Tuesday, 21 June 2016

Kong Hu Cu – Kongfusianisme – Pendukung dan Pengeritik Pada Zaman Pra-Dinasti Qin 551 – 221 SM
Jilid III

( 6 )


Pembahasan Atas Konfusianisme dan Daoisme 
儒道是非之评论

Seperti telah dikemukakan ditulisan lalu bahwa Konfusianis mengusulkan ‘Berbuat’(有为you wei) dan Daois mengusulkan ‘Tidak Berbuat’(无为wu wei), mana kiranya yang benar dan salah.  

Sebelum membicarakan ini baiklah kita bahas kenapa kaum Daois mengusulkan ‘Tidak Berbuat’? Alasannya ada tiga :
Pertama. Mereka mengira bahwa zaman kuno itu adalah ‘Tidak Berbuat’(古代无为gu dai wu wei). 
Kedua.Mereka mengira bahwa Dao itu adalah ‘Tidak Berbuat’(道无为dao wu wei).  
Ketiga. Mereka mengira bahwa Alam itu adalah ‘Tidak Berbuat’(天无为tian wu wei)

Daois menganggap zaman dulu ‘Tidak Berbuat’ dan zaman sekarang adalah ‘Berbuat’, ‘Tata tertib’ Dao ‘Tidak berbuat’ dan ‘Tata Cara’ De itu ‘Berbuat’, Alam itu ‘Tidak Berbuat’ , tapi manusia itu ‘Berbuat’.

Sehingga terjadinya pertentangan antara Kongfusianisme dan Daoisme dikarenakan adanya tiga hal.
Pertama, pertentangan antara Masa Kuno dan Masa Kini (古今之争gu jin zhi zheng).
Kedua, pertentangan antara ‘Tata Tertib’ dan ‘Tata Cara’(道德之争dao de zhi zheng).
Ketiga, pertentangan antara Alam dan Manusia(天人之争tian ren zhi zheng)

Pertentangan antara Masa Kuno dan Masa Yang Lebih Kini (古今之争gu jin zhi zheng) :
Jika dilihat sepintas pertentangan Konfusianisme dan Doisme adalah pertentangan masa kuno dan masa yang lebih kini, sepertinya akan kurang begitu tepat, karena Konfusianisme, Motisme, Daosime mempunyai suatu kecendrungan yang sama, yaitu “kembali ke zaman kuno”.  Semua mengusulkan untuk kembali ke zaman yang telah lewat, hanya jarak masa kembalinya berbeda. Kong Hu Cu menginginkan kembali pada Dinasti Zhou() ;  Moti menginginkan kembali pada zaman Kaisar Da Yu  (大禹)  ;   Daois menginginkan kembali pada zaman jauh sebelumnya, yang paling kuno (远古yuan gu).   Satu-satu nya yang mengusulkan untuk menyongsong masa yang akan datang adalah Kaum Legalis.

Maka dapat dikatakan bahwa pertentangan antara Konfusianis dan Daois adalah pertentangan antara masa kuno dekat dan masa kuno lama. Timbul pertanyaan kenapa Konfusianis, Motis, dan Daois mengusulkan kembali ke masa yang sudah lewat? Masalahnya pasti ada penyebab dan alasan tersendiri. Hal ini ada sangkut pautnya dengan segi psychologis manusia, psychologis manusia ada segi-segi universilnya. Jika pada saat-saat dimana manusia itu merasa tidak puas dengan keadaan yang dihadapi masa kini, maka dia akan mendambakan akan zaman yang telah lewat. Dan merasa ingin kembali pada masa-masa yang telah dilewati dahulu, merasa yang yang dulu lebih baik. Ini memang merupakan persaaan universil manusia. (Penulis masih sering mendengar cerita dari orang-orang tua sekarang mengatakan bahwa “pada zaman normal”(zaman Belanda) dulu lebih enak dari zaman sekarang. Masa Order Baru lebih baik dari Masa “Reformasi” sekarang)

Perlu diperhatikan dalam konteks ini masalah kejiwaan manusia perlu dipertimbangkan, dimana pikiran sering mengalami filterisasi, seringkali orang lebih mudah tidak mengingat peristiwa yang yang tidak menyenangkan dibanding dengan hal-hal yang menyenangkan, ingatan akan hal yang baik-baik dan menyenangkan sering diperbesar. Ini merupakan hal yang normal dalam kejiwaan manusia.

Kembali pada permasalahan diatas, Daois dan Konfusinais mengatakan bahwa zaman tribal primitif yang disebut Dunia Da Tong (大同) itu apakah memang baik? Sebenar tidaklah demikian. Mungkin dalam internal satu Tribal bisa baik seperti dunia Da Tong, mereka bisa hidup seperti sosialis primitif dimana hubungan antar mereka sangat baik, tidak ada konflik dan suasana hormonis. Tapi bagaimana hubungannya antara golongan tribal yang satu dengan yang lainnya, tidaklah demikian, antar tribal yang satu dengan tribal lainnya saling bunuh membunuh, bahkan saling kanibal satu sama lain.

Seperti menurut catatan sejarah Kaisar-kaisar Huangdi (黄帝) dan Yandi (炎帝) saling berhantamdan Yan Huang (炎黄) berhantam dengan Chi You (蚩尤), perang itu tidak saja terjadi hanya pada zaman ‘Peperangan Musim Semi dan Gugur” saja, tetapi telah terjadi jauh sebelumnya.

Jika kita melihat hasil penelitian kaum sejarahwan dan antropolog untuk kehidupan pada zaman tribal primitif dapat terlihat bahwa yang tua akan hidup hingga akhir hayatnya, yang muda tegap dan kuat, yang balita tumbuh kembang dengan baik, tapi ini terjadi jika keadaan alam baik tidak ada musibah dan bencana alam. Begitu ada becana alam kekeringan, atau panen gagal, maka orang tua akan dibunuh, balita akan dibuang.

Berdasarkan penelitian,  banyak bukti bahwa pada kehidupan tribal primitif masih ada kanibalisme, yang dimakan biasanya adalah musuh dari tribal lain dan orang tua dari lingkungan sendiri. Karena orangtua sudah tidak ada gunanya lagi, tidak produktif lagi, jadi patut dikorbankan untuk kelangsungan kehidupan tribal.  

Belum lama ini masih ada cerita di Jepang dimana orang tua yang sudah rentah pergi sendiri kehutan dan gunung untuk mati. Di Eskimo kutub utara juga masih ada cerita orangtua renta pergi sendiri ke padang salju untuk menunggu dimangsa beruang kutub. Puluhan tahun yang lalu di Papua juga masih terjadi kanibalisme, hingga kini antar suku masih sering berperang.  Hal ini terjadi karena produksi makanan berkurang, akibat bencana atau perubahan alam, untuk menjamin kelangsungan hidup tribal, terutama bagi orang-orang yang masih produktif agar bisa berproduksi dikemudian hari.

Sedang dikatakan bahwa malam hari pintu tidak ditutup dan dijaga tidak ada yang mau mencuri, sebenarnya karena memang tidak ada sesuatu yang bisa dicuri. Maka janganlah dibayangkan bahwa kehidupan ‘Tribal Primitif’ itu begitu baiknya. Demikian juga janganlah dilihat bahwa perkembangan dan kemajuan peradaban menjadi sumber penyebab keburukan masa yang berlangsung. Ketertinggalan dan kemiskinan barulah yang menjadi sumber segala kekacauan dan bencana.

Disini kita bisa melihat bagaimana keadaan Jakarta masa kini, gara-gara kecelakaan kecil dijalanan antara motor atau mobil bisa ribut besar dan saling pukul-pukulan, penyebabnya karena kendaraan dianggap menjadi barang yang sangat berharga melebihi badannya sendiri, kendaraan lecet menjadi sakit, harus ditebus dengan kelecetan badan yang berdarah-darah, atau mengharapkan penggantian uang yang kadang tidak setimpal. Selain itu dengan ada keributan maka kesempatan bagi pencopet dan sebangsanya untuk mencuri barang miliki orang lain.

Anatara satu kampung dan kampung sebelah terjadi tawuran, hanya gara-gara sepele, yang menurut ukuran akal sehat dan peradaban sekarang sehrausnya tidak perlu terjadi. Ini terjadi karena kemiskinan yang medorong mereka melupakan moralitas dan peradaban.

Tidak demikian jika ini terjadi di negara yang telah maju, kecelakaan lalu lintas bisa ditangani dengan kepala dingin, karena ada badan asuransi atau badan lain yang mengaturnya. Ini terjadi karena sudah beradab dan sudah kaya, mekanisme sosial sudah teratur.

Jadi dalam konteks ini kemajuan adalah suatu yang mutlak diperlukan dalam peradaban untuk menuju ketidak kacauan. Jadi bukanlah seperti yang diinginkan kaum Daois bahwa dengan kembali ke peradaban “Da Tong” atau masyarakat tribal primitif, lalu bisa menyelesaikan masalah kekacauan. Kembali kemasa yang demikian total bukanlah suatu solusi yang benar. Demikian juga masyarakat tribal primitif bukanlah “Tidak Berbuat’(无为wu wei) bagaimanapun tetap ‘Berbuat’(有为you wei).   

Sedang dalam dunia binatangpun tetap saja ada pertentangan dan persaingan, saat mating atau mencari pasangan untuk berlangsungnya keturunanan, binatang jatan bisa bertarung seksamanya, hanya binatang saat sudah menang dan lawan lari, maka pemenang tidak mengejar lagi. Tidak demikian halnya dengan manusia, yang akan mengejar terus dan menjungkirkan balikan pihak lawan dan mengijak-ijak hingga tidak bisa bangun lagi.  

Namun usulan Daois masih mengadung suatu kebenaran, seperti yang Laozi katakan tentang kebijaksanaan negara : Dengan artian lain menghendaki pemerintahan yang kecil untuk mayarakat yang besar. Dalam masalah politik penguasa jangan terlalu banyak berintervensi, biarkanlah rakyat berkembang menurut kreatifitasnya.  Jika penguasa diam-diam saja maka rakyat akan berkembang sendiri, jika penguasa diam-diam saja maka rakyat akan teratur sendiri, jika penguasa tidak banyak cari masalah maka rakyat akan makmur sendiri, jika peguasa tidak mencari kelebihan,  maka rakyat juga akan tidak mencari peluang.
(我无为而民自化   我好静而民自正   我无事而民自富   我无欲而民自朴《老子57章》Wo wu wei er min zi hua, wo hao jing er min zi zheng, wo wu shi er min zi fu, wo wu yu er min zi pu). 

Dalam masalah politik penguasa jangan terlalu banyak berintervensi, biarkanlah rakyat berkembang menurut kreatifitasnya.   Jika penguasa tidak banyak mengintervensi macam-macam,  maka rakyat bisa memenuhi kebutuhannya sendiri.  Yang berarti masyarakat yang besar cukup dengan penguasa yang kecil saja. 
(君无为则民自为   君不治则民自治  君不给则民自足《老子57章》  Jun wu wei ze min zi wei, jun bu zhi ze min zi zhi, jun bu ju(gei) ze min zi zu).


Pertentangan antara ‘Tata Tertib’ dan ‘Tata Cara’(道德之争dao de zhi zheng)

Daois mengemukakan bahwa Dao itu ‘Tidak Berbuat’无为 dan De itu ‘Berbuat’有为, masalahnya mengapa? Karena menurut Daois ‘Tata Tertib’ dan ‘Tata Cara’ ada tiga pengertian seperti berikut :

-       Dao adalah ‘tata tertib’ , dan De adalah ‘tata cara’. (道是规律  德是方式 dao shi gui li , de shi fang shi)
-       Dao adalah masa kuno lama, dan De adalah masa kuno yang lebih dekat. (道是远古  德是近古dao shi yuan gu, de shi jin gu)
-       Dao adalah idaealisme dan De adalah realitas. (道是理想  德是现实dao shi li xiang, de shi xian shi)

Menurut pandangan Daois ‘Tata Tertib’ (dao) lebih tinggi dari ‘Tata Cara’ (de); Masa Kuno Lama (远古yuan gu) lebih baik daripada Masa Kuno Yang Lebih  Dekat (近古jin gu) ; Idelaisme (理想li xiang) lebih baik daripada Realitas (现实xian shi). Maka Daois memilih Dao dan tidak memilih De.  Memilih ‘Tidak Berbuat’(无为wu wei) dan tidak memilih ‘Berbuat’(有为you wei).

Sedang Kongfusianis lebih menekankan akan ‘Realitas’ , mereka sama juga menganggap bahwa masyarakat “Da Tong” atau tribal primitif itu baik, hanya menurut mereka keadaan itu tidak bisa untuk dikembalikan lagi, ini adalah tidak realistis.

Maka mereka berpendapat bahwa pada kala itu hanya bisa untuk mempertahankan De. Dengan mengusulkan “mempertahankan De dulu, kemudian baru untuk mendapatkan Dao” (保德以求道bao de yi qiu dao). Dengan mempertahankan De untuk mencapai Dao, bukan dengan langsung menlonpat ke Dao. Ini juga salah satu perbedaan antara Konfusianis dan Daois.  Dao adalah idaealisme dan De adalah realitas. (道是理想  德是现实dao shi li xiang, de shi xian shi).
Jadi Daois menginginkan kembali langsung ke Dao, sedang Konfusianis mempertahankan De.

Dengan prinsip seperti diatas ini maka cendikiawan menilai bahwa “Kaum Daois berjiwa besar (道家大气dao jia da qi), dan Kaum Kongfusianis realistis (儒家实在ru jia shi zai). Memang jika dilihat Laozi dan Zhuangzi ada persamaan bersifat jiwa besar, karena prinsip mereka bagaimanapun harus dilaksanakan. Jika dilaksanakan tapi tidak bisa terlaksana lebih baik tidak usah dilaksanakan.  

Dengan membaca buku “Zhuangzi” dapat dilihat bagaimana beliau melukiskan manusia dan alam semesta, pandangannya sangat luas sekali, dalam buku ‘Musim Gugur” (秋水篇Qiu Shui Pian) ada ditulis demikian. 

Saat musim gugur tiba, air pasang tepat datang pada waktunya, bergermuruk datang dari semua anak-anak sungai masuk kedalam sungai Kuning (Huanghe). Saat itu aliran sungai menjadi besar dan muka air jadi melebar (泾流之大jing liu zhi da), melebar luas sekali.... (秋水时至  百川灌河《庄子  秋水篇》qiu shui shi zhi, bai chuan guan he).

Lebarnya dilukiskan sebagai berikut :  jika kita berdiri ditepi sungai atau berdiri disalah satu pulau delta ditengah sungai melihat ketepi sungai, melihat ternak dipinggir sungai tidak bisa membedakan ternak itu sapi atau kuda.....(不辨牛马bu bian niu ma) karena jauhnya. Saat ini “dewa sungai kuning” terlihat sangat senang sekali, (欣然自喜xin ran zi xi) dan berseru “Betapa cantiknya dunia ini, seolah semua kecantikan berada disini, aku benar-benar berada ditempat yang paling cantik didunia” (以天下之美为尽在已《庄子秋水篇》tian xia zhi mei wei jin zai yi).

Kemudian dengan hati senang dan bangga menghanyutkan diri mengikuti aliran sungai hingga kelaut utara (muara sungai Kuning/Huanghe)...saat tiba di Laut Utara beliau melihat... air laut tidak terlihat tepiannya....sama sekali tidak melihat apapun di kejauhan... selebar-lebarnya sungai Huanghe masih bisa saya melihat ternak-ternak ditepian seberang sungai, tetapi dilaut ini sama sekali tidak terlihat garis tepian seberang lautan.... saat ini dewa sungai lebih girang lagi... sambil menghela nafas berseru : “Haiii... hari ini jika saya tidak tiba di laut utara, bisa-bisa saya ditertawai orang bijak yang mendapatkan Dao itu.... saya benar-benar sangat sok pintar saja...’ saat itu dewa Laut Utara muncul dan berkata : “ Kamu jangan kira saya ini yang terbesar, saya ‘laut utara’ ini hanya berada diantara dunia, seperti sejumput rumput dan sebuah kerikil saja dipegunungan, langit dan dunia adalah yang terbesar...” yang berpengertian kamu kira dirimu besar, tapi masih ada lagi yang lebih besar, yang terbesar masih ada lagi yang lebih besar.... yaitu “Dao”.  Dao yang terbesar, setelah itu barulah bumi dan langit. Dengan demikian kita manusia ini apa artinya, jika dibandingkan dengan semua ini. Kita dengan Huanhe saja sudah tidak sebanding, sedangkan yang lebih besar dari Huanghe masih ada Laut Utara, kemudian Alam Semesta atau Dao, setelah itu baru langit. Kita sebagai manusia untuk apa merasa pantas membanggakan diri menyatakan bahwa dirinya hebat dan terbaik..... dengan Huanghe saja sudah tidak sebanding..... 

Apa itu yang dinamakan Tiga Maha Raja dan Lima Kaisar (三王五帝san wang wu di), apa itu Konfusianis, Motis, kalian disana membanggakan diri, dengan mengemukakan teori-teorinya tanpa henti-hentinya, dikira kebenaran dunia sudah kalian kuasai. Padahal jika kalian dibandingkan dengan dunia dan langit serta Dao, kalian itu seperti sehelai bulu pada badan kuda. Untuk apa kalian harus berbangga-bangga mengunggul-unggulkan dirinya sendiri....
(五帝之所连  三王之所争  仁人之所忧  任士之所劳《庄子秋水篇》  San wang zhi suo lian, san wang zhi suo zheng, ren ren zhi suo you, ren shi zhi suo lao)    
Inilah terlihat “Jiwa Besar” dari kaum Daois, menyatukan dirinya dengan Dao.

Maka Laozi mengatakan panca warna membuat orang jadi buta, panca suara membuat orang jadi tuli, panca rasa membuat orang jadi pati/mati rasa.
( 五色令人目盲  五色令人耳聋  五味令人口爽《老子13章》   Wu se ling ren mu mang, wu se ling ren er long, wu wei ling ren gou shuang)

Suatu yang cantik sebenarnya hanya setitik cantik yang sedikit, yang sangat cantik hanyalah dari banyak cantik yang sedikit-sedikit disatukan, yang benar-benar cantik adalah kehampaan atau tiada. Musik dan nada yang tertinggi tidak terdengar suaranya, bentuk yang tercantik tidak akan terlihat, persegi yang besar tidak terlihat sudutnya, alat yang sangat besar tidak dibuat. Alat yang sangat besar adalah bumi dan langit, bumi dan langit jelas tidaklah dibuat atau diciptakan oleh manusia.
(大音希声  大象无形  大方无隅  大器免成《老子41章》  da yin xi sheng, da xiang wu xing, da fang wu yu, da qi mian cheng).


Inilah prinsip dan semangat dari Daois, jika mau berbuat maka harus yang terbaik jika tidak, lebih baik tidak usah berbuat sama sekali. Sedang Konfusianis lebih realistis, mereka bukannya tidak mengerti apa yang disebut baik, prinsip dan semangat mereka adalah jika tidak bisa melakukan yang terbaik, maka terpaksa harus melakukan yang bukan terburuk.

Semangat demikian adalah suatu yang sangat realistis, karena memang kenyataan dalam realitas hidup didunia, kita tidak mungkin bisa melakukan yang terbaik dan sempurna. Segala hal yang kita lakukan pasti ada kekurangannya, jadi jika menuntut kesempurnaan akhirnya akan memakan hati sendiri.

Jadi dalam menyusun strategi pekerjaan janganlah memikirkan untuk yang terbaik, melainkan lebih baik memikirkan untuk tidak terjadi yang terburuk. Bahkan kadangkala harus memikirkan bagaimana kesiapan kita untuk mendapatkan hasil yang terburuk, sehingga jika memang terjadi demikian kita sudah siap mental untuk dapat menerimanya, namun dalam proses atau dalam perjalanan sebisa-bisanya menghindari kerugian atau kesalahan, dan berusaha melakukan yang terbaik. Karena semula sudah siap untuk yang terburuk, jadi jika mendapatkan sedikit yang lebih baik saja sudah merasa tidak rugi.

Dalam konteks ini Konfusianis mengusulkan untuk mempertahankan ‘Tata Cara’ (de) untuk mengurus negara, jadi mengharuskan mereka untuk bertitik tolak pada dirinya sendiri dan sekilingnya, memberi contoh dan tauladan kepada lainnya, jadi mereka benar-benar melakukan menurut realita yang ada.   

Tokoh kaum Konfusianisme diwakili oleh Kong Hu Cu (孔子kong’zi) yang sifatnya damai; Mensius (孟子meng’zi) yang berjiwa besar; Xunzi (荀子xu’zi) yang sifatnya serius dan disiplin. Mereka bertiga ini masing-masing mempunyai pandangan yang berbeda, tapi secara keseluruhan mereka sangat realitis.

Walaupun mereka juga memiliki idealisme, tapi jika dibandingkan dengan Daois mereka ini lebih realitis. Tapi jika dibandingkan dengan kaum Legalis mereka berdua itu sangat idealis. Konfusianis ada sisi realistisnya tapi juga ada sisi idealisnya yang tidak mungkin dapat ter-realisir, namun mereka berpikiran realistis.   

Misalnya seperti kata Mensius,  masyarakat yang ideal ialah orang tua yang sudah berumur 50 tahun harus memiliki baju hangat, orang tua berumur 70 tahun harus memiliki daging untuk dimakan. Ini masih realistis. Dimana masih terukur dan masih bisa diusahakan, inilah salah satu penyebab kenapa dikemudian hari kaum Konfusianisme mendapat tempat tertinggi dalam sejarah Tiongkok.

Didepan telah diceritakan bahwa Konfusianis mengusulkan mengatasi masalah masyarakat kala itu dengan ‘Cinta Benevolence’ hal ini adalah tidak mungkin. Jika di-ibaratkan obat maka resep Konfusianis ini tidak menolong nyawa, tapi hanyalah seperti supplement saja. Seperti misalnya vitamin.   

Setelah membaca pembahasan diatas “Daois Berjiwa besar” dan “Konfusianis Realitis” , akan timbul pertanyaan yang manakah dari mereka yang patut kita panuti? Cendikiawan menyimpulkan “Untuk menjadi orang kita belajar dari Daoisme” , “Untuk melakukan sesuatu patut kita ikuti cara Konfusianisme”.

Menjadi orang harus seperti Daois berjiwa besar dan tidak banyak perhitungan yang menjelimet, memasalahkan hal-hal yang kecil-kecil, janganlah karena hal sepele dan kecil manjadikan kita risau dan bingun, marah-marah,  yang bisa menyebabkan psikosomatik.   Tapi melakukan sesuatu harus realistik, jangan terlalu idealis dan bercita-cita terlalu tinggi, apa yang bisa kita lakukan ya lakukanlah dan jangan muluk-muluk,  dilakukan sedikit demi sedikit dan setapak demi setapak hingga tuntas....

Pertentangan antara Alam dan Manusia(天人之争tian ren zhi zheng) :
Menurut pandangan Daois Alam itu “Tidak Berbuat’(天道无为tian dao wu wei), ciri dari Alam ialah ‘Tidak Berbuat’, karena alam tidak pernah membutuhkan sesuatu, tidak punya idealisme, tidak punya keinginan, tidak punya tipu daya, dan ini juga diakui oleh Konfusianisme. Kong Hu Cu pernah berkata : “Alam mengatakan apa? Alam apapun juga tidak pernah mengatakan apa-apa, alam juga tidak pernah berbuat apa-apa”. Jadi Alam itu ‘Tidak Berbuat’(道无为dao wu wei). Tapi masalahnya kita ini bukannya alam (tian) melainkan manusia. Apakah jika Alam itu ‘tidak Berbuat’ apakah manusia juga harus ‘Tidak Berbuat’? Alam itu memang ‘Tidak Berbuat’, tapi Manusia itu harus “Berbuat’.(天道无为  人道有为tian dao wu wei, ren dao you wei). “Langit kan sudah bicara. Musim Semi, Panas, Gugur, dan Dingin  juga terus berjalan... Ya,  itulah langit sudah bicara....” 
(天何言哉   四时行焉  百物生焉   天何言哉《论语 阳货》 Tian he yan zai, si shi xing yan, bai wu sheng yan, tian he yan zai). 
Kong Hu Cu dengan gamblang mengatakan bahwa manusia tidak bisa hidup seperti binatang atau disamakan dengan binatang. (鸟兽不可与同群niao shou bu ke yu tong qun)

Dalam Analek ada cerita tentang Zi Lu, suatu malam tidak dapat masuk dalam benteng kota, maka dia tidur di luar benteng. Pagi-pagi seorang petugas jaga pintu benteng kota ketika membuka pintu melihat Zi Lu dan bertanya : “Bapak datang dari mana ?”.   
Zi Lu menjawab : “Saya baru datang dari tempat Kong Hu Cu”.   
Petugas jaga itu berseru : “ Oh, Kong Hu Cu ! Apakah dia itu  yang mengatakan bahwa ‘Sudah jelas tidak bisa terlaksana, tapi masih juga mau coba melaksanakannya! tapi tidak berhasil....’ (“知其不可而为之的孔子吗?zhi qi bu ke er wei zhi de kong zi ma?).     

Dari sini bisa terlihat bagaimana semangat juang Kong Hu Cu, lebih-lebih jika dibayangkan dimana saat beliau hidup kala itu. Keadaan masyarakat sangat kacau sekali, tatakrama, sopan santun, aturan main yang berlaku semuanya sudah ambruk. Namun beliau masih dengan semangat juang yang tinggi dan pantang menyerah tetap mencoba menyebarkan gagasannya. Beliau berkata : “Jika dunia dalam keadaan damai dan teratur, saya Kongqiu(Kong Hu Cu) untuk apa harus bersusah-susah begini untuk menyebarkan tatakrama?” 
(天下有道  丘不与易也《论语 微子》tian xia you dao, qiu bu yu yi ye).   

Lehih lanjut dikatakan : “Justru karena kacau begini baru saya mengembara dan bersusah-susah menyebarkan tata-krama, jika dunia keadaan damai saya juga ingin menanam pohon, dan dibawah pohon tersebut berhelahela tiduran dengan nikmat. Sekarang pohon tersebut sudah hampir roboh, tidurpun tidak akan nyenyak,  justru sekarang saya harus menyangga pohon ini agar tidak roboh. Tidak lain karena saya mempunyai rasa berkewajiban terhadap masyarakat tersebut.  Dalam masyarakat tersebut haruslah ada orang yang mau perduli dengan keadaan demikian.  Tidak boleh semua orang karena keadaan begini lalu akan menjadi “Petapa”. Jika semua orang menjadi “Petapa”, maka masyarakat ini benar-benar akan menjadi dunia binatang termasuk manusianya.”  

Sedangkan kita tahu bahwa “Petapa” itu ada yang tulen, ada juga yang palsu. Jangan dikira sudah menjadi “Petapa” dan “Suci” itu lalu dianggap sudah baik, karena ada ‘petapa’ yang asli dan ada yang palsu, ada yang memang benar-benar bersih dan suci, ada juga yang pura-pura suci dan bersih.

Ini tidak mudah untuk kita membedakannya.  “Petapa” asli biasa tidak banyak bicara, karena sudah menjadi pilihan hidupnya sendiri,  ini patut dihargai.  Jika ada seorang ingin tenang hidup menyendiri untuk mencari kedamaian, kita harus menghormati pilihannya. 

Dalam hal ini kita harus ikut mendukung semangat Kong Hu Cu yang “Sudah jelas tidak bisa terlaksana, tapi masih juga mau coba melaksanakannya! tapi tidak berhasil.... (“知其不可而为之”zhi qi bu ke er wei zhi)”.    

Karena dengan semangat demikian dan dengan ketauladanan dirinya serta disiplin tinggi, maka pada akhirnya akan dipanuti oleh masyarakat. Dalam keadaan yang demikian jika semua orang pada tidak perduli, akhirnya akan semakin runyam, harus ada yang berani tampil untuk memperbaiki keadaan. Lebih-lebih kita ketahui bahwa Kong Hu Cu itu bersemangat begitu, tidak mengharapkan untuk keuntungan pribadi. Beliau walaupun mengusulkan ‘Berbuat’ tapi tidak menuntut apa-apa sebagai imbalan untuk dirinya.

Perjalanan sepanjang hidupnya hanya ingin mengabdi kepada masyarakat dengan ketulusan hatinya. Maka beliau berkata : “Saya sebagai seorang bijak, seorang shi(professional freelancer), saya harus menyebarkan dao, ini kewajiban saya, adalah tugas saya, dan sudah menjadi garis kehidupan saya, sedang apakah itu bisa berhasil atau tidak ? Terserah “Tian” yang menentukan....”
(道之将行也与  命也    道之将废也与  命也《论语 宪问》  Dao zhi jiang xing ye yu, ming ye,  dao zhi iang fei ye yu, ming ye).
Inilah yang dimaksud dengan  “Konsep Nasib” atau “Tian Ming” (天命观 tian ming guan) dari kaum Konfusianisme.

Dan konsep ini sangat ditentang oleh Motisme. Karena menurut mereka jika mengadalkan “Konsep Nasib” atau “Tian Ming” (天命观 tian ming guan), maka akan membuat semua orang menjadi pasif dan ber-malas-malasan.

Jika sudah demikian apakah masyarakat ini tidak akan hancur jadinya. Kritikan Motis ini kiranya tidak tepat, karena nasib ini bukanlah kehendak Kong Hu Cu. Seperti telah dilukiskan diatas bagaimana semangat Kong Hu Cu dalam menyebarkan gagasannya yang tidak mengenal lelah dan pantang menyerah.

Beliau hanya mengatakan bahwa banyak hal-hal yang berada diluar kemampuan manusia untuk bisa menentukan, dimana kadangkala terjadi suatu hal yang berada diluar kemampuannya untuk bisa menyelesaikannya, jelas dalam hal demikian tidak bisa mengatakan bahwa saya harus bisa menyelesaikannya, hanya satu-satunya yang bisa dikatakan mungkin saya bisa menyelesaikannya, tapi bisa juga gagal. Sedang jika dilihat suasana dan keadaan kala itu kemungkinan untuk tidak berhasil lebih dominan. Saat-saat demikian perlu adanya suatu pelepasan-pelepasan untuk menghibur diri sendiri, jadi kala itu kecuali dengan kata-kata ‘Nasib” atau ‘Kehendak Alam’ apa lagi yang harus dikatakan.... ini hanyalah untuk menghibur diri sendiri.


Dalam konteks ini beliau tidak menuntut apa-apa, hanya menuntut ketenangan hatinya saja.... ‘Prinsipnya saya sudah melaksanakan, apakah bisa berhasil terserah nasib, namun walau bagaimanapun telah saya lakukan dan usahakan semaksimal mungkin... saya tidak akan menyesal...’ Jiwa demikian benar-benar sangat Agung dan Patut dihormati setinggi-tingginya...

Dari bahasan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa Daois mengusulkan Hukum Alam (道家讲天道dao jia jiang tian dao). Motis menakut-nakuti dengan dewa dan Roh (墨家重鬼神mo jia zhong gui shen). Keduanya tidak membicarakan akan “Tian Ming天命” atau “Nasib” atau Kehendak alam. Konfusianis mengusulkan ‘Tatakrama dan Kesopanan”(人道ren dao),  tapi percaya akan “Tian Ming天命” atau “Nasib” atau Kehendak alam, tapi tidak membicarakan tentang “Dewa dan Roh”( 鬼神gui shen).

Motis mengusulkan “Berbuat’ menuntut ‘Berbuat’ (以有为求有为yi you wei qiu you wei), jika tidak berhasil maka akan diserahkan kepada “Dewa dan Roh” untuk menyelesaikannya. Konfusianis berusaha sebisa-bisanya untuk berhasil, tapi jika tidak berhasil itu terserah pada nasib atau kehendak alam.  Jadi ciri-ciri dari Konfusianisme, Motisme, dan Daoisme adalah pertama Daois ‘Tidak Berbuat’ dan tidak menuntut apa-apa. (道家是无为而无求dao jia shi wu wei er wu qiu); Kedua Daois tidak menuntut apa-apa sama seperti Dao atau Alam .(道家无求同于道dao jia wu qiu tong yu dao).  Konfusianis ’Berbuat’ tapi tidak menuntut apa-apa(儒家是有为而无求ru jia shi you wei er wu qiu), Kongfusianis tidak menuntut apa-apa namun mempertahankan ‘tatakrama’ (儒家无求得于德ru jia wu qiu de yu de ).  Motis ‘Berbuat’ dan menuntut imbalan(墨家是有为而有求mo jia shi you wei er you qiu) ,  Motis menuntut untuk dituruti, jika tidak dituruti akan ada hukuman dari Roh. (墨家有求求于鬼mo jia you qiu qiu yu gui)

Maka antara Kongfusianisme dan Daoisme bisa saling mengisi. Dan Konfusianis dengan Motis sulit untuk bisa berdampingan. Tapi Legalis untuk beberapa titik masih menaruh simpati kepada Motis. Sedang Legalis sama sekali berbeda dengan Konfusianis, Motis dan Daois, dan ketiga yang belakangan ini semuanya mengusulkan kembali kemasa lalu, sedangkan Legalis justru menyongsong kemasa yang akan datang. Maka pemikiran Legalisme satu-satunya yang sangat berpengaruh pada masa itu.....

Kemudian bagaimanakah pemikiran kaum Legalisme ini? Marilah kita bahas dalam Jilid IV yang berikut ini. Polemik antara Kongfusinisme versus Legalisme.

( Jilid III Habis akan dilanjutkan dengan Jilid IV)

Kronologi Dinasti-Dinasti di Tiongkok

Dynasti
Tahun
Lamanya
3 Maha Raja & 5 Kaisar
三皇五帝

Sebelum  2070 SM
628+

Dinasti Xia

2070 SM — 1600 BC
470

Dinasti Shang

1600 SM — 1046 SM
554

Dinasti Zhou Barat
西周

1046 SM — 771 SM
275

Dinasti Zhou Timur
Secara Tradisional dibagi
Periode Musim Semi & Gugur
Periode Peperangan Negara2
東周

春秋
戰國

770 SM — 256 BSM

722 SM — 476 SM
475 BC — 221 BC
514

246
254

Dinasti Qin

221 SM — 206 SM
15

Dinasti Han Barat
西漢

206 SM —  9M
215

Dinasti Xin

9 — 23
14

Dinasti Han timur
東漢

25 — 220
195

Tiga Negara
三國

220 — 265
45

Dinasti Jin Barat
西晉

265 — 317
52

Dinasti Jin Timur
東晉

317 — 420
103

Dinasti Selatan & Utara
南北朝

420 — 589
169

Dinasti Sui

581 – 618
37

Dinasti Tang

618 — 907
289

5 Dinasti & 10 Negara2
五代十國

907 — 960
53

Dinasti Song Utara
北宋

960 — 1127
167

Dinasti Song Selatan
南宋

1127 — 1279
152

Dinasti Liao

916 — 1125
209

Dinasti Jin

1115 — 1234
119

Dinasti Yuan

1271 — 1368
97

Dinasti Ming

1368 — 1644
276

Dinasti Shun

1644
<1

Dinasti Qing

1644 — 1911
268

Empire of China


[1912-1916]
<1


Versi terakhir dari Klasik Sejarah 史記》Tiga Maharaja三皇 = Fúxī伏羲, Shénnóng 神農 dan Huángdì 黃帝 (menjadi maharaja paling kuno di Cina).

Versi dari《尚书大传》Tiga Maharaja三皇 = Shuiren燧人, Fuxi伏羲, Shengnon神农
Lima Kaisar 五帝 = Huangdi黄帝, Zhuanxu颛顼, Diku帝喾Yao, Shun, Da Yu大禹
(大部分的意见是燧人氏、伏羲氏、神农氏称为三皇,黄帝、颛顼、帝喾、尧帝、舜帝称为五帝,这些说法起源于春秋战国)

*9    http://zh.wikipedia.org/wiki/%E6%9D%8E%E6%82%9D
Li Kui (Chinese: 李悝; pinyin: Lǐ Kuī; Wade-Giles: Li K'uei, fl. 4th century BC) was an ancient Chinese government minister and court advisor to Marquis Wen of Wei (魏文侯, r. 403 BC-387 BC) in the state of Wei. In 407 BC, he wrote the Book of Law (Fajing, 法经), which was the basis for the codified laws of the Qin and Han dynasties. It had a deep influence on state ministers of Qin such as Shang Yang, who formulated the dogma and basis of the harsh Chinese philosophy of Legalism. Along with his contemporary Ximen Bao, he was given oversight in construction of canal and irrigation projects in the State of Wei.
李悝曾任魏文侯相, 主持变法。进行“尽地力之教”,其具体内容已不可知,但主要为鼓励农民精耕细作,推广成功的耕作经验,提高产量。并且实行“善平籴”政策,国家在丰年以平 价购买余粮,荒年以平价售出,以平粮价;政治上实行法治,废除维护奴隶主贵族特权的世卿世禄制度,奖励有功国家的人,按照功劳和能力提拔官吏,如任命吴起为西河守,用西門豹治鄴。变法後,魏国国力增强,成为战国初期强国之一。
他还汇集当时各国法律编成六篇《法经》,包括盜法、賊法、囚法、捕法、雜法和具法,是中国古代第一部比较完整的法典,其內容主要闡述如何維持治安、緝捕盜賊、防止人民反叛及對犯罪者的判刑等等。六篇中,〈具法〉一篇為全書的目錄。商鞅聽說秦孝公雄才大略,便攜帶《法經》到秦國,以該書作他變法內容的藍本,成就了歷史著名的「商鞅變法」。《法經》现仅存篇目,内容雖已失传,但仍可於《秦律》及從今湖北省雲夢縣睡虎地發掘出的「秦簡」中反映出一部分來。

*10 http://baike.baidu.com/view/591970.html?fromTaglist
孟子《齐桓晋文之事章》 表现了孟子反对霸道、主张王道的仁政思想。他的仁政主张,首先是要给人民一定的产业,使他们能养家活口,安居乐业。然后再“礼义”来引导民众,加强伦理道 德教育,这样就可以实现王道理想。这种主张反映了人民要求摆脱贫困,向往安定生活的愿望,表现了孟子关心民众疾苦、为民请命的精神,这是值得肯定的。但孟 子的思想也有其局限性。一是战国时期,由分裂趋向统一,战争难以避免。孟子往往笼[发‘垄’]统反对武力,显得脱离实际不合潮流。二是他的仁政主张完全建 立在“性善论”基础上,未免过于天真、简单。孟子的思想虽然值得赞许,与当时的却步有很大距离,自然行不通。特色:1、孟子善辩,本文很好地体现了孟子的 论辩风格。2、孟子长于譬喻,本篇也运用了不少生动的比喻.

*11 http://baike.baidu.com/view/77856.htm
申不害(约公元前385~前337) 亦称申子,郑韩时期人物(今河南新郑)人。战国时期韩国著名的思想家。他在韩为相19年,使韩国走向国治兵强。作为法家人物,以“术”者称,是三晋时期法家中的著名代表人物。
郑国灭国之时,申不害年岁约在2030岁之间。作为一个亡国之贱臣,申不害可能杂学诸说。因 为在他之前的管子、李悝、慎到的学术理论中都有“术”的成份。有人根据申不害思想中有道家思想的痕迹,认为他是由道入法。这种说法有一定道理,但不能把他 的思想仅归为道法两家。
申不害相韩时,韩国已处弱势。韩昭侯即位不久,颇具雄心,任用贱臣申不害即为一例,申不害才华得有用武之地。
申不害的学术思想,明显地受到道家的影响,但他的直接来源是老子还是慎到,不得而知。但他的哲 学思想与慎到有极相似之处,他们都遵循老子的大统一哲学。“人法地,地法天,天法道,道法自然”。申不害认为,自然运行是有规律的,也是不可抗拒的。他认 为宇宙间的本质是“静”,其运动规律是“常”。他要求对待一切事情应以“静”为原则,以“因”为方法,“因”指“因循”,“随顺”。“贵因”指“随事而定 之”,“贵静”的表现就是“无为”。申不害把这些原则用于人事,构成他的社会哲学思想。“无为”主张的渊源即《老子》的“绝圣弃智”,申不害的“无为”, 要求的是君主去除个人作为的“无为”,以便听取臣下的意见。但是,申不害仅仅把这种“静因无为”的哲学思想用于“权术”之中。为了完善这种方法,他进一步 发挥《老子》“柔弱胜刚强”的思想,要求君主“示弱”,决不是指君主无所作为,只是君主决策前的一种姿态。在关键时刻,申子要求君主独揽一切,决断一切。 申不害的哲学思想,是君主哲学,是政治哲学。这种哲学由道家的“天道无为”演化发展来,是他的法家“权术”思想的基础。
 申不害主“术”,但他所说的“术”,是在执行法的前提下使用的,而“法”又是用来巩固君主统治权的。因此他并不是不讲“法”与“势”的。


Daftar  Perpustakaan
-       先秦诸子百家争鸣易中天 CCTV
-       经典阅读文库 ---- 论语       李薇/主编
-       经典阅读文库 ---- 道德经       李薇/主编
-       中国古典名著精品 ---- 菜根谭      洪应明  
-       Internet : http://friesian.com/confuci.htm  : Confucius
-       孔子  -----   維基百科,自由的百科全書 Internet
-       网址:http://www.popyard.org
-       中国人生叢书    -----   墨子的人生哲学        杨帆/主编    陈伟/
-       Internet : http://baike.baidu.com
-       The Sayings of Mensius / 英译孟子      史俊赵校编
-       南华经    庄子   周苏平    高彦平   注译    安徽人民出版社
-       庄子   逍遥的自由人     林川耀 译编  出版者 :常春树书坊
-       http://www.sxgov.cn/bwzt/wmsxx2/lf/447465_1.shtml   春秋五霸之---晋文公
-       “When China Rules The World -  The rise of middle kingdom and the end of the western world”  by Martin Jacques ALLEN LANE an imprint of Penguin Book, First Published 2009

1 comment: