Saturday, 18 June 2016

Kong Hu Cu – Kongfusianisme – Pendukung dan Pengeritik Pada Zaman Pra-Dinasti Qin 551 – 221 SM
Jilid III

( 4 )


Menguak Argumentasi Daois Tentang ‘Tidak Berbuat/Acuh’ 无为wu wei

Di tulisan lalu telah dibahas tentang kekacauan masyarakat Tiongkok pada periode Zaman ‘Peperangan Musim Semi & Gugur’春秋(chun qiu) dan “Peperangan Negara-negara’(战国时代zhan guo shi dai), dimana pada masa ratusan tahun, situasi masyarakat sangat kacau, tidak ada tatakrama, sopan santun, budipekerti dan hukum, semua telah kacau. 

Pada masa itu mucullah tokoh-tokoh seperti Kong Hu Cu dengan Konfusianisme yang mengusulkan –‘Cinta Kasih, Kebenaran, kebajikan dan Moralitas’ (仁义道德ren yi dao de) ’ untuk mengobati “penyakit” masyarakat, mereka dengan proaktif menyebarkan gagasannya. Tapi Daois justru mengajurkan untuk ‘Tidak Berbuat’dan ‘Acuh’ saja, mereka mengajurkan baik penguasa dan rakyat jelata lebih baik sama-sama ‘Tidak Berbuat’.  Daois tidak saja mengusulkan “Tidak Berbuat’ bahkan mereka juga mengecam gagasan kaum Konfusianis. Mereka mengatakan jika ingin dunia ini damai harus menolak ‘Cinta Kasih, Kebenaran, Kebajikan dan Moralitas’ (仁义道德ren yi dao de) ’.

Apa sebabnya Daois sangat menentang Konfusianis tentang gagasannya yang diatas ini, apakah memang Daois benar-benar tidak perduli dengan kekacauan masyarakat kala itu ? Apakah latar belakang dari penentangannya ini, kiranya ada apa yang tersembunyi secara rahasia dari gagasan Daois ini. Inilah yang perlu kita dibedah.

Mengapa Daois menentang gagasan Konfusianis tentang –‘Cinta Benevolence, Kebenaran, Kebajikan dan Moralitas’ (仁义道德ren yi dao de)?  Mengapa Zhuangzi dan pendukungnya menentang Konfusianis? 

Alasannya ada tiga sebab:
Pertama. Hipokrit (虚伪 xi wei).
Kedua Ingkar akan sifat kodrat alam manusia (违背人性 wei bei ren xing).
Ketiga. Merusak kodrat alam (破坏天性po huai tian xing).

Alasan pertama, Zhuangzi menganggap bahwa usulan Konfusianis tentang ‘Kebajikan dan Budi’, jika dilihat pada keadaan masyarakat kala itu adalah hipokrit. Berhubung dengan ke-hippokrit-an ini, menyebabkan Zhuangzi dan murid-muridnya serta para pendukungnya, tidak tahan untuk tidak menyindir mereka.

Dalam buku “Zhuangzi” ada diceritakan tentang dua Konfusinanis (A)大儒(da’ru) & (B) 小儒(xiao’ru) yang mencuri harta dalam makam orang.   Yang satu menunggu diluar (A) Da’ru大儒dan yang satu lagi (B) Xiao’ru小儒menerobos masuk kedalam makam pada tengah malam, setelah lama ditunggu tidak ada suara.

Maka si A bertanya melalui mulut lobang kepada si B : “Hai bung, hari sudah mulai terang, bagaimana? ‘ (Tapi si A bertanya dengan kata puitis : Diufuk timur mulai terang, bagaimana gerangan kerjaan anda (东方作矣 事之何若dong fang zuo yi, shi zhi he ruo《庄子·杂篇·外物第二十六》)”.   
Si B yang di dalam menjawab : “ haiya, pakaian mayat ini masih belum saya buka, tapi saya melihat di mulut mayat ini ada sebuah mutiara.” Tapi dijawab dengan kata-kata puitis : “Akupun belum membuka bajunya, namun terlihat dimulutnya sebuah mutiara (未解裙襦  口中有珠wei jie qun ru, gou zhong you zhu).”   
Si  B mulai coba mencongkel mutiara dari mulut mayat tersebut, tapi sambil mencongkel dia juga berkata dengan nada puitis : “Batang gandum yang hijau, tumbuh diatas bukit-bukit, saat kau hidup, kau tidak begitu dermawan, saat mati mengemut mutiara untuk apa gerangan .... (青青之麦  生于陵陂  生不布施   死何含珠为qing qing zhi mai, sheng yu ling bei, sheng bu bu shi, shi he han zhu wei)”.      

Ini benar-benar komentar yang kontroversial, dermawan bukan dermawan apa urusan dengan si pencuri ini, mereka ini mencuri barang milik orang lain, masih coba berkomentar tentang –‘Cinta Kasih, Kebenaran, Kebajikan dan Moralitas’ (仁义道德ren yi dao de), bahkan mengemukakan dengan kata-kata puitis pula.

Menurut Kaum Daois ini benar-benar keterlaluan, kurang asem dan hipokrit. Ini menunjukan bahwa tidak sedikit para kaum Konfusianis yang ‘Hipokrit’, mereka itu adalah “Orang Bijak Palsu” atau pseudo gentlemen (伪君子wei jun zi) seperti ini. Inilah yang menyebabkan Zhuangzi dan murid-muridnya serta para pengikutnya menentang mereka.

Alasan Kedua :  Konfusianis ‘Ingkar akan sifat kodrat alam manusia’.  Menurut Zhuangzi dan pengikutnya ‘Sifat Kodrat Manusia’ adalah alamiah dan wajar, beliau mengatakan kaki bebek pendek, tidak mungkin untuk dipanjangkan; kaki burung bangau panjang tidak mungkin kita perpendek, semua seperti apa adanya menurut kodrat alam. Tapi Konfusianis coba untuk melanggar kodrat alam ini, mencoba mengubah semua orang menjadi bersifat ‘Cinta Benevolence, Kebenaran, kebajikan dan ber-Moralitas/ber-Akhlak’  (仁义道德ren yi dao de)’, inilah yang dikatakan ‘Ingkar akan sifat kodrat alam manusia’     
(“Seperti halnya Kong Hu Cu, Mensius banyak mengajarkan tentang Watak Sejati (Xing) manusia yang memiliki sifat bajik dari Tian yakni berupa Cinta Kasih (Ren), Kebenaran (Yi), Li (Tatakrama/Susila), Akhlak (De) dan Dapat dipercaya (Xin).”)

Dalam buku “Zhuangzi”  ada cerita lain lagi seperti berikut ini. Di Negara Song ada seorang pejabat tinggi, menanyakan Zhuangzi apa itu ‘Cinta Benevolence’.  Zhuangzi menjawab : ‘Cinta Benevolence’& ‘Keadilan’ itu adalah juga dimiliki macan dan srigala.  (虎狼仁也《庄子 外篇 天道》hu lang ren ye).  
Pejabat ini jadi bingun dan bertanya :”Macan dan srigala mana bisa punya rasa kasih sayang, Konfusianis mengatakan bahwa sifat ini hanya milik manusia, bagaimana bisa macan dan srigala memiliki sifat ini”    
Zhuangzi berkata: “Konfusianis mengatakan ‘cinta benevolence’ adalah cinta kekerabatan, cinta antara anak dan ibu bapak dan seterusnya. Macan dan srigala juga memiliki sifat yang sama.”     
Perkataan Zhuangzi ini bermakna apakah rasa “kasih & keadilan” 仁义 itu juga termasuk “tatakrama & budi’(道德dao’de)? Jika ya, maka macan dan srigala juga memiliki ‘tatakrama dan budi’道德. Jadi antara manusia dan binatang tidak ada bedanya,  jika manusia dan binatang berbeda maka seharusnya “rasa kasih & keadilan” 仁义 itu juga berbeda dengan “kebajikan dan Moralitas/Akhlak’道德.

Alasan ketiga: Zhuangzi menganggap bahwa –‘Cinta Benevolence, Kebenaran, Kebajikan dan Moralitas/akhlak’  (仁义道德ren yi dao de)’ Merusak kodrat alam (破坏天性po huai tian xing).  Untuk ini Zhuangzi dan mungkin muridnya telah menyusun satu cerita seperti berikut :

Kong Hu Cu dengan hingar bingar mempromosikan ‘Cinta Kasih, Kebenaran, Kebajikan dan Moralitas/Akhlak’  (仁义道德ren yi dao de)’, untuk tujuan ini telah dikarang banyak sekali buku-buku tentang hal ini. Akhirnya tidak menemukan tempat untuk menyimpannya, dan berpikir untuk menyimpannya di perpustakaan. Zi Lu mengusulkan kepada gurunya, agar menghubungi Lao Dan (老聃) yang menjabat sebagai ‘Kepala Perpusataan’ Raja Zhou.   Agar mau menyimpan buku guru untuk disimpan diperpustakaan istana. Kong Hu Cu berpikir benar juga, maka beliau menemui Lao Dan sambil membawa tumpukan buku-buku karangannya.   

Tapi Lao Dan menolak, mengatakan bahwa perputakaan tidak bisa menerima buku-bukunya. Tapi Kong Hu Cu menjelaskan bahwa buku-buku ini baik sekali isinya, sambil membuka salah satu bukunya beliau menjelaskan isinya.
Lao Dan mengatakan: “Haiya.... kamu ini benar-benar rumit, penjelasannya juga berbelit-belit, ceritakan saja intinya. Buku sekian banyak inti pemikirannya yang terpenting itu apa ?”. Kong Hu Cu menjawab ; “Karangan saya ini inti sarinya hanyalah dua kata “仁义”=”Rasa Kasih & Keadilan” .  
LaoDan bertanya : “Apakah Rasa Kasih & Keadilan” “仁义” ini sesuai dengan kodrat manusia?”  (要在仁义《庄子 外篇  天道》yao zai ren yi). 
Kong Hu Cu menjawab : “Tentu saja. Sangat sesuai dengan kodrat manusia. Rasa kasih (ren) dan Adil(yi) memang sesuai dengan kodrat alam manusia, seorang bijak jika tidak punya ‘rasa kasih’ (ren) dia tidak akan bisa berdiri sendiri, jika tidak ber-keadilan maka tidak akan bisa hidup. Ini menunjukan bahwa perasaan ini adalah sesuai dengan kodrati manusia, tidak perlu diragukan lagi.”(君子不仁则不成  不义则不生  仁义  真人之性也  又将奚为矣《庄子 外篇  天道》 Jun zi bu ren ze bu cheng, bu yi ze bu sheng, ren yi, zheng ren zhi xing ye, you jiang xi wei yi).
Lao Dan bertanya :” Apa sih yang dimaksud dengan ‘Rasa Kasih dan Keadilan’(仁义ren yi) itu?” 
Kong Hu Cu menjawab : “Dengan tulus hati mengharapkan semua orang berbahagia, mencintai semua orang, tidak egois.” (中心物恺  兼爱无私《庄子 外篇  天道》zhong xin wu kai, jian ai wu si). 
Lao Dan mengatakan : “Haiya, ini bukanlah sifat kodrati manusia, ini mengacaukan akan sifat kodrati manusia...” ( 夫子   乱人之性也《庄子 外篇  天道》yi , fu zi, luan ren zhi xing ye)

Laozi mengatakan demikian karena menurut beliau sifat kodrati manusia itu adalah alamiah, tidak perlu dirubah oleh manusia, jika dia itu memang benar-benar bersifat mencintai semua orang, tidak perlu harus seorang Kong Hu Cu yang mengajarinya, otamatis dia akan mengcintai semua orang. Semua mahluk hidup didunia semua mempunyai alasan untuk hidup apa adanya menurut alamiahnya, memiliki cara hidupnya sendiri. Semula semua orang telah hidup harmonis, sekarang Anda coba “mengatur-atur” untuk apa? Yang Anda gembar-gemborkan ‘Rasa Kasih dan Keadilan’ (仁义ren yi) itu sebenarnya apa? Justru ini menunjukan bahwa  kalian sok pintar, seolah-olah tahu segala hal, merasa paling benar sendiri, justru ini adalah “egois” terbesar.

Menurut sebagian cendikiawan Lao Dan ini apakah benar Laozi masih diragukan, tapi banyak yang mengatakan memang dia ini Laozi. Benar tidaknya belum ada kepastian. Tapi kemungkinan bukan orang yang menulis buku “Laozi”. Tapi karangan buku ini ada kaitannya dengan Lao Dan. Sedang dalam Buku “Laozi” orang yang dikatakan Laozi juga menentang ‘Rasa Kasih dan Keadilan’(仁义ren yi) gagasan dari kaum Konfusianis.

Menurut Laozi ‘Rasa Kasih dan Keadilan’仁义 adalah hasil yang diakibatkan dari hancurnya sistim ‘Cinta Kasih, Kebenaran, kebajikan dan Moralitas/Akhylak’  (仁义道德ren yi dao de), dengan hancurnya sistim ini maka ‘Rasa Kasih dan Keadilan’(仁义ren yi) barulah muncul.  

Kata-kata Laozi yang berkaitan dengan hal ini adalah : Saat ‘Kebajikan dan Moralitas/Akhlak’道德 runtuh maka ‘Cinta Kasih dan Keadilan’仁义muncul, dengan banyaknya gagasan yang muncul maka kepalsuan juga ikut bermunculan, hubungan kekerabatan berantakan, maka setiap orang diminta untuk cinta ibu bapak, harus baik hati, ibu bapak harus cinta anak-anaknya. Hal ini perlu diusulkan karena hubungannya telah tidak harmonis.

Jika negara kacau maka muncul pejabat-pejabat yang setia, jika keadaan damai-damai tidak ada pergolakan, maka tidak dibutuhkan pejabat setia atau tidak setia. Karena negara kacau maka perlu dikeluarkan gagasan untuk setia kepada negara. Jadi anak yang cinta orang tua, pejabat yang setia, digunakan sebagai contoh dan teladan agar setiap orang mengikuti perbuatannya, belajar darinya.

Karena jika semua pejabat sudah setia, tidak perlu lagi pejabat setia atau tidak setia. Jika semua anak cinta orangtua tidak perlu lagi dianjurkan untuk cinta atau tidak cinta orangtua. Jika semua orang pada baik, apakah ada lagi diperlukan orang baik? Tidak perlu lagi teladan orang baik sebagai simbol atau panutan. Jika semua orang sudah hebat, baik, tidak ada lagi diperlukan teladan sebagai orang hebat dan baik.   

Justru karena “kebaikan dan kehebatan” telah runtuh, maka diperlukan keteladanan agar orang lain mencontohnya. Dan kodrat manusia justru jika tidak ada maka setiap orang akan diam-diam, seperti juga seperti pedagang yang dagangannya tidak laku justru yang paling keras berteriak-teriak untuk menawarkan barangnya, yang laris akan diam tidak ada suaranya, tidak perlu lagi berteriak-teriak untuk menawarkan barang dagangannya. Padangan ini sesuai degan pandangan dialektika dari Laozi. (大道废  有仁义,智慧出  有大伪,六亲不和  有孝慈,国家昏乱   有忠臣《老子第18章》Da dao fei  you ren yi, zhi fei chu  you da wei, liu qin bu he  you xiao ci, guo jia hun luan  you zhong chen).

Dialektika Laozi mengatakan : ‘yang paling terang kelihatannya akan sangat gelap, yang paling maju akan terlihat paling terbelakang.  Maka ‘tata krama’ yang tertinggi adalah yang tidak ada ‘tata krama’. Tidak diperlukan tata krama lagi karena semua orang sudah ber-tata krama. Inilah dialektika Laozi yang menjadi axioma yang pasti terjadi.   
(明道若昧  进道若退《老子第41章》ming dao ruo mei, jin dao ruo tui).

Maka dalam Buku ‘Laozi’ Bab 38 (老子 38) menjadi bagian yang sangat penting, menjadi Kitab “De” Bab pertama. Seperti yang diketahui secara umum buku Laozi disebut “Dao De Jing”(道德经), yang dibagi menjadi bagian pertama dan bagian kedua “Dao Jing” (道经) dan “De Jing” (德经).

Selama ini umum dikenal “Dao Jing” menjadi bagian depan dan “De Jing” menjadi bagian belakang. Tapi menurut temuan archeologi, buku “Laozi” yang ditemukan di Chang Xa Ma Wang Dui (长沙马王堆), justru “De Jing” didepan dan “Dao Jing” dibelakang. Maka dapat dikatakan bahwa Bab 38 ini bisa dikatakan sebenarnya merupakan Bab 1 dari Kitab ”Laozi” yang ditemukan di Chang Sha Ma Wang Dui yang isinya terkenal dengan kata-kata sebagai berikut:  (道可道  非常道 dao ke dao , fei chang dao).  Yang dapat diartikan, “Kebenaran yang hakiki tidak bisa diucapkan”.  

‘Kebajikan dan Moralitas’ kelas tertinggi terlihat sepertinya tidak ada kebajikan dan bermoralitas, seolah-olah “tidak ada kebajikan dan moralitas” sama sekali, maka dalam keadaan demikian tidak diperlukan lagi ada komentar tentang hal ini.

Itu sudah terjadi semestinya, keadaan demikian justru yang ada dengan sendirinya adalah “Rasa Kasih dan Moralitas”. Para cendikiawan menilai ini merupakan prakata pokok dalam mengeritik kaum Kongfusianis.

Justru dalam Bab ini dijelaskan secara gamblang alasan mengapa mereka menentang ‘Rasa kasih & Keadailan’(仁义ren yi) dari Konfusianis. ‘Kebajikan dan Moralitas’ yang kelas rendah adalah karena ketakutan kehilangan ‘Rasa kasih dan Moralitas’, akhirnya justru benar-benar ‘Tidak ada Kebajikan dan Moralitas’(无德wu de) *6  
(上德不德   是以有德   下德不失德   是以无德《老子 38章》 Shang de bu de, shi yi you de, xia de bu de shi de, shi yi wu de (de = Morals, morality, virtue, personal conduct, moral integrity, honor).

Seperti biasanya jika sesuatu dipikirkan ada, justru menjadi tidak ada, makin takut tidak ada justru benar-benar menjadi tidak ada. Sebaliknya jika tidak takut tidak ada maka benar-benar tidak bisa tidak ada. Jadi mereka menekankan kewajaran. Jika kita takut kehilangan sesuatu, justru akan terjadi benar-benar hilang, tapi jika kita wajar-wajar saja maka yang ada akan tetap ada. Jika tidak takut menjadi tidak ada akibatnya tetap ada.

Misalnya dalam suatu pertandingan olahraga, saat pertandingan berlangsung, jika makin ingin menang dan ingin menjadi juara maka makin tegang dan akhirnya benar-benar kalah dan tidak dapat juara, sebaliknya jika bertanding dengan tenang dan wajar-wajar saja menurut keunggulannya akhirnya benar jadi juara.

Menurut Laozi mengapa orang takut kehilangan ’Rasa kasih dan Moralitas’, menurut mereka sederhahana saja karena sudah tidak ada lagi ’Rasa Kasih dan Moralitas’. Karena sudah tidak ada, tapi tidak boleh tidak ada, maka harus dicari kembali. Kemudian bagaimana untuk meraih kembali ini, tidak ada cara lain harus dengan tiga cara yaitu : ‘Cinta Benevolence’(ren) ; ‘Keadilan/Kebenaran’ (yi) ;  ‘Tatakrama’ (li).

Ketiga cara diatas ini menjadi cara untuk meraih kembali dan memupuk lagi sistim ‘Cinta Kasih, Kebenaran, kebajikan dan Moralitas/Akhlak’  (仁义道德ren yi dao de) ini. Namun menurut Laozi hal ini tidak akan sama seperti aslinya, saat manusia primitif pertama yang telah melaksanakannya dalam masyarakatnya.   


Menurut hemat Laozi sepertinya seorang yang telah butung kakinya, kemudian diganti dengan kaki palsu, walaupun fungsi berjalannya terlaksana, tapi tidak akan sama seperti kaki aslinya. Maka menurut Laozi semua gagasan Konfusianis untuk ‘Cinta/Benevolence’, ‘Keadilan/Kebenaran’ dan ‘Tatakrama’ semua ini hanya tergolong kelas rendah.

Sedang ‘Cinta/Benevolence’, ‘Keadilan/Kebenaran” dan ‘Tatakrama’ juga ada tiga tingkatan : ‘Cinta Benevolence’ (ren), merupakan tingkat pertama dari yang kelas rendah.
‘Keadilan/Kebenaran’ (yi) merupakan tingkat dua dari yang kelas rendah.
‘Tatakrama’ (li), merupakan tingkat tiga dari kelas yang rendah.  

Menurut Laozi  ‘Kebajikan dan Moralitas’ dibagi kelas tinggi (上德shang de) dan kelas rendah (下德xia de).  Yang tergolong Akhlak kelas tinggi (上德shang de):  ‘tidak berbuat’ juga ‘tidak pikir untuk mau berbuat’. (无为而无不为 wu de er wu bu de). 

Yang tergolong Akhlak kelas rendah(下德shang de) dibagi lagi menjadi: ‘Cinta Benevolence’ kelas atas (上仁shang ren) yaitu ‘Berbuat tapi tidak niat berbuat’.  ‘Keadilan/Kebenaran’ kelas atas (上义shang yi) yaitu ‘Berbuat juga ingin berbuat’ (为之而有以为wei zhi er you yi wei).  ‘Tatakrama’ kelas atas(上礼shang li) yitu ‘Tatakrama’ yang terbaik adalah mau berbuat juga ingin berbuat, kenyataannya akhirnya memang berbuat, jika orang lain tidak memberi respon, maka dia akan menggulung lengah bajunya, untuk memaksa orang untuk berbuat seperti apa yang dia inginkan. Jadi tidak saja dirinya berbuat, tapi juga memaksa orang lain harus juga berbuat. Inilah yang paling buruk. 
(为之而莫之应   则攘臂而扔之《老子38章》wei zhi er mozhi ying, ze rang bi er reng zhi).

Jadi dalam konteks ini, menurut pendapat Laozi yang terbaik adalah ‘Tidak Berbuat’(无为wu wei) yaitu tidak berbuat dan tidak ingin berbuat jadi inilah yang kelas wahid/tertinggi. Telah berbuat tapi tidak ingin berbuat itu yang kelas dua.  Telah berbuat dan ingin berbuat, itu yang kelas tiga. Yang terburuk adalah dirinya berbuat dan memaksa orang lain juga berbuat. Jadi kesimpulannya yang terburuk itu adalah ‘tatakrama’(li).

Kemudian dari mana datangnya ‘Cinta Benovolence’, ‘Keadilan/Kebenaran, ‘Tatakrama’(仁义礼)? Tidak lain akibat runtuhannya ‘Kebajikan dan Moralitas’  (道德dao de).   Laozi mengatakan karena ‘Kebajikan dan Moralitas’  (道德dao de) runtuh maka muncullah ‘Cinta Benevolence’, karena ‘Cinta Benevolence’ tidak jalan, maka diusulkan ‘Keadilan/Kebenaran’, karena ‘Keadilan/Kebenaran’ tidak juga jalan, maka diusulkan ‘Tatakrama’  
( 失德而后仁   失仁而后义  失义而后礼《老子38章》shi de er hou ren, shi ren er hou yi, shi yi er hou li).

Bagaimana ‘Kebajikan dan Moralitas’  (道德dao de) bisa runtuh ? Laozi mengatakan karena ‘Dao’ dibuang,  maka ‘Kebajikan dan Moralitas’  (道德dao de) yang paling tinggi juga hilang.  (失道而后德《老子38章》shi dao er hou de).   

Dalam falsafat Laozi, “Dao” ini merupakan satu unsur pokok yang sangat penting. Dalam buku “Laozi” sebanyak 14 Bab hanya memperbincangkan tentang “Dao”, yang sangat populer adalah sebagai berikut:
Dari Dao terjadilah satu, dari satu terjadilah dua, dari dua menjadi tiga dan seterusnya. (道生一   一生二   二生三 dao sheng yi, yi sheng er, er shang san). Manusia harus belajar dari alam dan menyesuaikan diri dengan alam. (人法地   地法天   天法道   道法自然 ren fa di, di faf tian, tian fa dao, dao fa zi ran). Kebenaran hakiki tidak bisa diucapkan dengan kata-kata, kebenaran yang bisa diucapkan dengan kata-kata bukanlah Kebenaran hakiki. (道可道  非常道 dao ke dao , fei chang dao),

Apakah “Dao” itu? Untuk bisa mengerti apa itu Dao maka perlu dijelaskan dulu apa itu De.   Karena tanpa Dao tidak ada De, tanpa De juga tidak akan ada Dao.   De menurut etimologi aksara Mandarin terdiri dari simbol satu mata melihat(mengeker) jalan, yang mempunyai arti “Lurus”, karena dengan mengeker jalan dengan satu mata biasanya adalah lurus. Di bawah garis lurus ditambah simbol hati (). Jadi mempunyai makna memandang dengan satu mata pada jalan, maka akan terlihat lurus.  


Jadi D ini adalah Kebenaran yang didapat dari Dao atau kebenaran hakiki. Dan kebenaran adalah lurus.

Kebenaran itu datang dari mana? Adalah dari “Jalan” yang dapat dilihat.  “Jalan” yang mana ? Yaitu  “Jalan” terbesar dalam Alam Semesta yang disebut Dao.
Dengan kata lain De adalah sesuatu yang didapat dari Dao, dan dari Dao bisa memungkinkan De untuk mendapatkan sesuatu.

Tapi De yang dimaksud Laozi adalah ‘Tidak Berbuat’ (无为wu wei), jika memang ‘Tidak Berbuat’ (无为wu wei) itu sesuatu yang didapat dari “Dao” .  

Maka “Daoà “Tata Tertib” (规律gui li) ; De à’Tata Cara’ (方式 fang shi). “Dao” adalah “Tata Tertib” hasil dari perkembangan pokok peradaban manusia.  “De” adalah “Tata Cara” ( pattern/way/mode) perkembangan pokok peradaban manusia. Maka kesimpulannya “Dao” tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata.  道可道  非常道 dao ke dao , fei chang dao.     Kebenaran hakiki tidak bisa diucapkan dengan kata-kata, kebenaran yang bisa diucapkan dengan kata-kata bukanlah Kebenaran hakiki.   Kebenaran hakiki adalah kebenaran yang tidak bisa berubah, tidak terpengaruh dengan situasi dan kondisi apapun, karena datangnya dari “ketiadaan” ( kosong, hampa ) (wu).

Diatas dikatakan bahwa De didapat dari Dao, jadi Dao merupakan titik pangkal. Menurut kaum Daois “Dao” sama dengan  “ketiadaan” (kosong, hampawu).   Menurut pengertian Daois segala sesuatu dalam alam semesta ini dimulai dari “ketiadaan”, dimana berasal dari tidak ada : “waktu” ; “ruang” ; “energi” ; “ informasi”, kondisi  inilah asal muasal “Alam Semesta”. Maka disebutkan “ Dari Tiada menjadi Ada “(无中生有wu zhng sheng you. Jadi semua yang ada ini bermula dari ‘Tiada’. Karena ‘Tiada’ jadi tidak ada yang dapat dikatakan apa-apa. Dengan begitu kita mengucapkan ‘Tiada’ maka sudah menunjukan itu ‘Ada’. Itulah yang dimaksud dengan  “Dao” tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata.
Kebenaran hakiki tidak bisa diucapkan dengan kata-kata, kebenaran yang bisa diucapkan dengan kata-kata bukanlah Kebenaran hakiki. .   (道可道  非常道 dao ke dao , fei chang dao )

Sekarang yang menjadi pertanyaan dari mana kaum Daois mendapat teori “Tiada” ini? Menurut cendikiawan didapat dari pengamatan perkembangan peradaban manusia. Karena yang dimaksud dengan Dao oleh Laozi adalah “Tata Tertib” yang merupakan hasil perkembangan pokok peradaban manusia. Kesimpulan ini hanya bisa didapat dari penelitian dan pengamatan cermat dari perkembangan peradaban manusia.   

Jadi jika kembali lagi kepada pendapat Laozi dan Zhuangzi, masyarakat yang didambakan mereka adalah masyarakat yang : Tanpa kelas (tingkatan); tanpa kontradiksi/pertentangan ; tanpa ada perjuangan; tanpa ada kecerdikan; tanpa ada tata peraturan dan tanpa ada pemerintahan. Ini yang dimaksud ‘Tiada’wu.  (ingat kata-kata Zhuangzi : Penguasa seperti daun dipohon yang tinggi diatas puncak gunung, yang berarti tidak perlu berbuat apa-apa hanya melihat saja. Sedang rakyat berada diatas tanah atau lapangan rumput berlarian leluasa seperti kijang. 上如标枝   民如野鹿  《庄子  天地》shang ru biao zhi, min ru yr lu) dan (Laozi mengatakan bahwa para penguasa tidak boleh pintar, harus tidak smart, sehingga tidak mengusik-usik rakyat, maka setiap orang merasa tidak diusik-usik. Jika penguasa terlalu pandir bikin macam-macam peraturan yang ketat, maka rakyat akan berusaha mencari celah peraturan atau membuat strategi untuk melawannya, maka lebih baik penguasa tidak perlu pintar.  (其政闷闷   其民淳淳  其政察察  其民缺缺《老子第58章》Qi zheng men men, qi min chun chun, qi zheng cha cha, qi min que que )

Doais (daojia) berpendapat bahwa zaman Dao () adalah yang terbaik, tapi masyarakat Dao yang didambakan oleh Doisme adalah “Tiada’ (wu), apapun tidak ada. Kemudian yang jadi pertanyaan, masyarakat yang dimaksud itu adalah masyarakat yang bagaimana? Apakah dalam sejarah peradaban manusia, masyarakat demikian pernah benar-benar terjadi ? Inilah yang perlu kita bahas.

Menurut pendapat kaum cendikiawan yang dimaksud Masyarakat Dao adalah masyarakat tribal primitif. Untuk lebih jelasnya mungkin bisa dilihat dari Kitab Tata-Krama “礼记Li Ji”*7 , bagaimana melukiskan masyarakat primitif pada masa itu.   (Buku ini disusun tidak oleh seseorang, tapi sebagian besar oleh Kong Hu Cu dan murid-muridnya, terdiri dari lebih dari 90 ribu huruf, yang cakupan isinya sangat luas. Termasuk masalah politik, hukum, tata tertib, filsafat, sejarah, persembahan, kesenian, kehidupan sehari-hari, tatakrama, ilmu bumi dan lain lain. Buku ini benar-benar bernilai ilmiah dalam peradaban manusia).    

Dalam Kitab ini masyarakat tribal primitif dilukiskan mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
Pada zaman ini masyarakat memilih orang yang terpandai secara demokrasi untuk dijadikan pemimpin, semua orang saling percaya mempercayai satu sama lain, cinta damai, setiap orang tidak hanya cinta kepada ibu bapak sendiri, atau hanya cinta anaknya sendiri, tapi mencintai semua orang, mencintai semua orang tua, mencintai semua anak-anak, semua orang tua akan mendapat perawatan hingga akhir hayatnya, semua pemuda yang sehat kuat akan mendapatkan pekerjaan, semua anak akan mendapat pendidikan yang sempurna, semua orang sakit, orang catat, orang lemah akan dipelihara oleh masyarakat bersama. Semua lelaki akan mendapat pekerjaan yang cocok, wanita akan mendapat jodoh. Barang ditaruh dimanapun tidak akan ada yang mungut atau dicuri. Semua tanaga yang dicurahkan bukan untuk diri sendiri tapi untuk semua. Tidak ada akal muslihat, tidak ada maling dan perampok, malam hari pintu rumah tidak perlu ditutup. Masyarakat demikian dinamai Da Tong大同 ---- (Sosialis Primitif) 
(选贤与能  讲信修睦  故人不独亲其亲  不独子其子  使老有所终  壮有所用   幼有所长   鳏寡孤独  废疾者  皆有所养   男有分   女有归   货恶其弃于地也  不必藏于已   力恶其不出于身也  不必为已  是故谋闭而不兴   盗窃乱贼而不作  故外户而不闭  是为大同《礼记 礼运》Xuan xian yu neng, jiang xin xiu mu, gu ren bu du qin qi qin, bu du zi qi zi, shi lao you suo zhong, zhuang you suo yong, you you suo chang, guan gua gu du, fei ji zhe, jie you suo yang, nan you fen, ni you gui, huo ee qi qi yu di ye, bu bi zhang yu yi, li ee qi bu chu yu shen ye, bu bi wei yi, shi gu mou bi er bu xin, dao qie luan zei er bu zuo, gu wai hu er bu bi, shi wei da tong).    

{Apakah masyarakat yang demikian memang pernah ada didunia? Menurut hemat penulis di Indonesiapun masyarakat ini ada bekas-bekasnya. Pernah dua puluhan tahun yang lalu (tahun 1970an) penulis mengujungi masyarakat Badui di Koboje – Banten Selatan dan tinggal disana beberapa malam, disini dapat dirasakan masyarakat sosialis primitif, apa yang kita bawa berupa makanan untuk semua orang, setiap orang boleh mengambil secara bebas, tidak ada indivualis. Dan lumbung desa milik semua orang, setiap orang tidak serakah untuk mengambil seenaknya. Tidak ada perkelaian, karena menurut hukum adat setempat jika terjadi perkelaian ada sanksi dikeluar dari masyarakat dan daerah mereka.}

Tapi kemudian keadaan masyarakat berubah, sehingga terjadilah :
1.    Adanya harta pribadi.
2.    Semua orang hanya cinta terhadap ibu bapaknya sendiri, hanya cinta terhadap anak sendiri.
3.    Pemimpin tidak dipilih secara demokratis lagi, tapi berdasarkan keturunan.
4.    Harta kekayaan dan tenaga yang dikeluar hanya untuk diri sendiri.
5.    Dibangun benteng-benteng kota.
6.    Ada tata krama kesopanan dan semacamnya.
7.    Adanya pembagian berdasar nama-nama pribadi.
8.    Adanya sistim-sistim masyarakat dan peraturan-peraturan.
Akibat dengan adanya hal-hal tersebut diatas, maka timbul akal muslihat, terjadilah perang. Masyarakat yang demikian dinamai (Xiao Gang小康 ) (Tidak Sehat).

Dengan pelukisan masyarakat diatas dapat dilihat bahwa yang dimaksud oleh Daois sebagai zaman Dao adalah zaman Da Tong大同. Dinamakan demikian karena ciri dari Da Tong adalah Dao besar atau jalan besar à Zaman Dao
(大道之行也  天下为公《礼记 礼运》da dao zhi xing ye, tian xia wei gong).    

Sedang masyarakat Xiao Gang小康 adalah zamannya “Tata Cara” De, karena Dao besar sudah tidak ada lagi dalam dunia, dunia sudah  jadi sistim kekerabatan. 
(大道既隐  天下为家《礼记 礼运》da dao ji yin, tian xia wei jia).   
Maka disebutkan hilangnya Dao/”Tata tertib” perlu adanya (De)“Tata Cara”. 
(失道而后德《老子28章》shi dao er hou de).   
Zaman De yang paling baik adalah pada saat Zhou Gong周公, beliau mengatur negara dengan De atau ”Tata Cara” hal ini akan dibahas kemudian.

Namun sampai zaman ‘Peperangan Musim Semi & Gugur’ semua De sudah tidak ada lagi. Zaman Zhou Gong sudah lewat. Maka pada zamannya Kong Hu Cu hidup merupakan periode akhir dari zaman ‘Peperangan Musim Semi & Gugur’春秋 (tahun 770SM - 475SM), beliau memberi gagasan tentang ‘Cinta Benevolenceren’.    

Sampai pertengahan zaman ‘Peperangan Negara-negara’战国 (tahun 475SM - 221SM), ‘Cinta Benevolenceren’ gagasan dari Kong Hu Cu juga tidak ada orang yang mau dengar lagi. Maka Mensius keluar untuk memberi gagasan ‘Keadilan/Kebenaran’Yi, disebut zaman ‘Keadilan/Kebenaran’Yi.    

Sampai periode akhir dari ‘‘Peperangan Negara-negara’战国, ‘Keadilan/Kebenaran’Yi dari gagasan Mensius juga tidak ada yang mau dengar. Keluarlah Xunzi(荀子) memberi gagasan akan ‘Tata Krama’ (li). Tapi ketika Xunzi akan memberi gagasannya, keadaan menjadi lebih kacau lagi. Jadi zaman ‘Tata Krama’ (li) adalah titik kekacauan masyarakat yang paling optimum. Saat itu sudah tidak ada aturan sama sekali, semua sistim, sopan santun, tatakrama tidak ada orang yang mau dengar, semua diabaikan. Satu sama lain tidak ada yang bisa dipercaya, semua main licik-licikan, main akal muslihat. Sejarah memang membuktikan hal ini, seperti cerita sejarah dibawah ini.

Pada saat periode akhir zaman ‘Peperangan Negara-negara’(战国zhanguo), saat itu di Tiongkok ada ‘Tujuh Negara Kuat’ yang disebut 7 super power (战国七雄 zhan guo qi xiong) yaitu negara-negara Qi; Chu; Yuan; Han; Zhao; Wei; Qin dan beberapa negara kecil lainnya.  

Kala itu Negara Qin yang dianggap paling berbahaya oleh negara-negara lainnya. Maka dibentuk persekutuan 6 negara Qi, Chu, Yuan, Han, Zhao, Wei untuk melawan Qin. Aliansi ini dinamai “Persekutuan Enam Negara” (合纵联横He Zong Lian Heng).    


Pada saat perkutuan ini terbentuk Negara Chu dan Negara Qi juga sudah dalam persekutuan ini, bahkan Raja Chu Huai Wang (楚怀王) dari negara Chu () menjadi Ketua Persekutuan dari Enam negara tersebut, sebagai Panglima dari persekutuan ini. Tapi dengan tiba-tiba Raja Chu berpaling muka dan mengumumkan putus hubungan dengan Negara Qi.

Hal ini terjadi karena terpengaruh oleh bujukan Zhang Yi (张义) patih dari Negara Qin (), yang menemui Raja Chu dengan berkata : “Asal Anda memutuskan hubungan dan berpaling muka dengan Negara Qi, maka kami akan menghadiah Anda 600 li (=500 meter) tanah.”   
Raja Chu berpikir “Ini boleh juga, 600 li tanah.”

Tapi setelah hubungan diputuskan, Raja Chu mengutus pejabatnya ke Negara Qinmenagih hadiah tanah yang dijanji itu kepada Zhang Yi (张义). Tapi Zhang Yi ingkar dan bersikukuh mengatakan bahwa janjinya hanya 6 li. Maka Raja Chu Huai Wang (楚怀王) menjadi marah sekali ditipu demikian, serta merta mengirim pasukan menyerang Negara Qin. Tapi justru tentaranya kalah besar dan babak belur.    

Negara Wei () dan Negara Han () melihat Negara Chu kalah perang dan tentaranya babak belur, maka mengambil kesempatan menggempur Negara Chu.
( 又发兵打楚国   怀王背信弃义   张义坑蒙拐骗     魏趁火打劫   Han wei you bing da chu guo, huai wang bei xin qi yi, zhang yi keng meng guai pian, han wei chen huo da jie).

Inilah kelicikan-kelicikan yang terjadi pada zaman ‘Peperangan Negara-negara’战国, saat itu tidak ada yang disebut teman atau teman baik, semua saling tipu menipu, saling pasang siasat satu sama lain, tidak ada yang bisa dipercaya. Itulah situasi pada Zaman periode akhir ‘Peperangan Negara-negara’(战国晚期zhan gua wan qi).

Melihat perkembangan sejarah diatas, maka Laozi menyimpulkan bahwa dari keadaan masyarakat yang sangat baik yaitu ‘Zaman Dao atau Masyarakat tribal primitif’ setapak demi setapak merosot dari : Zaman Dao à De à Cinta Benevolence/Ren à Keadilan/kebenaran à Tata Krama.


Dengan hukum logika Laozi jika terus dilanjutkan maka terakhir manusiapun tidak akan ada lagi. Maka melihat perkembangan ini, Laozi mengusulkan untuk mengerem perkembangan peradaban yang demikian itu dengan kembali hidup seperti pada “Masyarakat Tribal Primitif” yaitu “sorga dunia”. (鸡犬之声相闻  民至老死   不相往来《老子18章》ji quan zhi sheng xiang wen, min zhi lao si, bu xiang wang lai).   

Pada zaman tersebut diatas dikatakan tidak ada lagi kelas atau tingkat status masyarakat, tidak ada pertentangan, tidak ada apa itu yang disebut perjuangan, tidak ada lagi diperlu kepandiran-kepandiran, tidak ada lagi diperlukan tata tertib, karena semua sudah tertib, tidak perlu ada penguasa atau pemerintahan ..... Inilah masyarakat ideal yang diusulkan oleh Doaisme atau yang disebut ‘Tiada (wu)’.

Laozi dan Zhuangzi sama-sama mengusulkan “Tidak Berbuat / 无为wu wei”, tapi antara mereka berdua juga ada perbedaan, “Tidak Berbuat / 无为wu wei” yang diusulkan tidaklah sama,   tujuannya juga tidak sama.    

Maka sampailah kita pada persoalan, dimana letak perbedaan Laozi dan Zhuangzi? Dalam tulisan berikut ini perlu kiranya kita bahas tentang perbandingan antara Laozi dan Zhuangzi.  Juga perlu dibahas tentang perbandingan antara Konfusianisme dan Daoisme pada tulisan yang selanjutnya.

( Bersambung .......... )

*6   Morals, morality, virtue, personal conduct, moral integrity, honor. [道德, 品行, 节操.] 
        http://en.wikipedia.org/wiki/De_%28Chinese%29
*7.  http://baike.baidu.com/view/73645.htm
《礼记》是战国秦汉年间儒家学者解释说明经书《仪礼》的文章选集,是一部儒家思想的资料汇编。《礼记》的作者不止一人,写作时间也有先有后,其中多数篇章可能是孔子的七十二名关门弟子及其学生们的作品,还兼收先秦的其它典籍
《礼记》的内容主要是记载和论述先秦的礼制、礼仪,解释仪礼,记录孔子和弟子等的问答,记述修身作人的准则。实际上,这部九万字左右的著作内容广博,门类杂多,涉及到政治、法律、道德、哲学、历史、祭祀、文艺、日常生活、历法、地理等诸多方面,几乎包罗万象,集中体现了先秦儒家的政治、哲学和伦理思想,是研究先秦社会的重要资料。

《礼记》全书用记叙文形式写成,一些篇章具有相当的文学价值。有的用短小的生动故事阐明某一道理,有的气势磅礴、结构谨严,有的言简意赅、意味隽永,有的擅长心理描写和刻划,书中还收有大量富有哲理的格言、警句,精辟而深刻。

Daftar  Perpustakaan
-          先秦诸子百家争鸣易中天 CCTV
-          经典阅读文库 ---- 论语       李薇/主编
-          经典阅读文库 ---- 道德经       李薇/主编
-          中国古典名著精品 ---- 菜根谭      洪应明  
-          Internet : http://friesian.com/confuci.htm  : Confucius
-          孔子  -----   維基百科,自由的百科全書 Internet
-          网址:http://www.popyard.org
-          中国人生叢书    -----   墨子的人生哲学        杨帆/主编    陈伟/
-          Internet : http://baike.baidu.com
-          The Sayings of Mensius / 英译孟子      史俊赵校编
-          南华经    庄子   周苏平    高彦平   注译    安徽人民出版社
-          庄子   逍遥的自由人     林川耀 译编  出版者 :常春树书坊
-          http://www.sxgov.cn/bwzt/wmsxx2/lf/447465_1.shtml   春秋五霸之---晋文公
-          “When China Rules The World -  The rise of middle kingdom and the end of the western world”  by Martin Jacques ALLEN LANE an imprint of Penguin Book, First Published 2009


1 comment: