Sunday, 26 June 2016

Kong Hu Cu – Kongfusianisme – Pendukung dan Pengeritik Pada Zaman Pra-Dinasti Qin 551 – 221 SM
Jilid IV
( 4 )


Pisau Bermata Dua & Tiga Bilah Golok 
两面三刀 (Liang mian san dao)

Seperti telah diuraikan dimuka bahwa kaum Legalisme ini sangat berbeda sekali dengan kaum Konfusianis, Motisme, Daoisme yang masing-masing mencoba memberi “Resep Obat” untuk memperbaiki keadaan kacaunya masyarakat kala itu. Konfusianis mengusulkan ‘Cinta Benevolence’(仁爱ren ai) , Motis mengusulkan‘ Cinta Universal’(兼爱jian ai) dan Daois atau Lao-Zhuang mengusulkan ‘Tidak Berbuat’ (无为wu wei), yang juga berpengertian tidak perlu obat tapi menenangkan diri.   Sedang usulan dari Legalisme adalah sebilah pisau jagal manusia.

Penguasa tertinggi selama memegang erat-erat pisau ini, maka bisa mengatasi segala masalah urusan dalam negeri. Namun apakah pisau dari Legalisme sama dengan pengertian Hukum kita zaman sekarang? Pisau mereka ini kiranya mengadung arti yang bagaimana? Ketidak samaannya dengan gagasan dari Konfusianis, Motis, Daois, yang menampilkan sifat-sifat kodrati manusia dari sisi yang mana? Marilah kita bahas satu per satu.

Pisau yang disumbangkan Legalis kepada Penguasa tertinggi adalah “Pisau bermata dua dan tiga bilah Golok” , mengapa mereka menyumbangkan pisau ini? Untuk membahas ini terlebih dahulu perlu kita cari fakta-faktanya.

Siapakah kaum Legalisme itu? Jika kita coba mengambil pengertian berdasarkan “Aliran yang mengusulkan mengatur negara dengan peraturan atau hukum” maka akan salah.  Aliran Legalisme ini sebenarnya telah lahir cukup lama, hanya matangnya sangat terlambat menurut ukuran keadaan kala itu. Jika ditelisit lebih jauh sebenar aliran ini sudah mulai lahir pada permulaan zaman ‘Peperangan Musim Semi & Gugur’ yaitu pada tokoh yang bernama Guan Zhong管仲 .  Siapakah Guan Zhong ini ? Dia ini adalah tokoh yang membantu Raja Qi Huan Gong (齐桓公) menjadi Super Power. Dengan apa Guan Zhong membantu Raja Qi Huan Gong sehingga berhasil menjadikan Super Power? Tidak lain dengan Ba Dao (霸道) atau Dengan ‘Kekerasan’.


Kekerasan yang bagaimanakah yang digunakan Guan Zhong ? Secara garis besarnya adalah :
-   Mengadakan sensus penduduk (查户口zha hu kuo)
-   Menetapkan Sistem Negara (定编制ding bian zhi)
-   Melaksanakan Sistem Militerisasi (实行军管shi xing jun guan)

Qi Huan Gong meminta pedoman untuk mengatur negara kepada Guan Zhong, Guan Zhong mengusulkan pertama harus membagi masyarakat negara menjadi empat golongan :
-   Kaum Professional(shi)
-   Kaum Tani(nong)
-   Kaum Pertukangan(gong)
-   Kaum Pedagang(shang)

Golongan orang-orang ini harus dimukimkan ditempat yang berbeda, Kaum Professional(shi) ditempatkan dilokasi yang paling bagus dan istimewa. Petani ditempatkan  di desa atau daerah pertanian. Buruh ditempat disekitar Istana, karena mereka bekerja membuat macam-macam barang kebutuhan berupa barang kerajinan dan lain-lain. Pedagang ditempat disepanjang tepi jalan-jalan pusat perdagangan.   

Setelah dilokasikan mereka tidak diperkenankan berpindah-pindah lagi. Harus dijamin bahwa keturunan Kaum Professional tetap sebagai kaum professional, keturunan Petani tetap sebagai petani, keturunan Pertukangan tetap sebagai tukang, keturunan Pedagang tetap sebagai pedagang.   

Untuk tujuan ini diseluruh negeri didirikan 15 pemukiman kaum professional, dengan strata sosial sebagai berikut :



gui = Seperti Rukun Tengga kita, setiap RT terdiri dari 5 keluarga, dipimpin seorang Ketua RT yang disebut (轨长gui chang). Dari setiap RT diambil 5 orang untuk dijadikan pasukan.
li = Seperti Rukun Warga kita, terdiri dari 10 RT. Ketuanya disebut Ketua RW (里长li chang). Dari setiap RW diambil 50 orang untuk dijadikan pasukan.
lian = Seperti Kelurahan kita, terdiri dari 4 RW. Ketuanya disebut Kepala Lurah (连长lian chang). Dari setiap Kelurahan diambil 200 orang untuk dijadikan pasukan.
xiang = Seperti Desa kita, terdiri dari 10 Kelurahan. Ketuanya disebut Kepala Desa (乡长xiangchang). Dari setiap Desa diambil 2000 orang untuk dijadikan pasukan.
jun = Divisi. Terdiri dari 5 Desa. Maka satu Divisi terdiri dari 10,000 tentara atau pasukan.

Seluruh negara dibagi menjadi 15 Desa, jadi mereka memiliki 3 Devisi Pasukan (jun).
Bagian Tengah dipimpin oleh Raja, Bagian Kanan dan Kiri dipimpin oleh Dafu.
Menurut Guan Zhong dengan pembagian sosial demikian, maka negara ditanggung akan menjadi Super Power (称霸cheng ba).

Gagasan ini menjadi sumber lahirnya Legalisme. Jadi Legalisme adalah gagasan yang mengadalkan pada ‘Sistim Peraturan dan Penanganan Secara Taktis’ dalam mengurus negara. (规章制度和枝术手段gui zhang zhi du he zhi shu shou duan).  

Maka kaum cendikiawan Barat ada yang menamakan kaum Legalisme Tiongkok ini “School of Administer Thought” “Aliran Kaum Administrasi” (行政管理学派xing zheng guan li xue pai). Ada juga yang menamakan “School of Judicial Administer Thought” atau “ Aliran Kaum Administrasi Judicial atau Keadilan” (司法与行政理学派si fa yu xing zheng li xue pai). Mereka bukanlah Kaum atau aliran yang mengusulkan pengaturan negara dengan hukum sebagai Negara Hukum.

Guan Zhong (管仲) mengusulkan gagasan ini kepada Qi Huan Gong tujuannya agar Qi Huan Gong bisa merealisasikan untuk menjadi super power. Yaitu agar bisa “Menciptakan Sejarah Dengan Kekuatan” (“横行霸道”heng xing ba dao). Untuk keberhasilan ini maka Raja harus memegang kekuasaan tertinggi atau sebagai Panglima Tertinggi.  Dengan gagasan Guan Zhong ini sebenarnya Negara dijadikan satu markas tentara besar. Panglima Tertinggi ada ditangan Raja. Legalisme adalah Aliran yang mengusulkan “Kekuasaan Totaliter Raja”.     

Maka oleh cendikiawan Yi Zhong Tian mengusulkan, Konfusianis seharusnya disebut Kaum Budimanisme (儒家  德家 ru jia  de jia),   Legalis seharusnya disebut Kaum Totaliterisme (法家   权家 fa jia   quan jia).   Usulan Kaum Legalisme ini sangat cocok dengan kemauan para Raja kala itu, yang menginginkan menjadi super power. Sehingga Pemikiran Kaum Konfusianis dan Motis sangat populer dikalangan kaum terpelajar atau pemikir, sedang Legalis populer dalam dunia politik dan pengaruhnya sangat besar.

Sebagai pecetus Legalisme, Guan Zhong melalui usulannya telah menjadikan Raja Qi Huan Gong sebagai pemegang kekuasaan totaliter, membantu Raja ini menjadi Raja pertama dalam zaman ‘Peperangan Musim & Gugur’ sebagai Negara Super Power pertama.

Li Kui (李悝), Shang Yang (商鞅), Shen Bu Hai (申不害)*11 adalah tokoh-tokoh kaum Legalisme yang menjadi pejabat negara yang telah membantu para Raja dan negaranya menjadi Kaya dan Militer Kuat. Pada akhir  zaman ‘Peperangan Negara-negara’, Hanfei telah merangkum semua pikiran-pikiran pendahulunya, dan menyempurnakan lagi, sehingga lebih memberi kekuasaan yang lebih kokoh dan sempurna kepada Penguasa Tertinggi atau Raja. Namun usulan yang diberikan ini berupa sebilah ‘Pisau Bermata Dua dan Tiga Bilah Golok”( 两面三刀Liang mian san dao).

Yang dimaksud dengan ‘Pisau Bermata Dua dan Tiga Bilah Golok”( 两面三刀Liang mian san dao) merupakan hasil dari ‘Kekuasaan Totaliter Raja’ dan “Menciptakan Sejarah Dengan Kekuatan” (“横行霸道”heng xing ba dao).


Pisau bermata dua pada saat itu adalah pisau yang depan belakang tajam, pengangannya berada ditengah dinama disebut juga Erbing (二柄). 

Hanfei mengatakan “Pisau dua mata itu, mata yang satu berarti sanksi (xing), yang satu lagi berarti hadiah (de = disini berarti hadiah), atau istilah Mandarinnya “Hadiah & Hukuman” (/&/shang /jiang & fa/cheng). Pisau dua mata Hanfei ialah ancaman dan imbalan hadiah. Bagi si pelanggar peraturan berarti mati, dan bagi yang berjasa akan diberi imbalan hadiah.

Juga berarti “Ancaman dan Imbalan”  (二柄者  刑德也   杀戮之谓刑   庆赏之谓德《韩非子 二柄》  Er bing zhe, xing de ye, sha lu zhi wei xing, qing shang zhi wei de

Tiga bilah golok :
-   Golok Kekuasaan (shi)
-   Golok “Siasat” (Shu ) atau = Siasat Berkuasa
-   Golok “Legal”(fa)

Golok pertama dinamai kekuasaan(shi), seorang Raja harus punya kekuasaan terbesar, kedudukan tertinggi. Ini pertama kali diusulkan oleh seorang yang bernama Shendao (慎到), dia mengusulkan ini bertujuan untuk melawan usulan Motis tentang ‘Cinta’ dalam mengaturan negara. Memang Konfusianis juga ada sedikit mengusulkan hal yang sama yaitu “Pimpinan harus berupa orang unggulan yang berbudi pekerti baik dan Bajik, dan mempunyai keahlian”. Konfusianis dan Motis sama dan sejalan dalam hal ini. Tapi menurut Legalis, ini semua tidak perlu, menurut mereka yang diperlukan Pimpinan harus mempunyai ‘Kekuasaan’, harus mempunyai ‘Kedudukan’.

Shendao(慎到) mengatakan: Mengapa Naga bisa berterbangan di langit, karena dia menumpang awan-awan yang berterbangan dilangit.  Awan itu merupakan “Kekuasaan” dia, begitu awan itu dicabut langit menjadi cerah tidak berawan, maka Naga ini akan jatuh ke bumi, dan akan seperti semut dan cacing tanah, tidak ada bedanya.   

Pendapat Shendao ini ada yang menentang,  mengatakan bahwa pendapat Shendao ini salah, sebab memang benar bahwa Naga tanpa awan tidak akan bisa terbang kelangit, tapi semut dan cacing tanah walaupun ada awan juga tidak akan bisa terbang kelangit. Kualitas seorang pemimpin sangat berpengaruh, lihat saja sama-sama memiliki ‘Kekuasaan’ tapi mengapa Yao Shun (尧舜) bisa mengatur negara dengan baik, namun mengapa Jie Zhou (桀纣) justru sebaliknya membuat negaranya menjadi kacau? Masalahnya karena kualitas pribadi masing-masing berbeda.     

Argumen Hanfei : Memang benar walaupun ada awan, semut dan cacing tanah tidak mungkin bisa terbang kelangit. Tapi seorang Raja asalnya juga dari dunia ini, bagaimana bisa menjamin bahwa sang Raja ini memang berasal dari Naga atau Burung Hong. Bagaimana bisa menjamin bahwa sang Raja ini bukan seekor semut dan cacing tanah? Tokoh-tokoh seperti Yao, Shun, Jie, Zhou belum tentu dapat kita temui lagi dalam ratusan tahun yang akan datang, tidak mudah untuk menemukan lagi tokoh serupa dengan mereka. Dan sekarang Raja-raja kita ini semua hanyalah orang biasa, tidak sebaik Yao, Shun dan tidak sejelek Jie Zhou (桀纣), mereka ini semua hanya orang seperti kita ini. Kita dalam membuat suatu sistim, mana mungkin berpendoman kepada manusia-manusia langka ini, harus berpedoman kepada manusia biasa, dan harus menjamin orang biasa yang menjadi Raja diberi ‘Kekuasaan’ . Inilah Pisau Pertama dinamai Kekuasaan (shi) dari Legalis.

Golok kedua : Dinamakan Shu () atau “Siasat”  dengan kata lain ‘Siasat Berkuasa’.
Tidak hanya harus punya kekuasaan, tapi perlu punya Teknik Berkuasa, punya siasat untuk berkuasa. Hal demikian banyak sekali ditulis dalam buku Hanfei. Semuanya berhubungan bagaimana mencelakakan orang, namun dalam konteks ini kita hanya akan membicarakan tentang tulisannya yang berhubungan dengan bagaimana memproteksi diri kita sendiri.

Ada cerita tentang Jin Wen Gong晋文公 (Raja Negara Jin). Han Fei menceritakan bahwa suatu kali Jin Wen Gong  waktu makan mendapat suguhan masakan Daging Panggang, tapi Raja melihat bahwa pada permukaan daging panggang tersebut tergulung seutas rambut orang.
Raja Jin Wen Gong marah, dipanggillah sang juru masak. Kepada sang juru masak dia mengatakan; “Kamu bermaksud membunuh saya ya! ” .  
Sang Juru masak berlutut dan mengatakakan : “Hamba memang mempunyai kesalahan fatal tiga macam. Pertama,  pisau hamba walaupun sangat tajam dan sangat mudah sekali untuk memotong daging, semua daging dapat hamba potong, hanya rambut tidak mampu hamba potong. Ini adalah kesalahan fatal hamba yang pertama.   Yang kedua,  ketika hamba akan panggang daging tersebut, dengan tusukan sate besi hamba tusuk-tusuk semua daging-daging tersebut, semua potongan daging tersebut bisa terlihat oleh hamba, tapi hanya rambut ini tidak terlihat. Ini merupakan kesalahan fatal hamba kedua. Yang ketiga, ketika daging tersebut hamba letakan diatas api untuk dipanggang, daging sudah matang, jusnya telah keluar, tapi rambut ini tidak juga mau terbakar. Ini adalah kesalahan fatal hamba ketiga. Benar-benar hamba ini patut dihukum mati.”   
Mendengar penjelasan ini Raja serta merta mengerti, bahwa masalah rambut ini ada pihak ketiga yang coba men-sabotase, ada yang coba mencelakakan dia. Setelah diselidiki memang benar ada orang yang coba mencelakakan sang juru masak ini.    

Ini merupakan salah satu teknik dari siasat Hanfei. Dari cerita ini Hanfei ingin menyampaikan pesan bahwa jika menghadapi suatu kasus perkara, maka perlu untuk diadakan penyelidikan seksama dengan melihat latar belakang perkara yang bersangkutan. Penyebab timbulnya perkara ini perlu diselidiki, perkara ini menguntungkan pihak mana dan siapa yang dirugikan. Dengan demikian dapat ditemukan orang yang menyebabkan kasus tersebut terjadi. Ini yang dinamakan dengan ‘Pisau Siasat’ (Shu ).

Golok ketiga : Dinamakan “Legal”(fa).
Yang dimaksud disini bukan Legal seperti yang kita sekarang namakan “Hukum”, mungkin sebagian memang ada termasuk dalam hukum yang kita anut sekarang. Karena semua peraturan dan perintah-perintah dari penguasa bagi Hanfei adalah Legal atau Hukum.

Untuk ini Hanfei memiliki suatu rumusan yang mengatakan : Apa itu hukum, adalah semua ketentuan yang ditetapkan oleh penguasa, ketentuan ini merupakan suatu patokan. Patokan tersebut harus disosialisasikan dan ditanamkan dihati semua hati rakyat, maksudnya agar rakyat itu memahami apa yang boleh diperbuat, apa yang tidak boleh diperbuat. Ini yang dinamakan “Legal” oleh Hanfei.
(法者  宪令著于官府   刑罚必于民心  赏存乎幀法  而罚加乎奸令者也《韩非子  定法》 Fa zhe, xian ling zhu yu guan fu, xing fa bi yu min xin, shang fu hu zheng fa, er fa jia hu jian ling zhe ye).

Jadi tiga ciri khas dari ‘Legal’nya Hanfei  adalah :
-   Peraturan dan Instruksi menjadi Ketentuan  Mutlak (明文规定ming wen gui ding)
Tidak boleh dibantah dan tidak boleh sembarangan dinilai atau dikomentari. (Ini bukan hukum lagi. Hukum seharusnya tertulis dan ada bukti hitam diatas putih).
-   Ketentuan ditetapkan penguasa (官方制定guan fang zhi ding) . (Tidak ada demokrasi rakyat).
-   Diumumkan secara terbuka (公开宣布gong kai xuan bu).  Tidak boleh disembunyikan, harus diumumkan secara sejelas-jelasnya kepada masyarakat.

Hukum dan Siasat dari Hanfei justru berlawanan, menurut Hanfei hukum harus diumumkan terbuka, semua orang harus mengetahui apa yang boleh dan tidak boleh diperbuat. Tapi siasatnya rakyat tidak boleh mempengetahui. Siasat hanya dimiliki Raja untuk menghadapi orang lain. Jadi peraturan atau hukum lebih terbuka lebih baik, tapi siasat lebih misterius dan tertutup akan lebih baik.  Inilah Golok ketiga dari kaum Legalisme.
(法莫如显  而术不欲见《韩非子  难三》 fa mo ru xian, er shu bu yu jian).   

Jadi ‘Tiga Bilah Golok’ Legalisme adalah:
Kekuasaan (shi), Shu atau Saisat dengan kata lain ‘Siasat Berkuasa’, disebut “Legal”(fa).  
‘Kekuasaan’ (shi) untuk membangun ‘Kewibawaan’(势立威shi li wei).   ‘
Siasat’ (Shu ) untuk menghadapi para pejabat.(术驭臣shu yu chen). 
‘Legal’(fa) untuk memerintah rakyat.(法治民fa zhi min).   

Tiga bilah golok memiliki manfaat yang berbeda. Tapi pendek kata adalah masalah ‘Imbalan dan Hukuman’(shang dan fa). Kedua pisau/golok diatas disebut ‘Pisau Bernata Dua dan Tiga Bilah Golok’ dari Legalisme. Yang merupakan usulan dasar dari kaum Legalis.

Aliran Legalisme pada garis besarnya terbagi menjadi Tiga aliran :
-   Shendao (慎到)  menitik beratkan akan ‘Kekuasaan’ (shi)
-   Shenbu Hai (申不害) menitik beratkan akan ‘Siasat’ ( Shu )
-   Shangyang (商鞅) menitik beratkan ‘Legal’(fa)
-   Hanfei (韩非) merangkaum ketiganya, mengusulkan gabungan dari ‘Kekuasaan’ (shi), ‘Siasat’ ( Shu ), dan ‘Legal’(fa).

Usulan kaum Legalis ini bertujuan untuk memberi kekuasaan tertinggi dan sangat besar kepada penguasa Tertinggi atau Raja, melalui ‘Pisau bermata dua dan tiga bilah pisau’ ini oleh Raja dijadikan alat berupa jaring besar untuk menguasai dan memerintah negara dan rakyat.

Kemudian sisi dasar kemanusiaannya terletak dimana? Menurut pandangan Kaum Legalis usulan Kaum Konfusianis tentang ‘Cinta Kasih, Kebenaran, kebajikan dan Moralitas’ (仁义道德ren yi dao de) ’ mengapa tidak dapat digunakan untuk dasar penyelesaian dan mengatasi keadaan negara kala itu? Penyebabnya sangat sederhana, karena mereka berpendapat bahwa usulan ini tidak bisa dipakai, dan tidak cocok untuk digunakan.

Berkaitan ini Hanfei bercerita (Hanfei seperti diketahui tidak cakap berbicara tapi sangat baik dalam menulis dan pandai bercerita):   Suatu ketika Raja Wei Hui Wang (魏惠王) atau Liang Hui Wang梁惠王 bertanya kepada seorang yang bernama Bupi (卜皮) : “Menurut Tuan saya tergolong Raja yang bagaimana ? ”.      
Bupi menjawab : “Hamba mendengar bahwa YM adalah seorang yang sangat murah hati, dan mengerti balas budi.”       
Hui Wang bertanya lagi : “ Tuan ini banyak bepergian kesana kemari pasti bertemu banyak orang, banyak melihat pasti berpengetahuan banyak. Coba Tuan katakan kebaikan dan murah hati saya ini kiranya sampai pada tingkatan yang bagaimana?”.   
Bupi menjawab: “Haiiya, hamba mendengar bahwa tingkatan kebaikan dan murah hati YM sudah sampai pada tarap dimana negara menjelang runtuh.”.    
Hui Wang bertanya : “Mengapa bisa demikian? Bukankah baik hati dan murah hati itu adalah sifat Kebajikan dan Berbudi(道德)? Mengapa bisa meruntuhkan negara?”.   
Bupi menjawab: “Seorang yang baik hati dan murah hati akan tidak tegah menjatuhkan hukuman kepada orang. Dan orang yang murah hati sering membabi buta membagikan hadiah dan penghargaan kepada orang lain. Maka akibatnya orang yang bersalah dan pesakitan tidak dianggap berdosa dan tidak dihukum, yang tidak berjasa apa-apa juga diberi hadiah. Dengan demikian apakah tidak berakibat negara jadi runtuh?”.

Menurut Hanfei sifat ‘Cinta Benvolence’ ini justru berakibat negara menjadi bangkrut dan runtuh, karena Penguasa tidak memanfaatkan dengan tepat “Pisau Bermata Dua”. Pisau ini tidak boleh dipakai sembarang, harus digunakan menurut aturannya. Harus digunakan dengan siasat, digunakan berdasarkan kekuasaan dan aturan.

Maka Hanfei mengatakan: “Pejabat harus mengatur Dafu (大夫) dan Direktur rumah tangganya(家臣jia chendengan ketat dan disiplin, sehingga mereka tidak ada yang tidak menurut dan berani coba-coba membangkang”. 

Ini seperti dalam keluarga, jika anak-anaknya dimanjakan setiap hari, hampir dipastikan seluruh anak-anaknya akan gagal. (严家无悍虏  而慈母有败子《韩非子  显学》yan jia wu han lu, er ci mu you bai zi).  Pandangan Hanfei ini menjadi salah satu pemeo dikalangan orang Tionghoa yang mengatakan: “Dengan tongkat menjadikan anak menjadi baik, dengan sumpit (makan) menjadikan anak jadi bergajul dan berengsek.”  
(棒子头下出孝子   筷子头下出浪子 bang zi tau xia chu xiao zi, kuai zi tuo xia chu lang zi).

Hanfei bercerita lagi: di negara Song ada seorang Penguasa Daerah (诸侯zhu huo) yang mempunyai seorang pejabat bernama Zihan (子罕), orang ini sangat licin. Dia berunding dengan majikannya dan mengatakan: “Kita ini dalam memerintah rakyat sudah memakai cara “Pisau Bermata Dua” yaitu dengan memberi Imbalan dan Hukuman. Tapi rakyat sangat senang akan ‘Imbalan dan Hadiah’ tidak suka ‘Hukuman’ bagaimana ya?”.   
Sang Penguasa Daerah bodoh ini terbengon-bengon juga dan bertanya: “Bagaimana ya baiknya?”. 
Zihan berkata: “Begini saja rakyat jelas akan suka hadiah, jadi kekuasaan untuk memberi hadiah Yang Mulia saja yang pegang, kekuasaan untuk menghukum orang biar hamba saja yang pegang.”.   
Penguasa Daerah bodoh ini berpikir orang ini boleh juga: “Boleh, boleh kekuasa menghukum biar kamu saja yang pegang. Dan Saya spesial memegang kekuasaan untuk yang baik-baik saja, untuk membagi-bagikan hadiah. kamu menjadi pejabat ‘Penghukum’ atau Hakim.”

Belakangan justru rakyat ini sangat mengharapkan Hadiah  dan sangat takut kepada Hukuman, akibatnya semua orang menjadi pengikut dari Zihan dan menjadi penurut atas  perkataan Zihan. Setahun kemudian Zihan (子罕) menggeser kedudukan sang majikan melalui kekuatan rakyat.     

Hanfei mengatakan menurut cerita ini, apakah yang disebut ‘cinta dan moral, berbudi baik’ masih bisa dipakai? apa masih berguna? Nyata-nyata sama sekali tidak berguna. Karena menurut Hanfei kita harus tahu hubungan antara manusia dengan manusia lainnya itu sesungguhnya hubungan yang bagaimana? Sama sekali bukan apa yang diusul oleh Konfusianis yaitu ‘Cinta Kasih, Kebenaran, Kebajikan dan Moralitas’ (仁义道德ren yi dao de)’. Melainkan tentang ‘Untung atau Rugi”. 

Apakah seperti apa yang diusulkan oleh Konfusianis tentang ‘Saling Mengalah’? Juga bukan. Melainkan adalah tentang ‘Kalkulasi atau Perhitungan tentang Untung atau  Rugi’. 
Hanfei lebih lanjut mengatakan: “Misalnya seorang majikan dan tuan tanah yang memakai tenaga kerja atau petani pekerja, pada siang hari dan malam hari tuan tanah ini dengan baik hati menghantar makanan kepada para pekerjanya dengan makanan dan minuman yang enak-enak. Dalam hal ini apakah sang majikan atau Tuan tanah ini ‘Cinta’ terhadap para pekerja? Bukan. Melainkan karena mengharapkan para pekerjanya supaya kenyang dan bekerja lebih giat untuknya. Sebaliknya para pekerja ini bekerja dengan giat dan berusaha hasil panenannya menjadi berlimpah, apakah karena mereka ini ‘cinta’ terhadap sang Majikannya? Juga tidak. Tapi hanya mengharapkan jika hasilnya baik dapat mendapatkan gaji yang lebih tinggi.”

Hanfei ada cerita lagi : Di Negara Wei ada sepasang suami istri, sang istri setiap hari ber-doa minta perlindungan untuk suaminya agar selamat, dan diberi berkah seratus gepok (gulung) kain atau seratus tael uang. Melihat ini sang suami menjadi heran dan mengatakan: “Cukuplah berdoa”, sang suami sama sekali tidak percaya. Dia sadar bahwa itu tidak akan membawa keuntungan apa-apa. Tapi begitu sudah menjadi kaya, dia memelihara istri muda. Sama sekali tidak bisa dipercaya.

Lebih lanjut Hanfei berujar, lihat rakyat kecil begitu mendapatkan seorang Putra senangnya bukan main, tapi jika mendapatkan seorang putri menjadi cemberut sedih. Mengapa? Karena menganggap seorang putra bisa membantu bapaknya untuk bekerja kasar, tapi seorang putri hanya memboroskan uang saja.

Bayangkan saja sikap terhadap sanak keluarganya sendiri ini. Orangtua terhadap sanak keluarganya sendiri saja juga “mengkalkulasi” akan ‘Untung Rugi’nya, apalagi terhadap orang lain yang tidak ada hubungan darah sama sekali. Lebih-lebih lagi hubungan antara Raja, Pejabat, Rakyat sama sekali tidak ada hubungan darah sama sekali.

Pada dasarnya juga tidak ada apa itu yang dinamakan ‘cinta kasih’, bagaimana bisa mengadalkan ‘Cinta & Budi’? Seorang Pejabat mengapa akan mengabdi kepada Raja, karena ingin mendapatkan kedudukan. Sang Raja bisa memanggil mereka untuk bekerja untuknya, karena Raja memberi imbalan kepadanya. Sehubungan dengan hal inilah, maka imbalan tidak boleh diberikan kepada sembarang orang, yang tidak berjasa tidak boleh mendapatkan hadiah, jika imbalan diberikan kepada yang tidak berbhakti dan berjasa akibatnya mereka akan melunjak, yang berakibat kedudukan dirinya akan goyah. Jadi hubungan antar manusia itu tidak lain adalah Masalah Untung Rugi. Maka dari itu harus berhati-hati, sama sekali jangan mudah percaya kepada orang lain.  

Hanfei mengata : “Sebagai pemimpin persoalan yang terbesar adalah tentang ‘Percaya kepada Orang lain’. Begitu kita percaya kepada orang lain, orang ini akan menguasai kamu”.   (人主之患  在于信人  信任  则制于人 《韩非子  备内》  ren zhu zhi bei, zai yu xin ren, xin ren, ze zhi yu ren).

Hanfei mengemukakan, bahwa pada kala itu sanak keluarga dari Raja dan Penguasa Daerah  banyak pihak yang mencoba membunuhnya, mengapa? Karena sistim pemerintahan kala itu adalah berdasarkan keturunan, maksudnya Putra Pertama dari istri pertama merupakan calon penerus jabatannya. Ini merupakan satu ketentuan, tapi pada zaman’Peperangan Negara-negara’ sistim ini justru gugur dan tidak diperdulikan lagi. Semua berdasarkan kepada sang Raja, siapa saja yang dia senangi dan dia pilih bisa menjadi penerus jabatannya. Jika ternyata sang putra sulung dari istri resmi pertama terlihat tidak ada harapan untuk bisa terpilih sebagai penerus maka akan menjadi masalah.    

Menurut Hanfei hal ini terjadi karena seorang laki-laki setelah berumur 50 tahunan akan mempunyai sifat ‘hidung belang’, sedang seorang wanita setelah lebih dari umur 30 tahunan gairahnya akan menurun (ini pada zaman Hanfei, tidak sama dengan zaman sekarang. Saat itu kebanyakan wanita kawin dan punya anak pada umur lebih muda, ditambah lagi kerjanya berat serta gizi makanan tidak sebaik sekarang, jadi orang pada umumnya lebih cepat menjadi tua).

Sedang seorang Raja menghendaki wanita yang umur berapa saja akan tidak menjadi kesulitan. Dan selalu ada saja yang menyodori wanita-wanita cantik dan muda, akibatnya anaknya menjadi banyak. Maka sering terjadi wanita kesayangannya adalah yang muda dan lebih cantik dan bisa merayu serta menarik hatinya, sangat mungkin sang Raja akan menjadikan Putra dari sang wanita ini menjadi calon penerusnya, dan menyingkirkan Putra pertama dari istri pertamanya sebagai Putra Mahkota.

Pada saat-saat demikian maka kemungkinan Ibu dan Putra (istri pertama) dari wanita ini merasa akan berada dalam situasi yang berbahaya. Satu-satunya jalan untuk mengatasi permasalahan ini dengan mempercepat mendapatkan jabatannya, adalah membunuh sang Raja, karena penerus ini hanya bisa mendapatkan jabatannya setelah sang Raja (bapak) meninggal. Bagi si istri dan anak untuk membunuh bapaknya sendiri akan sangat mudah.     Hanfei mengatakan ada dua cara , pertama dengan racun, yang kedua menjerat leher dengan tali. Setelah mengemukakan pendapat ini dia berkata : Anak istri adalah orang yang paling dicintai, orang-orang ini tidak boleh dipercaya.
以妻之近与子之亲   而优不可信   则其余无可信者矣《韩非子  备内》 Yi qi zhi jin zi zhi qin, er you bu ke xin, ze qi yu wu ke xin zhe yi  ( Lalu siapa yang harus dipercaya. Ini benar-benar keterlaluan, kalau bukan mereka siapa yang harus dipercaya ?)

Disini bisa dilihat pandangan kemanusiaan Hanfei yang hanya melihatnya dari satu sisi saja. Dia ini mencoba mengutuk semua usulan dari Konfusianis, Motis dan Daois tanpa tersisa. Justru memperlihat dasar kemanusiannya yang keji, kejam dan haus darah. Ini benar-benar menunjukkan kesadisan dari Hanfei dalam segi kemanusiaan atau humanitinya. Hanfei dengan muka dingin mengemukakan pendapat ini dan sama sekali tidak menunjukan ekpresi muka yang berubah, membuat orang yang melihatnya akan menjadi terperangah.

Bagi pendengarnya bisa merasakan dimana kelembutan (温柔wen rou) dari Konfusianis, Ketegasan (执著zhi zhu) dari Motis, romantismenya Zhuangzi, kini semuanya disikat habis.     

Hanfei merasa pandangannya benar, tapi sebetulnya tidak semuanya benar. Ini bisa dilihat dimana jika terjadi bencana alam dan memakan korban banyak, banyak orang akan iba hatinya dan semangat serta rasa untuk menyumbang itu tergerakan, ini membuktikan bahwa hubungan antar manusia dengan manusia itu ada perasaan, memang ada ‘Cinta Kasih’.

Dari sini bisa membuktikan bahwa pendapat Hanfei tidak benar dan salah. Tapi harus diakui kadang kala pendapat ini pada situasi dan kondisi tertentu ada benarnya. Namun yang perlu diketahui mengapa Hanfei hingga mengatakan demikian? Mengapa dia menempatkan hubungan kemanusiaan ini pada posisi yang begitu buruk? Pemikiran ini kiranya sumbernya berasal dari mana? Marilah kita bahas dalam tulisan berikut.....

( Bersambung .......... )


*10 http://baike.baidu.com/view/591970.html?fromTaglist
孟子《齐桓晋文之事章》 表现了孟子反对霸道、主张王道的仁政思想。他的仁政主张,首先是要给人民一定的产业,使他们能养家活口,安居乐业。然后再“礼义”来引导民众,加强伦理道 德教育,这样就可以实现王道理想。这种主张反映了人民要求摆脱贫困,向往安定生活的愿望,表现了孟子关心民众疾苦、为民请命的精神,这是值得肯定的。但孟 子的思想也有其局限性。一是战国时期,由分裂趋向统一,战争难以避免。孟子往往笼[发‘垄’]统反对武力,显得脱离实际不合潮流。二是他的仁政主张完全建 立在“性善论”基础上,未免过于天真、简单。孟子的思想虽然值得赞许,与当时的却步有很大距离,自然行不通。特色:1、孟子善辩,本文很好地体现了孟子的 论辩风格。2、孟子长于譬喻,本篇也运用了不少生动的比喻.


*11 http://baike.baidu.com/view/77856.htm
申不害(约公元前385~前337) 亦称申子,郑韩时期人物(今河南新郑)人。战国时期韩国著名的思想家。他在韩为相19年,使韩国走向国治兵强。作为法家人物,以“术”者称,是三晋时期法家中的著名代表人物。
郑国灭国之时,申不害年岁约在2030岁之间。作为一个亡国之贱臣,申不害可能杂学诸说。因 为在他之前的管子、李悝、慎到的学术理论中都有“术”的成份。有人根据申不害思想中有道家思想的痕迹,认为他是由道入法。这种说法有一定道理,但不能把他 的思想仅归为道法两家。
申不害相韩时,韩国已处弱势。韩昭侯即位不久,颇具雄心,任用贱臣申不害即为一例,申不害才华得有用武之地。
申不害的学术思想,明显地受到道家的影响,但他的直接来源是老子还是慎到,不得而知。但他的哲 学思想与慎到有极相似之处,他们都遵循老子的大统一哲学。“人法地,地法天,天法道,道法自然”。申不害认为,自然运行是有规律的,也是不可抗拒的。他认 为宇宙间的本质是“静”,其运动规律是“常”。他要求对待一切事情应以“静”为原则,以“因”为方法,“因”指“因循”,“随顺”。“贵因”指“随事而定 之”,“贵静”的表现就是“无为”。申不害把这些原则用于人事,构成他的社会哲学思想。“无为”主张的渊源即《老子》的“绝圣弃智”,申不害的“无为”, 要求的是君主去除个人作为的“无为”,以便听取臣下的意见。但是,申不害仅仅把这种“静因无为”的哲学思想用于“权术”之中。为了完善这种方法,他进一步 发挥《老子》“柔弱胜刚强”的思想,要求君主“示弱”,决不是指君主无所作为,只是君主决策前的一种姿态。在关键时刻,申子要求君主独揽一切,决断一切。 申不害的哲学思想,是君主哲学,是政治哲学。这种哲学由道家的“天道无为”演化发展来,是他的法家“权术”思想的基础。
申不害主“术”,但他所说的“术”,是在执行法的前提下使用的,而“法”又是用来巩固君主统治权的。因此他并不是不讲“法”与“势”的。


Daftar  Perpustakaan
-       先秦诸子百家争鸣易中天 CCTV
-       经典阅读文库 ---- 论语       李薇/主编
-       经典阅读文库 ---- 道德经       李薇/主编
-       中国古典名著精品 ---- 菜根谭      洪应明  
-       Internet : http://friesian.com/confuci.htm  : Confucius
-       孔子  -----   維基百科,自由的百科全書 Internet
-       网址:http://www.popyard.org
-       中国人生叢书    -----   墨子的人生哲学        杨帆/主编    陈伟/
-       Internet : http://baike.baidu.com
-       The Sayings of Mensius / 英译孟子      史俊赵校编
-       南华经    庄子   周苏平    高彦平   注译    安徽人民出版社
-       庄子   逍遥的自由人     林川耀 译编  出版者 :常春树书坊
-       http://www.sxgov.cn/bwzt/wmsxx2/lf/447465_1.shtml   春秋五霸之---晋文公
-       “When China Rules The World -  The rise of middle kingdom and the end of the western world”  by Martin Jacques ALLEN LANE an imprint of Penguin Book, First Published 2009







1 comment: