dinamakan saling “Cinta” dan “Adil”. Ini semua sikap-sikap yang ditunjukan oleh para pencuri ini seperti “Pemberani, patriot”, “Berbudi’, “Pintar”, “Cinta-Adil” apakah bukan inilah yang diinginkan oleh kaum Konfusianis? Jika demikian semua pencuri, perampok besar, pelanggar hukum, semua telah melakukan ajaran-ajaran Konfusianis.

Jika mereka tidak mengetahui ajaran Konfusianis, mereka pasti berebut dan cakar-akaran, saling membunuh, jika tidak ada itu yang namanya “tatakrama dan persaudaraan,”  paling-paling mereka hanya akan menjadi pencuri kecil. Maka kelomplotan perampok dan perompak kenapa bisa ada dan eksis karena adanya ajaran dari Konfusianisme.

Ini yang dinamakan “Karena adanya nabi maka lahirlah perampok besar” – (圣人生而大盗起sheng ren sheng er da dao qi”《庄子外篇  朐箧》). 
Dengan lahirnya Nabinya Konfusianis maka perampok besar bermunculan. Maka dia mengatakan jika Nabi tidak mati, maka perampok besar tidak akan berhenti muncul. 
(圣人不死  大盗不止《庄子外篇  朐箧》sheng ren bu shi, da dao bu zhi).

Mereka mengatakan sangat perlu menghapuskan ajaran-ajaran Konfusianisme dan semacamnya, barulah dunia akan damai. Inilah gagasan dari Daois, mereka mengeluarkan gagasan ini ada alasan khusus yang penting, mereka menganggap usulan yang mereka kemukakan ‘Tidak Berbuat 无为 wu wei’ barulah merupakan “kebenaran” yang hakiki. Itulah Dao .

Kemudian maksud dari Daonya Daois道家 itu apa ? Marilah kita bahas dalam tulisan berikut .....

( Bersambung ....... )

*5. 明白易懂的道理反而像难以理解,促人上进的道理反而像劝人后退,容易倡导的道理反而像难以实施,至高无上的品德反而像空无所有,最洁白的颜色反而像是沾染了杂色,广博的品德像有什么缺少,能够有所建树的品德反而像惰气十足,品质纯真反而像变化无常,最大的方形反而像没有棱角,最大的器物总是很晚才能完成,最高级的音乐只有微细的声音,最宏大的形象反倒无形。规律虽然无形无声,不可言说,然而它却最能够辅助万物且成就万物。 
体道的圣人,一切顺其自然,是以事事无为,更不制造事端,也不会有自己的意见,是以无不、无事、无味。 以小观大,以少见多,所以一切无所事,虽有仇怨也以德报之。 解决困难的事,要从最简单的着手,做大事,也要由细微的地方开始。 所以真正体道的圣人,不自以为了不起,谦虚容人,故反而能成大事。 审慎小心,不轻易承诺,故能坚守住其诚信。把事情看得太容易的,经常会陷入失败,遭遇因难。像圣人这样把任何事都当作困难事,小心地去进行,反而不会发生真正的困难。
http://zhidao.baidu.com
Daftar  Perpustakaan
-          先秦诸子百家争鸣易中天 CCTV
-          经典阅读文库 ---- 论语       李薇/主编
-          经典阅读文库 ---- 道德经       李薇/主编
-          中国古典名著精品 ---- 菜根谭      洪应明  
-          Internet : http://friesian.com/confuci.htm  : Confucius
-          孔子  -----   維基百科,自由的百科全書 Internet
-          网址:http://www.popyard.org
-          中国人生叢书    -----   墨子的人生哲学        杨帆/主编    陈伟/
-          Internet : http://baike.baidu.com
-          The Sayings of Mensius / 英译孟子      史俊赵校编
-          南华经    庄子   周苏平    高彦平   注译    安徽人民出版社
-          庄子   逍遥的自由人     林川耀 译编  出版者 :常春树书坊
-          http://www.sxgov.cn/bwzt/wmsxx2/lf/447465_1.shtml   春秋五霸之---晋文公
-          “When China Rules The World -  The rise of middle kingdom and the end of the western world”  by Martin Jacques ALLEN LANE an imprint of Penguin Book, First Published 2009

1 comment: