Sunday, 3 July 2016

Kong Hu Cu – Kongfusianisme – Pendukung dan Pengeritik Pada Zaman Pra-Dinasti Qin 551 – 221 SM
Jilid V
( 2)


Mengembalikan Harkat Manusia

Seperti telah diceritakan bahwa Kong Hu Cu menginginkan kembali pada Sistim dan Ketentuan-ketentuan pada zaman Zhou yang telah lewat, untuk ini beliau coba untuk memulihkan dan mengusulkan dengan gencar agar masyarakat mau mematuhi tatakrama dan ketentuan serta kebudayaan Zhou (礼乐制度和礼乐文化li yue zhi du he li yue wen hua). Namun penguasa dan masyarakat kala itu banyak yang menolaknya, sehingga misinya tidak berhasil.

Dengan kesimpulan diatas kita ingin tahu apa itu ‘Sistim Peraturan yang diciptakan oleh orang Zhou yang disebut Li Yue (礼乐制度li yue zhi du)’, kiranya ini Peraturan dan Ketentuan yang bagaimana? Peraturan atau ketentuan ini mengapa bisa lahir dan dapat dilaksanakan kala itu? Namun Peraturan atau ketentuan tersebut mengapa setelah dapat dilaksanakan dengan baik ratusan tahun, tapi akhirnya runtuh juga? 

Untuk membahas hal ini, pertama kita perlu mengetahui siapakah pencetus dari ‘Peraturan Li Yue’(礼乐制度li yue zhi du) ini? Pertama yang mengusulkan dan dianggap sebagai pencetusnya adalah Zhou Gong (周公).Siapakah Zhou Gong? Dia adalah seorang yang sering bertemu dengan Kong Hu Cu dalam mimpinya, seperti yang telah diceritakan di Jilid I ketika Kong Hu Cu menjelang wafat, beliau mengeluh sudah lama tidak bermimpi bertemu dengan Zhou Gong. Mengapa Kong Hu Cu sering bermimpi bertemu dengan Zhou Gong? Karena Zhou Gong adalah pencetus dan perangkum dari ‘Sistim dan Ketentuan Li Yue dan Kebudayaan Li Yue ( 礼乐制度和礼乐文化li yue zhi du he li yue wen hua).

Zhou Gong (周公) adalah putra dari Raja Zhou Wen Wang (周文王), adik dari Raja Zhou Wu Wang (周武王). Bernama Ji Dan (姬旦), dua tahun setelah Zhou Wu Wang menumbangkan Raja Yin Zhou, Zhou Wu Wang meninggal karena sakit. Penerus kerajaan adalah Putra Mahkota dari Zhou Wu Wang bernama Zhou Chen Wang (周成王), bernama Ji Song(姬诵) . Saat Putra Mahkota naik tahta dia masih balita, jadi Zhou Gong bertindak sebagai pelaksana pemerintahan untuk sementara menunggu putra mahkota dewasa. Selama menjadi care taker, Zhou Gong menyusun “Peraturan Tatakrama, Menyusun dan menata Hirarki Kemasyarakatan dan Kerabatan serta Kompensasi Hiburan” yang dinamakan “Sistim Li Yue”(礼乐制度li yue zhi du).  

Atau dengan kata lain Zhou Gong setelah meraih kemenangan militer, beliau mengadakan “Pembangunan Politik dan Pembangunan Kebudayaan” dengan menanamkan dasar Kebudayaan Zhou, bahkan juga menjadi dasar Perkembangan Kebudayaan Tionghoa hingga kini. Pengaruh ini benar-benar masuk sangat jauh mendalam ke tradisi dan kebudayaan orang Tionghoa hingga dikemudian hari.... Bahkan hingga kinipun sebagai orang Tionghoa masih terpengaruh dengan kebudayaan ciptaan Zhou Gong tersebut.

Yang menjadi pertanyaan mengapa Zhou Gong menciptakan ‘Peraturan Li Yue’(礼乐制度li yue zhi du)? Sebenarnya penyebab langsung diciptakannya kebudayaan ini adalah pelajaran dari runtuhnya Yin Shang Wang (殷商王) . Seperti diketahui saat Zhou Wu Wang mengadakan penyerangan dan menumbangkan Dinasti Shang () waktunya sangat singkat, hanya memakan waktu satu bulan.

Saat itu penyerangan mulai bergerak pada Bulan Satu, Bulan kedua sudah dapat menumbangkan Kerajaan Yin Zhou (殷纣). Ini terjadi kira-kira tahun 1027SM, Zhou Wu Wang memimpin serombangan pasukan untuk menyerang Yin Zhou (殷纣), Raja Yin Shang Wang (殷商王) mendengar ini langsung mengerahkan juga pasukan infantri dan kavaleri sebanyak 700 ribu pasukan untuk menyambut pasukan Zhou Wu Wang. Tapi pasukan ini lebih dari setengahnya adalah pasukan yang dibentuk secara dadakan dari para budak dan tawanan perang, se-hari-harinya telah mengalami tekanan dan siksaan dari Raja Yin Shang Wang (殷商王), mereka sangat dendam terhadap Raja Yin Shang atau Shang Zhou Wang (商纣王), sehingga pasukan ini tidak ada yang bersedia berkorban untuknya. Di medan perang ketika pasukan Zhou menyerbu, mereka berbalik dan menyerang pasukan Raja Shang Zhou Wang (商纣王) yang setia, bersama-sama pasukan Zhou menyerang pasukan Shang(). Sehingga 700 ribu pasukan dengan sangat singkat akhirnya bisa dikalahkan dan dihancurkan. Raja Shang Zhou Wang (商纣王) melihat situasi demikian akhirnya bunuh diri, maka runtuhlah Dinasti Shang.

Mempertimbangkan peristiwa ini, dimana sebuah Kerajaan besar dalam satu bulan bisa runtuh, sehingga membuat orang Zhou sendiri juga tidak mengerti dan percaya serta tak habis pikir bahwa hal ini bisa terjadi.  

Maka berpikirlah mereka, satu Kerajaan Yin Shang (殷商) yang begitu besar dan kuat, begitu diserang langsung tumbang. Penyebabnya apa? Setelah mereka pelajari, ditemukanlah jawabannya, mereka ini ‘Sangat tidak menganggap orang sebagai manusia’(不把人当人bu ba ren dang ren), inilah unsur terpenting kenapa kerajaan ini tumbang begitu mudahnya.

Bagaimanakah Kerajaan Yin Shang (殷商) ini dalam memberlakukan sikap ‘Tidak menganggap orang sebagai manusia’?  Pada pokoknya ada dua unsur penting :
-   Orang sebagai Qurban (人牲ren sheng)
-   Orang dikubur hidup-hidup untuk menemani orang yang meninggal (人殉ren xun)

Orang sebagai Qurban(人牲ren sheng) dimana orang dibunuh untuk persembahan dalam upacara keagamaan yang besar sekali. Qurbannya adalah menyembelih manusia hidup.  Dalam upacara seperti ini jika Qurbannya adalah binatang disebut “Hewan Qurban’(畜牲 chu sheng), binatang/hewan sebelum disembelih disebut sheng(). Hewan untuk Qurban dan Persembahan bulunya harus rata dan homogen, jika putih harus putih mulus sekujur badannya, demikian juga jika warna hitam harus mulus. Hewan berwarna demikian disebut xi (), tubuh hewan yang sempurna dan tidak cacat disebut sheng (). Namun baik itu chu sheng (畜牲) atau xi sheng (牺牲) keduanya adalah binatang. Tapi ren sheng (人牲) yang di-Qurban-kan adalah manusia hidup dalam persembahan agamanya, jadi kesimpulannya ‘Tidak menganggap orang sebagai manusia’ .   

Ren xun (人殉), adalah orang hidup di-Qurban-kan untuk menemani orang yang telah meninggal, dengan dikubur dalam liang kubur yang sama.   Peristiwa begini sangat banyak ditemukan bukti-buktinya oleh para arkeolog dalam eksplorasinya, kadangkala ada juga orang dan anjing dikubur dalam satu liang lahat.

Dalam masa Kerajaan Yin Shang (殷商) yang di-Qurban-kan tidak hanya para budak, tapi juga para rakyat jelata, bahkan kaum bangsawan sekalipun. Mengapa bangsawan juga di-Qurban-kan? Karena agama Yin Shang menyembah Roh dan Dewa, sangat hormat terhadap Roh dan Dewa. Jika mengadakan upacara agama yang besar atau saat mengadakan persembahan untuk Raja yang meninggal, maka yang akan menjadi Qurban adalah ‘Bangsawan’. Karena Qurban ini dipersembahkan untuk “Dewa & Roh”nya, jadi menganggap Qurban itu sebagai hadiah kepada para “Dewa & Roh” nya. Hadiah makin besar maka pahalanya akan makin besar, meng-Qurban-kan bangsawan adalah hadiah besar, jika Qurbannya ‘Rakyat Biasa’ termasuk kategori hadiah menengah, jika Qurbannya budak termasuk kategori hadiah kecil. Jadi jika Qurbannya budak harus berjumlah banyak.   

Akibat dari kebiasaan Qurban ini menjadi penyebab utama runtuhnya Kerajaan Yin Shang(殷商), karena tidak mendapat dukungan Rakyat dan masyarakat. Ketika Zhou Wu Wang bergerak untuk menyerang Kerajaan ini, dan berhadapan dengan pasukan Kerajaan Yin Shang(殷商), sebelum terjadi pertarungan semua pasukannya berbalik arah dan mengarahkan tombak-tombak dan senjata-senjatanya kebelakang bukannya kearah lawan. Akibatnya pasukan Kerajaan Yin Shang(殷商) yang menghadang pasukan Zhou Wu Wang menjadi Pasukan terdepan dari pasukan Zhou Wu Wang. Maka tidak heran jika dalam sebulan “Kerajaan Besar” runtuh.   Pelajaran ini benar-benar menyedihkan. Maka Zhou Gong berpikir dan berkesimpulan bahwa Kerajaan Zhou yang baru menang perang ini jangan sampai berkembang menjadi seperti demikian.

Dari pelajaran ini Kerajaan Zhou mengadakan perbaikan budaya sosial masyarakat dengan mengambil tindakan-tindakan sebagai berikut :
-   ‘Me-manusia-kan Orang’ (把人当人ba ren dang ren)
-   ‘Me-manusia-kan Dewa-dewi’ (把神当人ba shen dang ren)

Pelajaran pertama adalah jika Kerajaan Yin Shang (殷商) ‘Tidak Menganggap Orang Sebagai Manusia’, maka sekarang Zhou sebaliknya akan  ‘Me-manusiakan Orang’(把人当人ba ren dang ren) dan inilah Yang Disebut Benevolence atau ‘Cinta Benevolence’ (仁爱 ren ai).  (ren) dalam aksara Tionghoa disebut 人其人(ren qi ren) atau ‘Me-manusia-kan Orang’ (把人当人ba ren dang ren).   

Bagaimana untuk ‘Me-manusia-kan Orang’? Adalah menghapuskan Qurban. Melarang dan meniadakan Qurban dalam segala persembahan agama. Yaitu menghapus semua sistim dan ketentuan serta kebiasaan : Orang sebagai Qurban(人牲ren sheng) dan Orang dikubur hidup-hidup untuk menemani orang yang meninggal (人殉ren xun)

Menurut sebagian cendikiawan ada yang mengatakan bahwa mereka (orang Zhou) berhasil menghapuskan aturan ini, tapi menurut sebagian cendikiawan lagi berpendapat masih belum benar-benar berhasil, karena cara-cara Qurban demikian masih saja berlangsung hingga zaman Dinasti Qin dan Han ( 秦汉) {Qin tahun 221-205SM ; Han206SM-220M}.

Disaat Kaisar Qin (秦始王Qin Shi Wang) meninggal dalam makamnya juga masih mengubur banyak sekali orang-orang hidup bersamanya. Namun walaupun Aturan dan Sistim ini tidak terhapuskan sama sekali, tapi dalam lubuk hati orang Zhou telah ditanamkan suatu pandangan dan pengertian bahwa segala bentuk Qurban itu adalah salah.

Berkaitan dengan masalah ini ada bukti-bukti dan catatan sejarah sebagai berikut: Pertama tentang Raja Song Xiang Gong (宋襄公), dia ini juga merupakan salah satu dari lima Super Power pada zaman ‘Peperang Musim Semi & Gugur’ . Pernah sekali Song Xiang Gong bersekutu dengan Negara Chao() dan Zhu(), saat upacara peresmian persekutuan Song Xiang Gong sebagai Panglima Persekutuan meminta Raja Zhu Wen Gong (邾文公) untuk membunuh Raja Ceng() pada upacara peresmian persekutuan itu.

Ini adalah Qurban manusia, sedang yang jadi Qurban adalah seorang Raja dari negara kecil. Tapi salah satu pejabat Raja Song Xiang Gong(宋襄公) yang bernama Ziyu (子鱼) menentang peng-Qurban-an tersebut. Dia mengatakan : Upacara persembahan yang kecil tidak boleh memakai Qurban yang besar. 
(小事不用大牲而况敢用人乎祭祀以为人也《左传.僖公19年》 xiao shi bu yong da sheng, er kuang gan yong ren hu). *  (Zaman itu ada 6 tingkatan Qurban disebut ‘六牲liu sheng’ yaitu: Kuda, Sapi, Kambing, Babi, Anjing, Ayam ).  Tapi dalam upacara tersebut diatas kenyataannya yang menentang untuk Qurban Raja Ceng tidak berdaya, akhirnya Raja Ceng() jadi Qurban. ( Negara Ceng ini termasuk kategori negara ke 4 = Zi Jue子爵), sedang Negara Song adalah negara besar ( Gong Jue公爵). Usaha meng-gagalkan Qurban kali ini walaupun tidak berhasil, tapi telah menunjukkan suatu pandangan penentangan atas cara Qurban ini, yang bagaimanapun telah di-ekspresikan dan disuarakan.

Yang kedua penentangan Qurban berhasil. Suatu ketika ada seorang Dafu (大夫) bernama Chenzi Che (陈子车) meninggal, istrinya dan pengurus rumah tangganya, mengusulkan pada upacara berkabungnya ingin diadakan menyebelih manusia sebagai Qurban, bahkan siapa-siapa yang harus di-Qurban-kan telah ditulis dalam daftar.

Adik Chenzi Che (陈子车)yang bernama Chenzi Kang (陈子亢) menetang usulan ini. Maka dia menemui kakak iparnya dan pengurus rumah tangganya, dan dia mengatakan : “Kalian tidak boleh melakukan ini, kenapa harus membunuh orang hidup untuk Qurban dalam upacara pemakaman?” .  
Pengurus rumah tangga mengatakan : “Tuan mungkin tidak tahu, almarhum tidak meninggal didalam negeri, tapi meninggal diluar negeri, bahkan saat almarhum sedang sakit, ketika itu sama sekali tidak didampingi dan dilayani oleh satupun pelayan. Benar-benar kasihan sekali beliau dan kita merasa aib. Maka setelah beliau meninggal kami bermaksud memberi beliau dua orang pelayan untuk mendampingi beliau yang sedang sakit didunia akhirat....”.   
Kakak iparnya menimpali untuk mendukung pendapat pengurus rumah tangga itu dengan berkata: “Ya memang betul demikian. Saudara besarku (kakak Chenzi Kang 陈子亢). Saudara anda sungguh belum menikmati hidup enak, setelah meninggal kita ingin mencarikan orang untuk merawatnya. Bukankah ini normal-normal saja dan idee yang baik ?”     
Chenzi Kang (陈子亢) berkata : “Ohhh... sekarang saya baru tahu, kalian mengatakan bahwa kakak saya perlu ada orang yang merawatnya didunia akhirat. Betulkah begitu? Menurut pendapat saya yang paling cocok dan tepat untuk merawat dia bukankah kalian berdua, kakak ipar dan pengurus rumah tangganya? Ini adalah usulan saya. Tapi menurut pendapat saya lebih baik tidak ada Qurban manusia dalam upacara pemakaman, tapi jika memang harus ada dan akan mengirim dua pelayan untuk mendampingi kakak saya di akhirat, maka yang paling tepat adalah kalian berdua yang dikirim sebagai Qurban.” 
Akhirnya kedua orang ini tidak berani berkomentar lagi. Selanjutnya usulan Qurban manusia ini tidak jadidilaksanakan, maka penentangan ini berhasil.

Chenzi Kang (陈子亢) adalah juga Chen Kang (陈亢), adalah salah satu orang yang pernah kita ceritakan saat membahas tentang Kong Hu Cu. Dimana dia pernah mengajukan pertanyaan kepada Zigong dan juga kepada Kongli (孔鲤) putra Kong Hu Cu. Chen Kang walaupun bukan seorang murid langsung dari Kong Hu Cu, tapi dia ini benar-benar pengikut dari paham Konfusianisme tulen.

Karena Kong Hu Cu sendiri juga menentang keras atas “Peraturan & Kebiasaan” akan Qurban Manusia Hidup’ ini (人殉ren xun).   Konghuchu bukan saja menentang ‘Qurban Manusia Hidup’ pada upacara penguburan, bahkan juga menentang segala simbolis Qurban yang menggunakan patung-patung  atau boneka-boneka manusia (yong).

Karena Orang Zhou setelah menghapuskan Peraturan dan Kebiasaan Qurban Manusia dalam upacara penguburan, masih ada saja yang coba menggantikan kebiasaan ini dengan cara-cara simbolis “Manusia palsu” berupa patung-patung dan lainya yang serupa,  yang disebut Yong (yong). Seperti yang kita lihat dimakam Kaisar Qin Shi Huang (秦始皇) yang dilengkapi dengan banyak sekali patung-patung warrior dan kuda-kuda yang disebut Bing Ma Yong ‘Patung Warrior’ (兵马俑bing ma yong) adalah suatu sombilis yang mewakili manusia hidup. Saat itu ada yang dibuat dari kayu dan ada juga dari terrakota, dibuat persis seperti manusia benaran. Untuk kebiasaan ini Kong Hu Cu sangat menentangnya.     
Kong Hu Cu mengatakan : “Siapakah inventor pembuat patung-patung untuk upacara pemakaman ini, orang ini harus kita kutuk dan putuskan hubungan dengannya secara turun menurun”.
(始作俑者其无后乎《孟子梁惠王上》shi zuo yong zhe, qi wu hou hu).

Mengapa Kong Hu Cu menganggap hal ini sangat serius? Menurut seorang cendikiawan Yanbo Jun (杨伯峻) ketika membaca “Mensisus” menemukan bahwa Kong Hu Cu tidak mengetahui bahwa Yong() ini untuk simbolis menggantikan manusia hidup. Kong Hu Cu berpendapat bahwa jika dalam upacara penguburan masih digunakan patung mansuia (yong), maka dalam perkembangannya selanjutnya lama-lama akan menggunakan manusia hidup benaran. Maka Kong Hu Cu menentangnya.

Tapi menurut Yi Zhong Tian cendikiawan piawai dalam kuliah umum tentang Kong Hu Cu, mengatakan bahwa seharusnya Kong Hu Cu sudah mengetahui patung-patung manusia ini merupakan simbolis pengganti manusia hidup yang sebenarnya. Jadi sejak semula Kong Hu Cu sangat menentang Qurban Manusia (人殉ren xun), baik itu manusia benaran ataupun patung sebagai manusia palsu.

Dalam konteks ini Mensius mengatakan mengapa Kong Hu Cu menentang patung ini? Salah satu alasannya karena Orang palsu ini terlihat seperti benar-benar manusia. Ini bisa dilihat dengan Makam Kaisar Qi Shi Huang yang terkenal degan patung-patong terrakotanya, patung-patung ini ukurannya sama seperti manusia biasa dan raut mukanya satu sama lain tidak ada yang sama, demikian juga dengan terrakota patung-patung kudanya. Bahkan patung-patung kayu(木俑mu’yong) yang dibuat kala itu untuk penguburan orang meninggal ada yang bisa bergerak seperti manusia hidup yang disebut Yong Dong(俑动yong dong).
Sehingga menurut beliau jika menyetujui atau mentoleransi menggunakan patung-patung manusia ini dalam upacara pemakaman itu, juga berarti menyetujui legalitas dari Penguburan dengan Qurban Manusia.

Semangat menentang ini merupakan ‘Semangat Prikemanusia,’ sedikitnya semangat prikemanusia primitif yang telah ditunjukkan oleh Kong Hu Cu.

Diatas merupakan salah satu kebudayaan yang diciptakan oleh orang-orang Zhou ----‘Me-manusiakan Orang’(把人当人ba ren dang ren).

Tindakan kedua, ‘Me-manusia-kan Dewa-dewi’ (把神当人ba shen dang ren), mengapa harus mengambil tindakan demikian? Karena orang Zhou masih mempertimbangkan apakah “Tadir/Nasib” atau Tian Ming(天命) masih diperlukan atau tidak? Dewa-dewa dan Roh-roh apakah masih diperlukan atau tidak?   

Kesimpulan akhir mereka, ini masih diperlukan, karena tanpa ini pemerintahan dan kekuasaan mereka tidak mempunyai dasar atau legitimasi untuk mengambil tindakan-tindakan selajutnya. Karena “Dewa Dewi” ini merupakan asal muasal dari legitimasi dari penguasa terdahulu Kerajaan Yin Shang(殷商), jika ini ditiadakan maka legitimasi dari Penguasa Zhou dari mana? Untuk ini Penguasa Tertinggi Zhou mengatakan bahwa mereka mendapat “mandat dari langit” untuk menjadi Penguasa Tertinggi. Maka “Mandat dari Langit” ini disebut Tian Ming atau “Takdir” atau “Nasib” dengan kata lain “Perintah dari Langit”( 天的命令tian de ming ling).

Penjelasan mereka kepada rakyat kala itu mengatakan mengapa mereka (Zhou) sekarang berkuasa karena “Mandat Langit”, “Mandat” kepada Raja Yin Shang telah dicabut. Memang sebenarnya langit memberi mandat kepada Xia, tapi Xia telah berbuat salah maka Langit mencabut mandatnya dan diberikan kepada Yin. Dan Yin menggantikan Xia, ini yang dinamakan mengganti Mandat atau Revolusi. Sekarang Zhou mengantikan Yin. Ini adalah sudah kodrat alam, dikehendaki oleh langit. Kini Zhou diberi perintah langit untuk menggantikan Yin. (Yang berarti memutuskan mandat kepada Yin dan memberikan mandat kepada Xia.  (革命ge ming singkatan dari革除天命ge chu tian ming = 殷革夏命yin ge xia ming, sekarang 周革殷命zhou ge yin ming ).

Alasan demikian diperlukan bagi Zhou untuk mencari legitimasi mereka sebagai penguasa tertinggi yang seolah-olah adalah mandat dari langit. Untuk alasan ini mereka mau tidak mau harus membicarakan ‘Takdir’ dan “Mandat Langit’ itu ada. Kalau tidak, apa yang akan dijadikan legitimasi bagi mereka sebagai “Penguasa Tertinggi”, dan melaksanakan pemerintahannya. Selanjutnya mau tidak mau tentang pemujaan “Dewa Dewi & Roh’ harus tetap “diadakan”. Sehubungan dengan “diadakan” “Takdir/Tian Ming天令”, “Dewa Dewi & Roh鬼神gui shen” mau tidak mau harus ada dalam upacara persembahan, sedang mereka menentang adanya “Dewa Dewi & Roh” yang disembah oleh Kerajaan terdahulunya (kerajaan terdahulu menyembah roh), maka untuk mengatasi ini Orang Zhou harus “Men-manusia-kan Dewa Dewi”. (把神当人ba shen dang ren) .

Menurut Cendikiawan berpendapat bahwa pemikiran ini juga dicetuskan oleh Zhou Gong.
Dalam Shi Jing(诗经) atau Kitab Puisi ada satu puisi yang berjudul “Wen Wang文王” dan yang mengatakan bahwa yang mengarang adalah Zhou Gong.Yang isinya antara lain bahwa pada saat Kerajaan Zhou mengadakan upacara persembahan juga banyak ikut serta para bangsawan dari keturunan Kerajaan Yin Shang, yang berpakaian bagus-bagus dalam upacara tersebut.

Zhou Gong lalu berpikir bahwa persembahan yang mereka adakan adalah untuk menyembah pada leluhur orang-orang Zhou, mengapa mereka ini (para mantan bangsawan Yin Shang atau keturunan Yin Shang ini) dengan sekejap bisa menyembah kepada leluhur orang Zhou juga? Apakah kelak juga akan mungkin terjadi bahwa orang Zhou juga akan berbuat serupa dengan menyembah kepada leluhur orang lain? Dengan melihat kenyataan ini Zhou Gong menjadi cemas. Akhirnya dia mengambil kesimpulan bahwa segala “Takdir/Tian Ming天令” itu bukanlah hal yang memang ada dan normal (天命靡常tian ming mi chang), apa itu Tuhan, Langit dan Raja langit bukanlah yang menentukan untuk seseorang berkuasa atau menjadi penguasa tertinggi. 

Zhou Gong(周公) berkata kepada Zao Gong(昭公) : “Tian/Langit  tidak bisa dipercaya, satu-satunya jalan bagi kita hanya harus meneruskan politik kebenaran Raja Wen Wang dan Wu Wang (文王&武王). Barulah kita dapat mempertahankan keberhasilan yang kita dapatkan ini.
(天不可信我道惟宁王德延《尚书君爽》tian bu ke xin, wo dao wei ning wang de yan).

Diatas ini menunjukan kematangan dan rasionalitas dari penguasa Zhou, ketika memperoleh kemenangannya, sikap ini sungguh patut dibanggakan.

Untuk keperluan diatas maka orang Zhou perlu mendefinisikan kembali dan mengadakan re-evaluasi serta memberi penjelasan baru tentang Tian, Dewa Dewi & Roh serta Takdir/Tian Ming. Untuk ini maka diadakan penjelasan baru sebagai berikut:

Untuk “Hubungan manusia dengan Langit”, dijelaskan bahwa Tian tidak pilih kasih, siapa saja yang punya budi dan moral akan dibantunya.
(人与天的关系皇天无亲惟德是轮《左传僖公五年》引《周书》ren yu tian de guan xi,  huang tian wu qin, wei de shi lun).  

“Hubungan manusia dengan Dewa Dewi” ini tergantung dari penilaian Dewa Dewi, yang akan melihat sikap manusia, berdasarkan sikap manusia yang bersangkutan ini, maka akan diturunkan pahala atau bencana.
(人与神的关系神聪明正直而壹者也依人而行《左传庄公32年》ren yu shen de guan xi,  shen cong ming zheng zhi er yi zhe ye, yi ren er xing).

“Hubungan manusia dengan “Takdir/Tian Ming天令” dijelaskan bahwa Kebuntungan dan Keberuntungan tidak ada suatu aturannya (pakemnya), jika manusia berbuat baik dan berpikir atau berharap untuk beruntung, maka akan dapat keberuntungan. Jika manusia berbuat tidak baik dan mencari kebuntungan darinya maka akan didapatkan kebuntungan.
(人与命的关系祸福无门惟人所昭《左传襄公23年》ren yu ming de guan xi, ren yu ming de guan xi, huo fu wu men, wei ren shuo chao)

Dengan adanya ketiga redefinisi dan penjelasan baru diatas, maka lama kelamaan pemujaan terhadap dewa dewi dan “Tuhan” menjadi pemujaan terhadap manusia. Pemujaan terhadap segala dewa dewi dan “Tuhan” telah digantikan untuk pemujaan terhadap manusia, dan akhirnya kegiatan pemujaan menjadi arena pemujaan manusia. (Maka terjadilah Agama Orang Kudus 人宗教ren zong jiao).

Ini yang menjadi sikap Kong Hu Cu terhadap segala Dewa Dewi dan “Tuhan” : Kita tetap menghormati dewa dewi dan “Tuhan”, tapi dalam upacara persembahan diusahakan se-sederhana mungkin, namun akan lebih baik dijauhi.”  
(敬鬼神而远之可谓知矣《论语雍也》jin gui shen er yuan zhi, ke wei zhi yi).

Kata-kata ini diucapkan saat muridnya Fan Chi (樊迟) bertanya tentang akal sehat. Kong Hu Cu mengatakan bahwa usahakan agar rakyat jelata tetap menghormati segala persembahan, namun harus tetap menjaga jarak terhadap segala “Tuhan, dewa dewi dan roh”.   
Lebih lanjut Kong Hu Cu mengatakan : “Apakah dewa dewi dan roh itu memang benar eksis? Jika mau meyembah seharusnya ketika mereka itu sedang tampak atau memang ada ... 
( 祭如在祭神如神在《论语八佾》ji ru zai, ji shen ru shen zai).
Lebih lanjut Kong Hu Cu mengatakan : “Terbentuknya alam semesta merupakan interaksi ying-yang dan jalannya waktu, jika menganggap Tian sebagai maha pencipta adalah melanggar hukum alam, menyembah sesuatu yang tidak diketahui seperti ‘Tian’ adalah percuma”.
(孔子:天何言哉?四时行焉,百物生焉。天何言哉?- 获罪于天,无所祷也《论语第17篇》. Kongzi : tian he yan  cai? Si shi xing yan, bai wu sheng yan. Tian he ya cai? Huo zui yi tian, wu suo dao ye) .  

Kong Hu Cu ada mengatakan : “Tanpa mengerti apa yang disembah, sungguh memalukan.” 
(非其鬼而祭之,谄也《论语·为政》fei qi gui er ji zhi, chan ye). 
Pernah juga beliau berkata : “Saya tidak mau membicarakan hal yang tahjul, kekerasan, kekacauan, dan dewa,setan,tuhan. (子不语:怪,力,乱,神《论语集注》zi bu yu: guai, li, luan, shen). 

Ada sebagian cendikiawan yang menyimpulkan perkataan ini menunjukkan bahwa sebenarnya Kong Hu Cu tidak mempercayai eksistensi segala tuhan, dewa dewi roh dan setan (tapi ada yang berpendapat sebaliknya)....Tapi keadaan saat itu tidak bisa secara terangan-terang menyatakan bahwa itu semua tidak eksis. Dan menunjukan dirinya adalah Atheis.  Sikap Kong Hu Cu yang demikian ini yang menyebabkan dituduh oleh Moti (墨子) bahwa Kong Hu Cu dan Kongfusianis itu ‘Orang Bijak Palsu’( 伪君子wei jun zi). Karena sudah jelas tidak percaya eksistensi Tuhan, dewa dewi dan roh, tapi tetap saja ikut-ikutan mengadakan persembahan (sebenarnya ini lebih dikarenakan toleransi terhadap keadaan).

Apakah dalam hal ini Kong Hu Cu memang seorang ‘Orang Bijak Palsu’( 伪君子wei jun zi)?
Juga tidak. Tentang masalah upacara persembahan ini Kong Hu Cu menjelaskan, mengapa manusia harus mengadakan upacara persembahan adalah untuk menggunakan upacara persembahan Dewa Dewi ini untuk bisa mempersatukan orang-orang yang hidup, saat kita mengadakan upacara persembahan semua orang akan berkumpul dan bersatu.

Demikian juga saat mengada upacara persembahan terhadap leluhur juga akan sama. Tujuan utama hanyalah untuk mencurahkan perhatian kita terhadap mereka. Seperti juga saat ada seseorang meninggal dan diadakan upacara berkabung, dimana untuk mengenang jasa-jasa yang meninggal,  kita berpitado dan memberi pujian-pujian dan lain sebagainya, walaupun kita tahu bahwa yang meninggal tidak akan mendengar dan mengetahui apa yang kita lakukan atau bicarakan untuk almarhum. Tapi tetap saja kita lakukan upacara tersebut, tidak lain karena untuk mencurahkan perhatian kita kepada yang bersangkutan, dengan harapan melalui upacara tersebut dapat mempersatukan dan mempererat ikatan persatuan bagi yang masih hidup. Inilah yang menjadi tujuan yang sebenarnya, karena itu kita tidak perlu mengetahui apakah Tuhan. Dewa dewi roh itu apakah memang ada atau tidak, anggap saja mereka itu ada... Dan semua ini hanyalah sebuah sikap pengertian belaka.   

Dalam hal ini Kong Hu Cu dengan gamblang mengatakan : “Kita tetap menghormati dewa dewi dan Tuhan”, tapi dalam persembahan diusahakan se-sederhana mungkin, namun akan lebih baik dijauhi….” (敬鬼神而远之可谓知矣《论语雍也》jin gui shen er yuan zhi, ke wei zhi yi). 
Sikap ini juga menunjukan “Men-manusia-kan Dewa Dewi”. (把神当人ba shen dang ren)

Sikap Kong Hu Cu yang ini hingga kinipun tetap aktuil, menurut Kong Hu Cu segala “Tuhan”, dewa dewi roh sebenarnya adalah segala hal yang sementara masih tidak dimengerti dan ketahui, hal ini tidak mudah untuk disangkal atau dibenarkan atau disetujui adanya oleh manusia.

“Tuhan, Dewa, Dewi, Roh” merupakan pengetahuan manusia primitif menanggapi gejala alam yang masih belum dimengerti,  yang dikarenakan belum menguasai ilmu pengetahuan alam. Sehingga celah-celah yang belum diketahui oleh manusia ini mudah sekali dieksploitasi oleh sebagian manusia untuk kepentingannya.  

Seperti telah kita ketahui bahwa saat peradaban manusia mulai berkembang, semua kelompok manusia pasti memiliki pemujaan dan kepercayaan. Karena pemujaan dan kepercayaan ini akan menjadi perekat persatuan dari kelompok manusia tersebut, persatuan ini sangat diperlukan untuk kelangsungan dan perkembangan hidupnya.

Pertama memuja benda-benda, pohon-pohon(animisme) kemudian barulah memuja dewa dewi, dan roh-roh. Seperti Kerajaan Xia() memuja benda-benda, Kerajaan Shang () memuja Dewa dewi & Roh-roh, sedang Zhou() telah mengubah image dan kebudayaan yaitu ‘Me-manusiakan orang’ dan ‘Me-manusiakan dewa dewi dan roh-roh’, maka yang dipuja mau tidak mau harus manusia. Kemudian siapakah yang harus dipuja? Maka tidak lain adalah orang kudus atau “nabi” (圣人sheng ren). Hal ini merupakan salah satu unsur terpenting dari kebudayaan orang Tionghoa yang diciptakan oleh orang-orang Zhou.

Siapa dan orang yang bagaimana yang  disebut orang kudus atau “nabi” (圣人sheng ren)? Pada pokoknya ada dua persyaratan atau dua kreteria :
1.                  Mempunyai jasa besar.
2.                  Sebagai penemu/pencipta besar / innovator.

Orang-orang ini adalah Fu Yi (伏义), Sheng Nong(神农), Yan Di (炎帝), Huang Di (黄帝), Yao(), Shun (), Yu (). Shang Dang Wang (商荡王), Zhou Wen Wang (周文王), Zhou Wu Wang (周武王). Belakangan ditambah dengan Zhou Gong (周公), Kong Hu Cu/ Kongzi (孔子).

Dayu() berhasil mengatasi banjir, Zhou Gong pencipta kebudayaan baru. Huangdi pencipta kereta, Sheng Nong pencipta pertanian. Sejak saat itu semua pemujaan terhadap segala dewa dewi dan roh sudah digantikan oleh orang-orang kudus / ‘nabi’ (圣人sheng ren).  

Kemudian perkembangan selanjutnya juga ada pemujaan terhadap para pahlawan-pahlawan, namun pemujaan terhadap para pahlawan ini tidak sekuat dengan pemujaan terhadap orang-orang kudus. Salah satu contoh dalam cerita “San Kok” (Perang Tiga Negara三国演义) yang juga cukup dikenal di Indonesia, dari sekian banyak pahlawan dalam cerita ini yang paling dipuja hanya Guan Gong atau Guan Tehya (关羽) dan Kong Beng (孔明), sedang menurut kenyataan sejarah Guan Gong ini kalah dalam perang dan juga tidak sebagai penemu.

Tapi kenapa dipuja? Dalam hal ini bisa kita lihat dari definisi orang kudus menurut Mensius : ‘Orang kudus, adalah orang yang paling berbudi luhur dan sangat bajik.”  (圣人人伦之至也《孟子离娄上》Sheng ren, ren lun zhi zhi ye).   

Jadi orang yang disebut orang kudus adalah orang yang patut menjadi teladan bagi kita, yang telah menunjukan budi pekerti yang luhur, berjasa dalam membela nusa dan bangsa. Dengan kata lain dengan adanya pemujaan terhadap orang kudus sebenarnya adalah pemujaan terhadap ‘Budi Yang Luhur’ ( 道德崇拜dao de chong bai).

Dalam konteks ini dapat disimpulkan bahwa Kerajaan Zhou setelah berhasil menumbangkan Yin Shang, mereka berpikir kembali mengapa Kerajaan Yin Shang bisa dengan mudah dan cepatnya tumbang dari pemberontakan yang diadakan orang Zhou. Kesimpulannya adalah karena “Tidak Manusiakan Orang”, menyadari akan pengalaman buruk ini, diambillah suatu pelajaran untuk mempertahankan kemenangan yang telah diraih. Maka orang Zhou mengusulkan suatu pemikiran yang tidak dikemukakan secara langsung dan gamblang, didapatlah satu kesimpulan “Manusia Sebagai Dasar atau Fondamen” atau Berorientasi kepada manusia (以人为本yi ren wei ben), sedang Kerajaan Yin Shang adalah bedasarkan “Dewa Dewi Sebagai Dasar’ atau Berorientasi kepada Dewa (以神为本yi shen wei ben).

Tiga ciri-ciri dari “Manusia Sebagai Dasar/Fondamen” atau Berorientasi kepada Manusia (以人为本yi ren wei ben) ini  ialah :
-   Menausiakan orang ( 把人当人ba ren dang ren)
-   Memanusiakan Dewa, Dewi ( 把神当人ba shen dang ren )
-   Manusia sebagai Dewa Dewi ( 把人当神 ba ren dang shen )

Semenjak orang Zhou menciptakan “Manusia Sebagai Dewa Dewi ( 把人当神 ba ren dang shen ) dan terciptanya pemujaan terhadap orang-orang Kudus (圣人sheng ren). Sejak itu orang Tionghoa tidak memiliki jiwa keagamaan ( 宗教情结zong jiao qing jie). Orang Tionghoa sebenarnya tidak “beragama” dan tidak memiliki jiwa dan pengertian akan “agama” ( 宗教意识zong jiao yi shi ). Karena semua kebajikan, kebenaran dan semua ajaran dalam agama yang mengajarkan manusia untuk berbuat baik, berbuat jujur, tidak berbuat jahat, tidak sirik dan lain-lain telah diambil alih oleh pemujaan terhadap Orang-orang Kudus(圣人sheng ren). 

Dengan tiga ciri diatas telah mencerminkan sebagai berikut :
-   Menausiakan orang ( 把人当人ba ren dang ren) mencerminkan Perikemanusiaan (人道主义ren dao zhu yi )
-   Memanusiakan Dewa, Dewi ( 把神当人ba shen dang ren ) mencerminkan Sikap Kritis dan Logika ( 理智态度li zhi tai du).
-   Manusia sebagai Dewa Dewi ( 把人当神 ba ren dang shen ) mencerminkan Jiwa dan semangat moralitas tinggi (道德精神dao de jing shen)

Ketiga kesimpulan diatas ini dapat disatukan menjadi “Manusia Sebagai Dasar/Fondamental” atau Berorientasi kepada manusia (以人为本yi ren wei ben).

Kemudian apakah hubungannya dengan Tata Krama & Tata Tertib dan Kebudayaan Tata Krama & Tata Tertib Zhou Gong(礼乐制度li ue zhi du ? Marilah kita bahas di tulisan yang berikutnya.......

( Bersambung....... )


*Kenapa manusia menyembah atau bersembayang kepada Tuhan, Dewa, atau Leluhur?  Pada hakekatnya untuk kebahagiaan  manusia. Maka jika peresembahan demikian harus meng-Qurban-kan Manusia harus ditentang.

Daftar  Perpustakaan
-       先秦诸子百家争鸣易中天 CCTV
-       经典阅读文库 ---- 论语李薇/主编
-       经典阅读文库 ---- 道德经李薇/主编
-       中国古典名著精品 ---- 菜根谭洪应明著
-       Internet : http://friesian.com/confuci.htm  : Confucius
-       孔子  -----   維基百科,自由的百科全書 Internet
-       网址:http://www.popyard.org
-       中国人生叢书    -----   墨子的人生哲学杨帆/主编陈伟/
-       Internet : http://baike.baidu.com
-       The Sayings of Mensius / 英译孟子史俊赵校编
-       南华经庄子周苏平高彦平注译安徽人民出版社
-       庄子逍遥的自由人林川耀译编出版者:常春树书坊
-       http://www.sxgov.cn/bwzt/wmsxx2/lf/447465_1.shtml   春秋五霸之---晋文公
-       “When China Rules The World -  The rise of middle kingdom and the end of the western world”  by Martin Jacques ALLEN LANE an imprint of Penguin Book, First Published 2009






No comments:

Post a Comment