Tuesday, 30 August 2016

Jalur Sutra Maritrim Zaman Kuno

Jalur Sutra Maritim Zaman Kuno



Jalur Sutra Maritim telah dicanangkan Tiongkok untuk kerjasama internasional yang ditengarai supaya lebih melibatkan semua negara-negara sedang berkembang untuk saling berpartisipasi dalam membangun perekonomiannya. Dan mengimplementasikan pembangunan ekonomi di jalur damai dengan moto “Menerima harmoni dengan keragaman” atau bertoleransi dan harmoni dalam keragaman (宽容共济和而不同).
Penulis juga pernah posting:Tiongkok Mengusulkan Membangun Sepanjang Sabuk Jalan Sutra Ekonomi Dan Jalur Sutra Maritim Abad Ke-21 ( 1 )

Kini kita dapat dikatakan tinggal di desa global, hubungan antara lokasi maupun kawasan di belahan dunia juga telah nyaman dan cepat. Dengan sarana penerbangan dan perkapalan baik orang maupun barang dapat dicapai ke setiap tempat kota besar atau menengah di dunia dalam satu hari. Transaksi kargo yang sangat padat di seberang lautan yang menghubungkan benua dengan jaringan transportasi laut yang komplek dan lengkap, juga dapat jalan dengan lancar.

                       

Seperti diketahui, kegiatan komersial yang sibuk sekarang, transportasi laut telah menyumbang lebih dari dua per tiga dari total pengiriman barang dunia dan sangat penting untuk mengintegrasikan ekonomi dunia.

 

Menempuh badai dan gelombang yang ganas dilautan, kita memiliki tokoh sejarah--Hang Tuah yang merupakan seorang pahlawan dan tokoh legendaris pada masa Kesultanan Malaka, tokoh pelaut yang juga petarung hebat di laut dan daratan pada abad ke-15 dengan semboyan “Jales Veva Jaya Mahe/Dilaut Kita Jaya”. Selain itu kita juga ingat akan nama-nama beberapa navigator seperti Christopher Columbus, Vasco da Gama dan Ferdinand Magellan yang bersyukur telah  mengubah zaman discovery ke seluruh dunia.

 

Menempuh gelombang dan badai, orang pergi melaut dengan melakukan perjalanan panjang ke seberang lautan. Kita tidak bisa melupakan rute laut ketika pertama kali dibuka pada hari ini, rute panjang dan paling kuno di buka oleh nenek moyang orang Tiongkok yang terkenal yang disebut Jalur Sutra Maritim Zaman Kuno.

 


Jalur Sutra Zaman Kuno adalah rute perdagangan maritim yang dimulai dari pelabuhan pesisir tenggara Tiongkok, melintas Laut Tiongkok Selatan memasuki Teluk Persia dan Laut Merah melalui Selat Malaka dan Samudera Hindia hingga mencapai Asia Barat dan pantai Timur Afrika.

Jalur ini telah terbentuk sejak zaman Dinasti Qin (/221 SM-206 SM) dan Han (/206 SM-220M) serta Song(/960M-1127M) Dinasti yang mencapai puncaknya pada Ming () Dinasti awal. Yang telah menghubungkan jalur laut antara Timur dan Barat, serta terjadinya interaksi pribadi,  pertukaran budaya dan gerakan kargo.

Jalur Sutra Maritim sesungguhnya dibuka melalui beberapa kesulitan dan bahaya, terus berkembang selama melenium dan tidak pernah surut, hasil kecermerlangan dan kecerdasan peradaban manusia ini  tidak lengkang selama 10.000 generasi dan tidak pernah hilang.

“Kitab Han”(汉书) adalah kitab klasik yang ditulis lebih dari 2000 tahun lalu, kitab Han merupakan salah satu dari “24 Kitab Klasik Sejarah Tiongkok”. “Kitab Han: Pakta Geografis” mencatat bahwa perjalanan selama 5 bulan dari Benteng Rinan (日南障), Xuwen (徐闻), dan Hepu (合浦) dan akan mencapai Kerajaan Duyuan (都元/Kuala Dungun-Sumatra Indonesia) diperlukan perjalanan selama 4 bulan akan tiba di Kerajaan Yilumo (邑卢没/Ruhmia/Rahman-kemungkinan di Myanmar sekarang). Jika diteruskan selama 20 hari akan tiba di Kerajaan Shenli (黮离). Dengan perjalanan kaki lebih dari 10 hari akan mencapai Kerajaan Fugandoulu (夫甘都卢/Kira-kira di tengah Sungai Irrawaddy, Myanmar. Pada zaman Dinasti Tang disebut Biao guo/). Perjalanan kapal dari Kerajaan Fugandoulu selama lebih dari dua bulan akan mencapai Kerajaan Huang Zhi (黄支/India), sebuah Kerajaan yang sedikit mirip dengan Zhuya (珠崖- di dekat kota Danzhou/儋州市Pulau Hainan).


Sebelah selatan Huangzhi ada Kerajaan Yichengbu (已程不/Sinhala/Sri Lanka). Para utusan dari Han kembali dari sana. Bagian ini digambarkan perjalanan utusan Han dimana mereka pergi Asia Tenggara, Asia Selatan, dan mencapai India dan kembali ke Sri Lanka.

Seperti banyak yang mengira “Belt and Road” secara umum dipercayai Jalur Sutra Maritim dibangun setelah Jalur Sutra Daratan, tetapi berdasarkan “Kitab Han: Pakta Geografis” yang diduga paling awal dan lengkap dalam menjelaskan Jalur Sutra Maritim, dari sini bisa dilihat dalam periode ini Jalur Sutra Maritim sudah disebutkan sejak Dinasti Han Barat, sudah ada rute dari Pelabuhan Laut Tiongkok Selatan menuju ke arah selatan Peninsula India dan Srilanka.

Secara umum dapat dikatakan dari tulisan dalam kitab ini, kita bisa melihat sebenarnya Jalur Sutra Maritim dan Julur Sutra Daratan mungkin dikembangkan pada waktu yang bersamaan.

Xuwen (徐闻县), kini sebuah desa/kecamatan terletak di dalam kota Zhanjiang (湛江) Provinsi Guangdong, menurut “Kitab Han: Pakta Geografi” (汉书 . 地理志) pelabuhan Xuwen menjadi tempat utusan diberangkatkan. Desa ini terletak paling ujung dari daratan Tiongkok, berhadapan dengan Pulau Hainan di seberang laut.


Desa Xuwen ini terletak paling ujung dari daratan Tiongkok, berhadapan dengan Pulau Hainan di seberang laut.


Dipermukaan laut dekat desa Erqiao (二桥), kota Nansha di dalamnya, ada tiga pulau kecil yang dikenal dengan Kepulauan Tiga Dun atau disebut Three Duns of Great Han.Sekarang fragmen dari batu bata dan ubin masih terlihatdimana-mana di wilayah ini. 


Diatas ubin ini diukir dengan karakter “hidup” dan segel diukir dengan karakter “segel resmi pribadi Gu” yang diperoleh dari penggalian makam Han peninggalan sejarah.


Pada tahun ke-6 saat periode Yunding Han atau tahun 111 SM, Pelabuhan Xuwen didirikan. Desa Xuwen terletak di paling ujung selatan sedangkan Three Duns of Great Han berdiri diluar pelabuhan sebagai penghalang alami untuk pelabuhan kuno ini.

Saat itu setelah berlayar dari pelabuah laut, kapal hanya bisa berlayar dengan cara rute ber-zigzag memutar dan berbalik baru dapat dekat dengan pantai.

Dari Zuwen dan Hepu ke Sri Lanka, satu kali jalan perlu berlayar satu tahun. Bagi kita sekarang mungkin ini suatu diluar imaginasi. Tidak ada literatur tentang bagaimana rute ini dibuka dan kemudian itu menjadi yang pertama terbuka untuk nevigasi, hingga kini masih menjadi misteri.



Dibawah ini adalah salinan dari “Geng Lu Bu” (更路簿) yang ditranskripkan pada periode Republik Tiongkok dan ditempatkan di Museum Qionghai, Provinsi Hainan.

“Geng” () dari “Geng Lu Bu” adalah unit satuan untuk mengukur jangkauan. Satu hari dan malam dibagi menjadi 12 “geng.”  Durasi ‘geng” dihitung pada jumlah dupa dibakar. Secara kasar, selama berlayar, kapal pada umumnya dapat melakukan perjalanan 60 li () selama satu “geng.” Jadi 60 li adalah salah satu “geng.” (1 li= 0,5 km ).



Ada banyak versi “Geng Lu Bu” di Rakyat Hainan. Beberapa versi ada yang secara rinci mencatat detail dari terumbu yang terendam air laut, kepulauan, parung pasir, dangkal dan saluran air, situasi produk alamnya, astronomi dan pengetahuan meteorologi dari Kepulauan di Laut Tiongkok Selatan. Hal ini dicatat dan dikumpulkan oleh nelayan dalam kurun waktu yang lama dari pengalaman praktis dilapangan mereka. Awalnya “Geng Lu Bu” yang ada adalah salinan tulisan tangan pada masa Dinasti Ming.

Menurut Qi Ji Xiang (齐吉祥), Peneliti dari Museum Nasional Tiongkok , Modus produksi nelayan kuno sangat tradisional. Untuk kurun waktu yang lama, tidak ada perubahan besar yang terjadi.

Orang memilih obyek referensi ini dengan insting ketika akan keluar atau berlayar, yaitu dengan mereka membuat tanda. Dengan cara yang sama, beberapa referensi obyek nelayan memilih saat melaut juga disimpan di “Geng Lu Bu’ yang mencerminkan mode navigasi darat saat itu dimana beberapa koordinat geografis dianggap sebagai objyek acuan utama.

Dengan memakai navigasi darat memiliki masalah, orang tidak bisa jauh dari pantai dan pergi berlayar ke tempat yang jauh. Dalam hal ini orang menjadi agak pasif ketika memilih rute. Meskipun mereka melakukan navigasi lepas pantai, dapat dikatakan bahwa situasi kelautan terus berubah dengan cepat, sehingga orang harus sering berurusan dengan hal-hal seperti gelombang laut dan terumbu, jadi navigasi menjadi sangat sulit.

Perlu juga diketahui 2000 tahun yang lalu, navigasi laut bukan sesuatu hal yang mudah dan lancar. Jalur Sutra Maritim dibuka orang Tiongkok harus dianggap sebagai perjalanan melintasi samudra awal dan jauh dalam sejarah manusia.

Dalam “Kitab Han: Pakta Gerografi” saat menggambarkan navigasi sepajang rute saat itu, ada mengatakan “beberapa mungkin dibunuh dalam perompakan, sementara beberapa mungkin tenggelam ketika menghadapi badai. Bahkan walaupun tidak megalami hal-hal seperti itu, mereka tidak dapat kembali sampai beberapa tahun kemudian. Perjalanan ini sesungguhnya sangat berbahaya dan orang-orang harus melakukan perjalanan jauh sebelum mencapai tujuan.

Meskipun begitu, masih ada saja yang mau mengambil resiko dan pergi melakukan perlananan panjang menerjang gelombang, karena perdagangan laut sangat menguntungkan.

Menurut “Kitab Han; Pakta Geografi” orang membawa emas dan berbagai macam kain sutra. Emas dan sutra diperdagangkan di negara-negara Asia Tenggara dan Asia Selatan. Emas dan sutra sangat populer dimanapun mereka pergi.

Mereka menggunakan kapal asing untuk mentransfer barang sehingga dapat menfasilitasi perdagangan, adegan itu sungguh sangat hidup. Xuwen menjadi makmur selama beberapa waktu karena perdagangan Jalur Sutra Maritim, kemakmuran ini terus berlangsung selama 600 tahun di Xuwen.

Selain itu sejumlah besar barang impor seperti manik-manik, batu ambar, batu akik, rosario dari krital dan kaca atau beling telah ditemukan dalam makam yang tergali oleh argeolog di Xuwen. Saat itu lahir pemeo yang mengatakan, untuk lepas dari kemiskinan seseorang harus pergi ke Xuwen.

Pasca Dinasti Han

Setelah Dinasti Han Timur, Tiongkok masuk dalam Kerajaan Tiga Negara yang sangat dikenal perang antar Tiga Kerajaan atau SamKok : Wei(),  Shu(), Wu () (tahun 220-265), Dinasti Jin Barat (西晋 tahun 265-317) dan Jin  Timur (东晋 tahun 317-420), dan Dinasti Utara dan Selatan (南北朝 tahun 420-589). Utara dan Selatan telah terpisah dan rezim sering kali berganti. Dikarenakan kekacauan dan kerusuhan sosial dalam jangka panjang, Jalur Sutra Daratan mengalami interval buka dan tutup.

Orang Barat yang suka untuk mendapatkan barang-barang dari Timur memalui jalur darat beralih ke jalur maritim, sehingga kapal dagang lebih sering datang dan pergi melalui Jalur Sutra Maritim.

Pada tahun ke-5 di periode Huang Wu, dari negara Wu pada periode Tiga Kerajaan, yaitu tahun 226M, Qin Lun (秦论) seorang pedagang dari Daqin atau Kekaisaran Romawi kuno, datang ke Wu Timur dengan kapal. Peristiwa ini jelas tercatat dalam buku resmi “Kitab Liang” (梁书).

Sebelumnya pada awal abad kedua, orang-orang Romawi datang ke Tongkok melalui daratan. Mereka baru datang ke Kerajaan Wu Timur (东吴) melalui laut pada awal abad ke-3. Dimasa lalu kita mengatakan Jalur Sutra Daratan dibuka oleh Zhang Qian (张骞) setelah ekspedisinya ke Kawasan Barat.

Sebenarnya Wu Timur juga yang pertama yang menghubungkan Kekaisaran Romawi dan Tiongkok. Mereka mengirim misi resmi atau armada resmi yang dipimpin oleh Zhu Ying (朱应) dan Kang Tai (康泰) ke luar negeri. Armada ekspedisi kedua orang utusan ini berlayar selama setahun sebelum tiba di Sinhala atau Sri Lanka sekarang.

Setelah kembali mereka berdua menulis dua buku dengan judul “Catatan Tentang Hal-hal Asing di Kerajaan Funan” (扶南异物志) dan “Catatan Di Negara Asing  Selama Masa Kerajaan Wu”(吴时外国传)dengan mencatat apa yang mereka lihat dan dengar. Kedua buku sempat beredar dan tersebar, tapi sayang sekarang hilang. Tetapi Eksiklopedi Leishu seperti “Koleksi Satra Yang Diatur Menurut Kategori” (艺文类聚) dan “Lembaga Institusi”(通典) ada beberapa catatan transkrip yang terkait catatan tersebut, yang memungkin orang sekarang mengetahui tentang aktivitas navigasi mereka.

Seperti kita ketahui, Kerajaan Wu Timur ini letaknya behadapan dengan Sungai Yangze dan terhubung dengan laut. Maka mereka memiliki pengalaman kegiatan navigasi dan teknologi pembuatan kapal. Mereka pergi ke luar negeri untuk memperluas dan membuka skala komunikasi mereka.

Pada zaman dinasti Song () dan Qi(齐) dari awal Dinasti Selatan (南朝), ada utusan resmi lebih dari 10 negara luar yang datang melalui laut untuk berkomunikasi dengan Dinasti-dinasti ini, mereka datang di Jiankang (建康). Khususnya, raja Sinhala bahkan menulis surat resmi khusus yang puitis, dengan mengatakan “Dipisahkan oleh gunung dan lautan, namun kita sering menulis satu sama lain.”

Ketika zaman Dinasti Liang(萧梁 tahun 502-560banyak negara-negara kecil menganggap Dinasti Liang sebagai negara metropolitan mereka. Ketika musim navigasi datang, akan lebih banyak kapal yang datang dari sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa pada saat itu, komunikasi dengan negara-negara di Asia Tenggara dan Asia Selatan melalui laut sudah lebih sering dan pertukaran hubungannya lebih akrab pada Dinasti Selatan.

Penemuan Arkeolog

Di Kepulauan Xisha (西沙群岛) yang indah, terdapat empat pulau besar utama, salah satu dari empat kelompok utama kepulauan di Laut Tiongkok Selatan yang lebar dan tertutup kabut. Dengan Pulau Yongxin (永兴岛) sebagai pusat, kira-kira 330 km dari ujung paling selatan dari Kota Sanya (三亚市) di selatan Pulau Hainan.

Pada tahun 1957, arkeolog dari Provinsi Guangdong berhasil mengumpulkan cangkir tembikar dengan enam pegangan yang terbuat pada Dinasti Selatan di Kepulauan Xhisha.


Pada tahun 1970an dan 1980an, nelayan Tiongkok menemukan peninggalan  budaya di bawah laut berupa tembikar, porselen, koin tembaga, dan patung-patung batu dari waktu ke waktu di North Reef, Pulau Koral dan di laut di daerah ini.

Dari tahun 1996 sampai 2012, arkeolog Tiongkok telah melakukan enam survei skala besar untuk peninggalan budaya ini, melakukan penggalian penyelematan, percobaan penyelematan atas peninggalan di daerah laut Kepulauan Xisha.

Dari Dinasti Han Timur, beberapa kapal dagang Tiongkok  telah melakukan perjalanan ke Asia Tenggara, Kepulauan Xisha dan Laut Tiongkok Selatan, mereka bukannya berlayar menelusuri pantai. Dan jalur ini sudah mulai banyak dikenal orang.

Menurut “Kitab Han Kemudian/Book of Later Han” ( 汉书) upeti untuk tujuh prefektur termasuk  Jiaozhi (交趾/Cochin /Vietnam Utara sekarang) semua diangkut melalui laut.

Kang Tai (康泰) seorang jenderal dari Wu Timur pada periode zaman Tiga Kerajaan (Sankok/三国), berlayar dari Luat Tiongkok Selatan saat ditugasi untuk mengunjungi negara-negara di luar negeri. dia menulis sebuah biografi “Funan Zhuang” (扶南传), di Laut Pasang (涨海) ada pulau karang dimana ada batu dan karang hidup di perairan pulau-pulau ini.


Laut Tiongkok Selatan disebut Laut Pasang/Zhang Hai (涨海) dalam literatur saat itu, karena lautnya sangat bergelombang ketika laut pasang.

Faxian (法显) seorang Bhiksu pada Zaman Dinasti Jin (). Dia pergi ke India dengan perjalanan darat, ketika kembali pulang dari Sri Lanka dengan menumpang kapal. Sepanjang perjalanan telah mengalami banyak kecelakaan, terkahir dia menumpang kapal dagang besar yang berangkat ke Javadvipa, Sumatera terus menuju ke Pelabuhan Guangzhou dengan berbekal makanan padat untuk 50 hari.

Bagi seorang biarawan/bhiksu seperti Faxian yang tinggal di pedalaman Tiongkok utara dan mengalami beberapa pengalaman navigasi dan berlayar di laut akan sangat mengejutkan dia.  


Dalam catatan perjalanannya Faxian menuliskan: “Luat itu luas dan tanpa batas. Kita tidak bisa menunjukkan arah. Kita harus berlayar sesuai dengan psosisi matahari, bulan dan bintang.”

Rute menyeberangi Laut Tiongkok Selatan dari Guangzhaou sangat dipersingkat pelayarannnya. Ini juga membuat Jalur Sutra Maritim menjadi lebih panjang.

Pada saat itu tampaknya Tiongkok terus berhubungan dekat dengan negara-negara sahabat di Asia Tenggara dan Asia Selatan, beberapa orang juga telah memperhatikan Teluk Persia di Laut Arab.

Menurut kata pengatar dalam “Kitab Liang:  Negara-negara di Asia Selatan,”  (梁书海南诸国传序) negara-negara di luar negeri yang terletak di sebelah selatan dari Jiaozhou dan di laut di sebelah barat daya. Yang paling dekat 3.000 – 5.000 Li dan yang paling jauh 20.000 sampai 30.000 Li. Mereka berdekatan dengan negara-negara di Kawasan Barat. Pada waktu itu orang Tiongkok sudah lebih tahu banyak tentang negara di luar negeri.

Di zaman Dinasti Tang, rute Jalur Sutra Maritim dari Gaunzhou ke Laut Arab, Teluk Persia, Laut Merah dan pantai timur jauh Afrika, telah jelas tercatat dalam sejarah. Rute itu disebut rute laut dari Guangzhou ke Asia Barat dan Afrika Timur.

Menurut “Kitab Tang Baru :Pakta Geografi” ( 新唐书 地理 ) mencatat, berlayar dari Guanzhou ke tengggara 200 Li, akan bisa tiba di Tunmenshan (屯门山), dan terus berlayar ke barat bisa tiba di Jiuzhoushi (九州石). Dan berlayar empat hari akan bisa tiba di Sinhala (Sri Lanka).



Jalur Sutra Maritim zaman Dinasti Qi dan Han (&). Utusan dari Dinasti Han kembali dari sana, rute diperpanjang ke barat melewati pantai utara Laut Arab dan memasuki Teluk Persia. Kemudian perlananan ke ujung utara tiba di Kerajaan Wula (乌剌) atau sekarang dinamai Teluk Persia sepanjang pantai timur dimana sungai Efrat bermuara.

Jika dilanjutkan dengan perjalanan darat 1.000 Li, akan tiba di kota Fuda (缚达), Kerajaan Maomen (茂门). Kota Fuda adalah ibukota Kekaisaran Arab saat itu. Kini disebut Bagdad, ibukota Irak. Yang merupakan kota metropoplis di jung barat Jalur Sutra Maritim kemudian.


Setelah rute memasuki Teluk Persia, ada rute lain yang diperpanjang ke utara dari perpanjangan ke utara dari Kerajaan Sanlan (三兰) yang terletak di daerah Dar-es-Salaam sekarang, Tanzania di Afrika. Berlayar dari Kerajaan Sanlan ke utara selama 20 hari yang akan melalui lebih dari 10 kerajaan kecil, maka akan tiba di Kerajaan She (设国 ), sekarang disebut Shihr, Yaman Selatan yang terletak di pintu masuk ke Teluk Aden. Diteruskan berlayar ke utara  kan taba di Kerajaan Sayiquhejie (萨伊瞿和竭) di luar bagian barat. Itu adalah pintu masuk ke pantai barat Teluk Persia. Diteruskan berlayar satu hari akan tiba di Kerajaan Wula (乌剌)  dan bertemu dengan rute timur. Dan kemudian seluruh perjalan perlayaran selesai.  


Literatur  Geografi Kuno Tiongkok

Pada zaman Dinasti Tang, Jia Dan ( ), Perdana Menteri ketika periode raja Zhenyuan ( ), menulis sebuah buku geografis bernama “Catatan Geografis dari Tanah Imperial” ( ) dimana dicatat tujuh rute dari Tiongkok ke berbagai tempat yang berbeda. Lima dari rute itu dari jalur darat dan laut. 


Disini kita coba lebih membahas tentang rute laut dari Guangzhao ke Asia Barat dan Afrika Timur. Rute ini mulai dari Gaungzhou ke Sinhala atau Sri Lanka melalui Selat Malaka. Kemudian lebih diperpanjang sepanjang benua India ke Teluk Persia. Rute ini juga dikenal dengan Rute Laut Timur.

Selain itu juga dicatat  Rute Laut Barat yang diperpanjang ke Afrika timur seperti sekarang melewati Semenanjung Arabia di utara, menuju Teluk Persia dan akhirnya bergabung dengan Rute Laut Timur. Rute-rute ini dicatat dengan jelas dan rinci dalam “Kitab Tang Baru: Pakta Geografi.”

Dari sini kita bisa melihat bahwa komunikasi maritim ke Teluk Persia dan wilayah Afrika Timur telah sangat berkembang dibandingkan dengan yang berada di “Kitab Han: Pakta Geografi.”

Pada periode Kaiyuan (开元) Dinasti Tang (618M-907M) seorang astronom terkenal yang juga seorang Bhiksu Yi Xing (一行 / Zhang Sui) memrintahkan Nangong Shuo (南宫说) dan lain-lain untuk melaksanakan pengukuran teritori Dinasti Tang. Untuk tujuan ini, Bhiksu Yi Xing menciptakan alat sederhana yang disebut “Fuju” ( ). Dalam pengukuran ini, ia mengukur diagonal tinggi Polaris (bintang utara) dan garis cakrawala di Kutub Utara


Dalam pengukuran ini, Bhiksu Yi Xing telah dapat mengumpulkan data penting, kira-kira panjang busur dari satu derajat adalah 351 Li dan 80 langkah (steps). Ini menjadi sebuah prestasi ilmiah yang penting saat itu yang segera dapat ditrapkan dalam navigasi.
Biasanya selama navigasi yang paling ditakutkan adalah badai, bintang-bintang yang tersembunyi, matahari dan bulan yang redup terhalang awan. Tiongkok negara pertama yang menemukan kompas. Kompas menjadi salah satu penemuan besar Tiongkok yang diciptakan untuk dunia.
Namun kompas tidak ditrapkan untuk navigasi hungga Dinasti Song (960M-1127/9M), atau dua setangah abad kemudian pada abad ke-11. Buku “Pingzhou Table Talks (萍洲可谈) yang ditulis oleh Zhu Yu ( / ) dari Dinasti Song Utara, yang pertama ada menuliskan situasi penggunaan Kompas selama navigasi.
Ketika navigator akan memberitahu arah, mereka mengamati bintang di malam hari dan matahari di siang hari, serta menggunakan kompas saat langit berawan. "Esai Bermimpi Berenang / Dream Pool Essays" ("梦溪笔谈) yang ditulis Shen Kuo (沈括) mencatat empat cara untuk menempatkan kompas.

Pada tahun 1044, Zeng Gongliang ( ) dari Quanzhou, Fujian (福建 泉州) mencatat alat berbentuk ikan yang menunjuk ke arah selatan pada buku “Catatan Lengkap Klasik Barang yang Perlu Dalam Militer/ Complete Essentials for the Military Classics” (武经总要). Dengan memberi petunjuk cara pembuatannya: potonglah lepengan besi dalam bentuk ikan dan apungkan di atas air setelah di-magnetisasi, maka lepengan ini akan hanya menunjuk arah selatan dan utara. Ini tampaknya seharusnya khusus untuk navigasi.

Zhao Rushi (赵汝 ), seorang manager Kantor Urusan Pengiriman Untuk Perdagangan (ekspedisi) di Provinsi Fujian pada zaman Dinasti Selatan (tahun 420-589) mengatakan “Kapal-kapal harus mengikuti kompas. Kita harus hati-hati mengamati kompas ini siang dan malam. Karena sedikit kesalahan dapat menyebabkan konsekuensi serius.” Dengan demikian kompas menjadi alat navigasi untuk pelayaran kelautan untuk kapal.

Joseph Needham, seorang filosof dan ilmuwan Inggris terkenal, mengatakan penemuan dan penerapan kompas merupakan karya besar dalan “Ilmu Pengetahuan dan Peradaban Tiongkok”. Dengan ditrapkan kompas sebagai alat navigasi, maka kompas membawa perubahan besar dalam teknologi navigasi, yang menjadi akhir era navigasi dan awal yang baru. Selama manusia mengusai kompas, laut tidak akan lagi menjadi halangan untuk terjembati bagi manusia lagi.

Navigasi merupakan penyebab yang ber-resiko dalam berlayar di laut, kita pertama harus bisa memecahkan masalah lokasi dan navigasi. Jadi kita harus mengetahui lokasi kapal dan kapal harus berlayar di jalur yang benar.

Perkembangan “Baru”

Pada zaman Tang Dinasti (tahun 618-907), Liangtianchi ( ), alat pengamatan bintang diciptakan di Tiongkok yang kemudian menjadi pencerahan dalam Navigasi Astronomi Laut. Dalam Dinasti Song orang Tiongkok menemukan Kompas dan digunakan dalam navigasi pelayaran, teknologi canggih seperti meletakan dasar yang kuat untuk membuka Jalur Sutra dan Perluasan Perdagangan luar negeri serta kemakmuran komunikasi budaya dunia. 

Sejak Dinasti Sui (tahun 581-618) Tiongkok dapat dikatakan ter-unifikasi lagi. Pada Dinasti Tang masyarakat Tiongkok masuk dalam periode kemakmuran yang besar dan perdagangan luar negeri tercapai pada puncak baru. Sehingga Jalur Sutra Maritim berkembang pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Dalam zaman Dinasti Tang dan Song (tahun 960), sejumlah pelabuhan perdagangan ke luar negeri terbentuk di daerah pesisir tenggara Tiongkok seperti Yangzhou, Mingzhou (Ningbo saat ini), Quanzhaou, Guangzhou yang sangat terkenal. Terutama Guangzhou sangat berkembang pada saat itu.

Han Yu (韩愈), seorang Perdana Menteri dan penulis besar dari Dinasti Tang, ketika turun dari jabatannya dan melewati Gaungzhou, dia menulis catatan “Barang-barang dari luar negeri diangkut ke negara kita (Tiongkok) setiap hari, berupa mutiara, parfum, gading gajah, tanduk badak, kulit penyu sisik, dan barang langka lainnya yang tidak ada habis-habisnya dan dapat dilihat di seluruh Tiongkok.”


Seorang bhiksu Jepang datang ke Guangzhou pada periode  Kaiyuan (开元/tahun 713-741 ) Dinasti Tang, dia juga melihat pemadangan seperti itu. Ada banyak kapal dari Brahmin, Persia, Kunlun, dan negara-negara lainnya, yang dalam ruang kapalnya 6 atau 7 zhang (3 m)  dan yang membawa rempah-rempah dan parfum serta harta lainnya. Banyak orang dari Sinhala (Sri Lanka), Kerajaan Arab, kerajaan Gutang dan tempat-tempat lain dan juga dari segala tempat di Tiongkok.

Liu Yuxi (刘禹锡) seorang penyair besar, juga menuliskan kata putitis : “Laut tenang dan ikan paus beristirahat. Dibawah sinar matahari banyak kapal-kapal denga penuh harta.”

Kini Pelabuhan Huangpu (黄埔) di Guangzhou, airnya tenang, suatu ketika pernah menjadi pelabuahn yang sibuk sekali sebelum diganti yang baru. Kapal-kapal penuh dengan harta yang berlabuh, kini hanya bisa dilihat di gambar, dan patung yang dibuat sebagai relief. 


Pada zaman Tang dan Song Jalur Sutra Maritim telah berkembang cukup makmur, saat itu terjadi fenomena baru, yang sebelumnya navigasi adalah hal yang masih sangat spesifik. Yang menjadi peserta utama adalah pedagang, para utusan negara, dan para biarawan yang menjadi penumpang kapal dagang.

Pada saat itu, banyak orang sudah mulai memperhatikan laut dan menunjukkan minat dalam geografi. Maka satu demi satu buku tentang geografi telah diterbitkan.

“Catatan Geografis Dari Tanah Imperial” ( ) yang ditulis oleh Jia Dan ( ) dari Dinasti Tang, “ Laporan Dari Linan” (岭外代答) yang ditulis oleh Zhou Qufei ( ) dari Song Dinasti. Serta “Sebuah Dekripsi Bangsa Babarian” (诸蕃志) oleh Zhao Rushi (赵汝适) dari Song Dinasti, yang mencatat semua kondisi negara-negara asing secara panjang lebar.


Jia Dan dari Dinasti Tang ini, sejak kecil sudah gemar dengan geografi. Meskipun menjabat sebagai pejabat negara sepanjang hidupnya, dan menjabat sebagai Perdana Menteri selama 13 tahun, Jia Dan tidak pernah lepas memperlajari geografi. Ketika ada utusan datang dari mengunjungi perbatasan, ia harus bicara dengan mereka  dan meminta rincian tentang gunung dan sungai serta tanah. Dia walaupun tidak memiliki pengalaman navigasi, tapi mencatat semua rute dari Guangzhou ke barat dengan lengkap dan akurat pada saat itu.

Rute laut dari Guangzhou ke Asia Barat dan Afrika Timur dicatat dalam buku “Kitab Tang Baru” (新唐书) yang ditulis oleh Ouyang Xiu (欧阳修) dan Song Qi (宋祁) dari Dinasti Song yang ditranskrip dari "Catatan Geografis Dari Tanah Imperial " ( ) yang ditulis oleh Jia Dan.

Pasifik Barat, Samudra Hindia Utara dan Laut Mediterania yang menjadi bagian dari sistim air Atlantik, dibagi menjadi beberapa area laut dalam “Laporan Dari Lingnan” (岭外代答), dan buku juga membahas tentang beberapa kota yang berfungsi sebagai pusat distribusi perdagangan luar negeri dan pemahaman makro dari beberpa lauatan kecuali Samudra Artik.

Dalam Buku “Sebuah Dekripsi Bangsa Babarian” (诸蕃志)  dicatat secara rinci tempat-tempat yang menakjubkan, seperti Sisilia. Dengan melukiskan: “Ada sebuah gua di bawah tanah diatas gunung di negara ini. Gua ini menyemburkan api sepanjang tahun. Beberapa orang di negeri ini memasukkan batu besar dalam gua yang membara (kawah) ini dan setelah beberapa saat akan meledak menjadi fragmen. Api di gua (kawah) ini akan muncul setiap lima tahun dan mengalir sepanjang jalan menuju pantai. Kemana saja api ini mengalir semuanya akan menjadi abu.’ 

Sekarang kita mengetahui yang dimaksud dengan tempat ini adalah Gunung Etna di Sisilia, Italia di Laut Mediterania. Geografi luar negeri dan pemandangan yang indah telah disebarkan oleh buku-buku ini. Budayaan laut telah membentuk daya tarik yang unik, sehingga membuat banyak orang penasaran.

Zaman Laksamana Zheng He Muhiba Ke Samudra Hindia

Pada zaman Diansti Yuan dan Ming, navigasi maritim di Tiongkok masih kuat. Dan Jalur Sutra Maritim telah makin berkembang.


Ekspedisi Cheng Ho (郑和) ke Samudra Hindia ditandai dengan kejayaan. Ketika Wang Dayuan ( ) dari Nanchang (南昌) di zaman Dinasti Yuan berusia 20 tahun, yaitu pada tahun 1330, ia melakukan perjalanan sepanjang rute Barat dengan kapal. Ia melewati Pulau Hainan, Asia Tenggara, India, Persia, Arab, Mesir dan juh ke maroko, meninggalkan Laut Merah tiba di Sri Lanka melalui Somalia di Afrika timur, Mozambik dan Samudra Hindia, kemudian mencapai Kalimantan dan Filipina dari Jawa melalui Australia dan kembali pulang ke Tiongkok, yang berlansung selama lima tahun.


Eskpedisi spektakuler ini di komandoi oelh Laksamana Zheng He (Cheng Hoo) yang tersohor hingga kini, seorang kasim yang juga dikenal sebagai Sanbao (三宝) dari Dinasti Ming. Ini adalah adalah “Zheng He Navigation Chart/Peta Gambar Navigasi Zheng He” ( 航海 ) yang diterbitkan dalam 240 volume dari “Rekaman Peralatan Perang dan  Ketentuan Militer” (( ) oleh Mao Yuanyi ( ) dari Dinasti Ming. Dalam chart itu, ryte dimulai dari Nanjing di timur, terus menuju hilir sepanjang Laut Tongkok Timur dan Luat Tiongkok Selatan, dan mencapai Jawa di sebelah tenggara, terus ke Pelabuhan Jeddah antara Selat Hormuz di Teluk Persia dan Laut Merah dan daerah pesisir Somalia, Kenya dan Tanzania di Afrika timur di barat daya, yang meliputi wilayah luas sepeti Asia Timur, Asia Selatan, Asia Barat dan Afrika timur di perairan Samudra Pasifik Barat dan Samudra Hindia utara dengan lebih dari 530 nama yang ditandai. 


“Zheng He Navigation Chart/Peta Gambar Navigasi Zheng He” ( 航海 ) digambar berdasarkan metode gambar ketika kapal bergerak sebagai pusat observasi.  Disitu ada gunung, air  dan landscape/bentang darat/pemandangan. Sehingga seperti lukisan gulungan panjang tradisional orang Tiongkok, namun setiap gunung dan bentang darat dapat memandu pelaut untuk berlayar. Ini sejenis peta operasi navigasi


Data dari bintang-bintang digambar seperti beroperasi di laut, semacam teknologi navigasi di langit, garis jarum yang ditunjukan oleh kompas maritim dan catatan yang menunjukkan jarak antara dua istana bahkan ditandai pada rute.

“Peta Gambar Navigasi Zheng He” merupakan peta gambar navigasi paling awal dari angkatan laut Tiongkok, Peta yang paling kuno dari Jalur Sutra Maritim.

Zheng He memimpin tujuh kali ekspedisi laut ke Samudra Hindia, dengan armada 200 kapal dan lebih dari 27.000 pelaut dalam setiap ekspedisinya, sehingga memperlihatkan suatu suana dan keadaan yang sungguh luar biasa megah, yang menunjukkan satu  kekuatan besar dan bersemangat.



Hanpir tidak terbayangkan bagaiman Zheng He mengomandoi dan mengendalikan armada yang begitu besar, dengan kondisi komunikasi pada saat itu, dimana belum ada radio untuk saling berhubungan, sehingga bagaimana mengatur konvoi armada ini tetap dalam formasi yang di-inginkan. Tidak ada catatan atau dokumen sejarah yang tersedia untuk itu.

Sehingga Gavin Menzies, seorang mantan Perwira AL Inggris dalam bukunya “1434 The Year A Magnificent Chinese Fleet Sailed To Italy And Ignited The Renaissance” ada menuliskan, suatu ketika pada tahun 1968, dia pernah ditunjuk oleh Admiralm Gaffin untuk mengkomandoi Armada royal Navy untuk Timur Jauh dalam operasi sehari-hari sebanyak 20 kapal. Dia menyadari betapa sulitnya mengontrol 20 kapal yang sering dengan tiba-tiba badai datang di Laut Tiongkok Selatan, yang jarak pandang menjadi hanya beberpa meter. Jarak pandang merupakan ancaman, sehingga armada harus terus mereposisikan diri.

Dan pengalaman Menzies terulang ketika mengomandoi HMS Rorqual, ketika melakukan simulasi dimana seolah-olah HMS Onslauht (kapal selam) tenggelaqm di dalam laut. Rorqual tiba pertama di lokasi, untuk suatu saat, latihan sejenak dengan operasi Armada Far East tanpa radio dan comunikasi satelit. Dia merasa sulit sekali mengendalikan formasi armadanya yang hanya 20 kapal yang terdiri dari berbagai macam kapal itu. Mneurutnya mungkin jika daalam perairan sedang tenang akan tidak terlalu sulit untuk mengontrolnya.

Dari situ Menzies membayangkan bagaimana, para admiral Zheng He pada zaman itu tanpa teknologi radio seperti sekarang dengan armada besar yang hanya mengadalan gong, bell, genderang, merpati, dan kembang api. ( lihat buku ini di halaman 12).

Para ahli hanya bisa berspekulasi menurut bahan yang relevan, pada angkatan laut zaman Ming, yang memberi komando dan perintah dengan sinyal bendera di siang hari, yang mirip dengan komunikasi melalui sinyal bendera yang diadopsi oleh kapal-kapal modern. Pada malam hari, awak kapal di kapal masing-masing yang berbeda berkomunikasi melalui lentera. Posisi dan jumlah lentera menunjukkan tingkat dan formasi kapal. Jika visibilitas kurang baik dalam cuaca berawan dan berkabut atau hujan, mereka hanya bisa memberi komando dan perintah dengan memukul gong dan genderang. Cara ini yang mungkin digunakan Zheng He dalam mengomandoi armadanya selama ekspedisi.

Namun armada Zheng He menyebar ribuan meter di laut, sehingga ia harus memperbaruhi dan menambah sesuatu yang berbeda untuk cara ini.

Pada zaman Ming Diansti, Tiongkok menyaksikan terobosan baru dalam teknologi maritim dan navigasi. Armada besar Zheng He yang berlayar di laut dengan bantuan alat navigasi yang paling canggih dan teknologi pada zaman itu.  Selain dengan navigasi darat, mereka juga mengadopsi navigasi lain seperti gambar bintang dan kompas.

Ada perbedaan antara gambar bintang operasi laut dan beberapa cara navigasi lainnya seperti Liang Tian Chi (量天尺) di masa lalu. Selain Polaris (bintang utara), bintang lainnya juga diamati, data yang berbeda dibandingkan untuk mendapatkan data navigasi yang lebih akurat dan memastikan porgram yang benar.


Teknologi navigasi astrnomi juga terjadi kemajuan pada periode ini. Lebih dari 70 indeks telah ditandai di “Bagan atau Peta Navigasi Zheng He” dengan nilai-nilai numerik dari bintang dalam gambaran operasi laut. Yang digambarkan ketinggian laut dan ukuran bintang untuk menetukan lokasi armada.


Namun dalam kenyataannya kemanjuan ini masih mengambil Polaris serta bintang lainnya sebagai obyek referensi. Kadang-kadang juga masih mengukur dua bintang sekaligus untuk memperbaiki satu sama lain agar mendapatkan data yang lebih akurat, pada semua rute utama di “Peta Navigasi Zheng He”. Mereka berlayar menurut sudut arah yang ditunjukan oleh kompas maritim.

Situasi perairan yang berbeda akan sangat berbeda ketika berlayar di laut, sehingga cara navigasi harus berubah dan disesuaikan berdasarkan keadaan khusus pada aspek yang berbeda. Dengan kemanjuan yang terus meningkat, aplikasi komposit cara navigasi, ekspedisi laut Zheng He bisa menyelesaikan tujuh kali ekspedisi laut dengan berhasil, ini adalh suatu prestasi yang luar biasa.

Dalam 30 tahun dari tahun ketiga periode Yongle untuk kedelapan periode Xuande atau tahun 1403-1433, Zheng He memimpin 7 kali ekspedisi ke Samudra Hindia, mengunjungi lebih dari 30 negara dan kawasan dan menangkap bajak laut, menyumbang mendirikan kuil dan vihara, menghancurkan kekuatan yang bernmusuhan dan membuat persahabatan dengan negara-negara sepanjang jalan, sehingga sangat meningkatkan pemahaman dan persahabatan orang Tiongkok dan negara-negara di sepanjang Jalur Sutra Maritim.

Ekspedisi Zheng He ke Samudra Hindia yang cemerlang dalam sejarah navigasi maritim Tiongkok dan bahkan dunia, telah meninggalkan tanda positif besar pada Jalur Sutra Maritim kuno.

Dalam buku Menzies “1434 The Year A Magnificent Chinese Fleet Sailed To Italy And Ignited The Renaissance” bahkan dituliskan bahwa kebangkitan ilmu pengetahuan dunia yang dimulai dari zaman Renaisan yang diwali dari Florensia, juga dipicu dengan buku-buku dan dokomen-dokumen yang dibawa Ekspedisi Zheng He selama pelayarannya mengarungi Samudra Hindia.

Mesin yang diciptakan pada era Renaisan banyak diadapatasi dari mesin-mesin kuno Tiongkok antara lain seperti mesin berikut ini :


Inovasi terpenting dalam era Renaisan adalah mesin cetak, Teknologi ini diperkenalkan dari Tiongkok tahun  1300an-1400an, sehingga menyebabkan melek huruf di Eropa meningkat dan membantu menyebarkan ide-ide Renaisan.


Pada pokoknya Jalur Sutra Maritim adalah merupakan rute perdagangan, rute komersial, yang telah mejadi interaksi dan fusi kebudayaan dari peradaban manusia. Dengan mundar mandirnya ribuan kapal dari sumua ras dan barang dari dunia yang berbeda ini yang dimuat, terjadilah petukatan peradaban. Dengan warna kulit yang berbeda, bvahasa yang belainan, keyakinan agama yang berbeda, melalui jalur maritim ini mereka saling berkenalan dan kontak.

Dari pertukaran barang berupa sutra, poreselen, teh rempah-rempah, kaca dan barang-barang lainnya dengan segala teknologi yang berkaitan dengan peradabannya, terjadi proses saling mempengaruhi dan interaksi gaya hidup dan budaya dari para pihak. Ini sem,ua tidaklah heran, karena telah terjadi sanggat jauh dan sangat lama.......


Sumber : Media TV Luar Negeri
1434 The Year A Magnificent Chinese Fleet Sailed To Italy And Ignited The Renaissance.  By Gavin Menzies. Harper Collins Publishers, 2008


No comments:

Post a Comment